Menjadi tawanan sang osis

Menjadi tawanan sang osis
Bab 10 Bertemu ibu


__ADS_3

"Iloveyoutoo" Jawab Nara dengan malu-malu.


Dengan hati yang berbunga-bunga keduanya melanjutkan rencananya untuk menjenguk ibu Nara.


Celotehan Nara membuat Reandi membuka mulutnya, yang sedari tadi ditahannya.


Tau sendirikan gimana kalo perempuan merepet, alamat kemana-mana topiknya.


“Kalo gitu pendonor buat ibu mu gak jadi”


Ancam Reandi balik membuat Nara melototi Reandi.


“iya iya gak jadi!! Dasar si tukang ngancem- ngancem kalo bukan karena ibu udah aku gaplok kamu pake teflon dapur”


Gumam Nara tapi masih terdengar oleh Reandi.


“ehh gak boleh gituh sayang, sama suami dosa loh!”


Genit Reandi sambil mencolek dagu Nara.


“nikah aja belum udah ngaku gelar suami, ini akibatnya kalo cowok kebelet nikah gelar masih calon juga ngaku suami”


Cerocos Nara masih tak karuan.

__ADS_1


“udah jangan marah-marah terus gak baik sayang” ujar Reandi mengelus kepala Nara.


Reandi turun dari mobil lalu membuka kan penutup mobil untuk mempersilahkan Nara keluar.


“kita sudah sampai ayo keluar"


Ajak Reandi sambil mengulur kan tangannya di hadapan Nara.


“ckk gak usah terlalu alay deh”


Tepis Nara dan langsung masuk kerumah sakit meninggal kan Reandi sendirian yang mematung.


Nara langsung masuk ke kamar melati nol tiga tempat ibunya terbaring di rumah sakit, setibanya dikamar rawat ibunya.


“Ibu” panggil Nara sambil mengeluarkan air mata.


“Nara sayang kenapa nangis, ibu gak papah kok kamu pasti capek yah cari uang buat biaya ibu, kalo kamu udah gak kuat gak usah biayain ibu gak mau ngerepotin kamu trus biarlah sakit ini ibu tahan” ucap ibunya Nara dengan nada lemah.


“ibu tenang aja Nara bakalan nyembuhin ibu kok, ibu bertahan yah”


pinta Nara sambil menggenggam trus tangan ibunya.


“nak ibu tau kamu anak yang pantang menyerah, tapi ibu khawatir kamu ikutan sakit kayak ibu, lagian kamu belum nikah ibu khawatir kamu gak dapet suami” ucap ibu Nara sambil tersenyum.

__ADS_1


“ibu masih sakit sempet-sempetnya bikin Nara senyum”


“Tenang aja Bu Nara dan saya akan nikah nanti malem buk” ucap Reandi yang membuka Daun pintu menghampiri Nara dan ibunya Nara.


“ehh? Dia siapa nak? Calon suamimu kah?” tanya ibu Nara.


“i-iya Bu itu calon suami Nara dia minta restu ibu buat nikahin aku nanti malam” ucap Nara sedikit agak malu mengatakannya.


“tapi kalian masih muda loh? Nikah itu berat ujiannya” ucap ibu Nara menatap Nara.


“ibu tenang aja aku udah mapan kok! Aku bisa jaga Nara dengan baik, ibu tidak usah khawatir” ucap Reandi menyakinkan ibunda Nara.


“yasudah jika lelaki yang Nara pilih pria yang sudah mapan ibu gak masalah, lagian hidup ibu gak lama lagi” ucap ibunya Nara sendu.


“ibu gak boleh gituh! Ibu gak boleh nyerah! Nara udah nemuin orang yang donor ginjal buat ibu, dan biaya untuk operasi udah ada” ucap Nara sambil berurai air mata.


“iya Bu tenang saja biaya operasi saya yang tanggung, malam ini juga ibu akan langsung di operasi” ucap Reandi mantap membuat Nara dan ibunya melongo.


“kenapa ibu dan Nara menatap saya seperti itu?” lanjut Reandi yang merasa heran.


“Kamu gak bohong kan ndi?” tanya Nara.


“iya aku gak bohong suer” ucap Reandi membuat Nara melongo.

__ADS_1


__ADS_2