Menjadi tawanan sang osis

Menjadi tawanan sang osis
Bab 14 Cinta ditolak


__ADS_3

Pukul 10 pagi Nara berniat ingin pergi menjenguk ibunya, namun ia bingung harus bagaimana cara meminta izin dengan Reandi.


“Reandi” panggil Nara saat melihat Reandi melewati nya.


“Apa?” jutek Reandi membuat Nara kurang terbiasa.


“aku mau ke rumah sakit jenguk ibu, boleh?”


“trus?”


“boleh kan kalo aku kesana?”


“boleh tapi ada syarat nya loh” kedip Reandi membuat Nara bergidik.


“aku mohon jangan lakuin lagi yah! Pliss” pinta Nara.


“ck iya udah aku gak dulu minta jatah tapi nanti malem baru minta”


“iya makasih” refleks Nara memeluk Reandi dengan erat.


“kamu kalo meluk gitu bisa-bisa aku gak tahan loh sayang” goda Reandi membuat Nara melepas pelukannya.


“kamu bisa gak sih jangan minta trus, kamu nafsuan bener yaa” kesal Nara sambil melipat tangannya di dada.

__ADS_1


“iya-iya aku akan coba sayang” ucap Reandi mengelus rambut nara.


kemudian, Nara dan Reandi menjenguk ibu Nara, hingga hari kedua ibu Nara di bolehkan pulang.


Yuna di ajak Nara untuk tinggal bersamanya namun Yuna menolak karena menurutnya ia lebih suka diam di rumah mendiang suaminya.


3 bulan berlalu kehidupan Nara dan Reandi begitu baik, baik tidak dalam hati Nara.


Selama pernikahan tersebut, Nara merasa dirinya terkekang dan Reandi masih tidak berubah dengan nafsunya yang naik turun.


Namun, Reandi berencana ingin menyatakan rasa cintanya pada Nara.


“Nara ada yang ingin aku bicarain sama kamu”


“Ada apa?” tanya Nara.


“Aku Cinta sama kamu, awalnya aku gak ada rasa sama kamu hanya jadiin kamu mainan aku, tapi lama-kelamaan aku punya rasa sama kamu, setiap kali aku lihat kamu tersenyum aku juga bahagia, trus kalo aku lihat kamu sedih aku juga sedih”


Ungkap Reandi tanpa gugup sedikit pun, ia memegang bunga mawar.


“Emhh kamu serius?” tanya Nara.


“Mungkin kamu bakalan kecewa sama aku, maafin aku Reandi aku gak cinta sama kamu, hati ku masih milik seseorang”

__ADS_1


Bohong Nara agar dia terlepas dari Reandi, dan membuat Reandi melepaskan tangan nya.


“Kamu Bohongkan! Kamu bohong! Selama 3 bulan ini apa kamu gak ada rasa sedikitpun” marah Reandi melempar bunga yang ada di genggamannya.


“Aku gak bohong! Aku memang cinta sama seseorang tapi itu bukan kamu” Berbagai alasan Nara berbohong dilalukan, kembali membuat Reandi makin marah.


Dia menutupi bahwasanya hatinya juga mengatakan iya, tapi sifat Reandi yang selama ini tidak bisa diubah.


“cek.. aku gak peduli hati mu milik siapa! Tapi kamu tetep akan jadi milik ku” emosi Reandi Menggila.


“Meskipun aku milik kamu tapi tetep aja hati ini milik orang lain” kata Nara.


“Gak akan ada lelaki yang bakal milik kamu kecuali aku Nara! kamu milik ku seutuhnya! Lelaki manapun yang ada di hati kamu harus mati”


teriak Reandi sambil mencengkram bahu Nara dan menghempaskan nya ke bawah.


“Reandi kamu sadar!” tatih Nara mencoba berdiri.


“aku tanya sama kamu! Kenapa kamu gak ada rasa sedikit pun buat aku!” bentak Reandi mencengkram kembali pundak Nara.


“Itu karena sifat kamu yang keterlaluan! Kamu selalu ngancem-ngancem aku untuk mendapatkan sesuatu, aku muak! Dan kamu selalu minta di layani trus, kamu gak bisa tahan nafsu kamu sendiri!” teriak Nara membuat Reandi terdiam.


“apa kamu gak ngerti perasaan ku Reandi!

__ADS_1


Setiap aku pengen apapun harus izin ke kamu, aku capek di kekang terus” bentak Nara dengan derai air mata yang telah membanjiri pipinya.


__ADS_2