
“Kalau mau kamu, kita cerai. cerai aja, tapi jangan harap kamu dapat harta sebagian dari aku,”
Ujar Niko dingin ia pergi meninggalkan Diana sembari melempar surat perceraian yang ia siapkan sejak lama.
“Lepasin aku Reandi. Kamu bikin aku terluka lagi, mundur lagi, hancur lagi, menyerah lagi, takut lagi kacau semuanya”
Tangis Nara pecah, ia mendorong kasar Reandi hingga terduduk.
“Nara, aku mohon percaya sama aku,”
Mohon Reandi, dia bangkit dan memeluk Nara yang akan pergi.
‘Omg! Ternyata Diana hamil anak ketua osis?'
‘Tampang tampan, kelakuan bej4d’
‘Hari kelulusan malah jadi kayak acara sinetron’
‘Pasangan pengkhianat, kasian banget nara’
‘Pengen nampol muka si ketua osis’
‘Si Diana enggak tahu malu, ngaku langsung’
‘Ini acara pelulusan, bukan acara penghianatan’
‘Kalo sampe ini kedengaran sampai luar. Wow’
‘Aib sekolah’
‘Baru lulus, kena kasus’
‘ternyata Niko sama Diana udah nikah’
‘Diana ganjen bener, cewek gatel’
‘Masih muda udah nikah, selingkuh lagi’
__ADS_1
‘kalo mau selingkuh mah, gak usah nikah’
Bisik-bisik para siswa, bahkan para orang tua yang melihat ikut berbisik, membuat para guru kehilangan muka.
Reandi meminta maaf karena telah merusak acara pelulusan, namun itu tidak bisa mengubah masalah yang sudah terjadi.
Nara sudah pergi entah kemana, Reandi sibuk menjelaskan situasi tadi meskipun sudah tertangani, tapi reputasi sekolah menjadi buruk di mata orang tua siswa dan siswi.
Setibanya dikediaman Reandi, Nara dengan amarahnya yang menggebu-gebu langsung memasukkan bajunya kedalam koper miliknya.
Ingin segera bergegas pergi ke rumah ibunya untuk menenangkan diri.
“Nara, tunggu kamu jangan pergi!!!”
Ucap Reandi ia menghadang Nara yang membawa koper.
“Untuk apa? Aku pertahankan pernikahan kita ini? Sebentar lagi juga kamu bakalan nikah sama Diana? Iyakan?”
Ucap Nara ia berusaha untuk keluar.
“Dengerin aku, Belum tentu tes kehamilan itu asli. Kamu kan tau bisa aja Diana palsukan, kalaupun itu asli bukan berarti anak aku,”
Eum, iya juga sih. Bisa aja itu palsu? Batin Nara.
“Jadi, tolong tinggal di sini. Jangan pergi!” Reandi memeluk Nara ia tak rela jika Nara pergi dari kehidupannya.
“Aku bakalan selidiki diam-diam, siapa anak di kandungan Diana. Kamu bertahan ya,”
Bisik Reandi di telinga Nara.
“Oke, aku setuju. Aku bakalan tinggal di sini dulu,”
Jawab Nara ia mencoba untuk bertahan dan bersabar.
Hari menjelang sore pun tiba, Reandi yang sedang tidurpun terbangun. Tamu yang tak diundang, seenaknya membuat keributan dirumahnya.
“Reandi, keluar kamu!”
__ADS_1
“Reandi, keluar kamu!”
“Keluar!!!”
Sialan! Berisik banget, untung istri ku enggak bangun.
Kesal Reandi ia pergi keluar dari kamar, terlihat di sana ibu Diana dan diana, sedang di hadang oleh para bodyguard Reandi.
“Reandi! Kamu harus tanggung jawab!”
Ucap ibu Diana, dia menatap Reandi garang. Saat Reandi talah menghampiri tamunya tersebut.
“Ssstt, jangan berisik istriku lagi tidur. Bawa mereka ke luar, aku ingin bicara sesuatu dengan mereka,” perintah Reandi untuk pengawalnya.
“Mau apa kalian kesini?”
Tanya Reandi, yang kini tengah berada di luar rumah.
“Tanggung jawab!!”
Ucap ibu Diana ia melempar tes hasil kehamilan.
“Oh, ini?” dingin Reandi.
“Kamu harus! Nikahin putri saya!”
Geram ibu Diana, sambil menggerakkan meja.
“Cek, untuk apa aku menikahi putri lacur mu?” hina Reandi ia melipat tangannya di dada, dengan ekspresi datar.
“Apa kau bilang?! Putriku bukan pelacur, tapi istrimu itu pelacur!!”
Tuduh ibu Diana, ia tak rela anaknya di tuduh pelacur oleh Reandi.
“Bukan kah kenyataan? Dia kan wanita malam? Bisa saja anak yang di kandungnya, anak pria hidung belang,” ejek Reandi.
“Kau! Kau! Beraninya bilang seperti itu? Putriku orang yang suci, dia sudah berumah tangga dengan Niko, kau malah menghancurkan kebahagiaan putriku?!!!”
__ADS_1
Emosi ibu Diana sambil mengepalkan tangannya.