Menjadi tawanan sang osis

Menjadi tawanan sang osis
Bab 18 Sabar


__ADS_3

“Ck tentu aja steril, kalo gak steril mana mungkin ada yang beli?” sewot Nara.


“Yaudah ayok deh, sebentar–” ujar Reandi sambil mengambil benda aneh di dasbord mobil.


“kamu bawa benda apa itu?” tanya Nara bingung.


“Pengukur kebersihan”Jawab Reandi.


“Kamu mau ngapain bawa yang kek gituan?” tanya Nara sambil tepuk jidat.


“Mau ngukur kebersihan, takutnya gak steril, bahaya nanti kalo ada kumannya kan bisa sakit kita”jawab Reandi.


“Sakit itu takdir, percuma aja kamu bawa alat itu” geleng Nara sambil mendelik.


“Kan jaga-jaga” bela Reandi pada dirinya.


“udah ah, pusing Mending beli ke warung langsung, aku malas dengan sikap gila bersih kamu” ujar Nara turun membuka pintu mobil, dan diikuti Reandi di belakang.


“Sayang liat kebersihannya kurang bersih” tunjuk Reandi pada alat pengukur kebersihan.


“Kamu kesini mau makan? Atau mau jadi OB?” tanya Nara kesal dengan sikap Reandi.


~Flasback off


“Udah jangan diinget, ayo makan” ajak Reandi turun dari mobil diikuti oleh Nara dari belakang.


“Ngomong aja malu” dengkus Nara.

__ADS_1


“Kamu yakin gak papah Reandi? Bukannya kamu gak suka tempat makan yang kek gini?” tanya Nara.


“Iya aku yakin, udah lah cepetan” ujar Reandi sambil menggandeng tangan Nara dan masuk warteg, Nara dan Reandi memilih kursi depan.


“Neng aa kasep gelis, Bade mesen apa?” tanya seorang perempuan paruh baya sambil membawa catatan.


“Mau es teh, sama nasi padang” pesan Nara,pada perempuan paruh baya tsb.


“Kalau aa kasep mau pesan apa?” tanya perempuan paruh baya.


“Nara, dia ngomong apa? Aku gak ngerti, coba kasih tau aku” bisik Reandi di telinga Nara.


“dia bilang, kamu mau pesan apa?” bisik Nara.


“Saya samakan saja dengan dia”jawab Reandi.


“Udah belum ngomongnya? Istri saya laper buruan siapin” usir Reandi membuat perempuan paruh baya itu pergi meninggalkan mereka.


“Aduh anak jaman sekarang mah masih pacaran aja ngaku suami istri, giliran udah mantan mah malu-maluin diri sendiri” ucap perempuan paruh baya itu.


“Saya masih denger” ucap Reandi, membuat perempuan paruh baya itu berhenti dengan ucapannya.


“Sayang kenapa kamu mau sih makan di tempat kayak gini? Pelayan nya banyak omong kesel aku” kesal Reandi sambil merangkul pinggang Nara.


“Eh, bukannya kamu sendiri yang ngajak aku kesini?” tanya Nara bingung karena Reandi yang mengajaknya makan, lalu kenapa Reandi menyalahkannya.


“Ehm, I-iya” jawab Reandi.

__ADS_1


‘Sabar Reandi sabar, Ingat harus jadi tipe idaman Nara itu harus sabar’ batin Reandi sambil mengelus dadanya.


“kamu kenapa mengelus dada? Jantungan kah?” tanya Nara heran.


“enggak papah”bohong Reandi sambil tersenyum.


“Permisi! Kak numpang tanya? Kalo di sini ada toilet gak?” tanya Nara pada seorang waiters yang melewati mejanya.


“Ada kak, tapi di samping warteg” ucap waiters tersebut.


“Makasih udah kasih tahu” ucap Nara sambil tersenyum, pelayang itu pergi.


“Mau aku anter?” tanya Reandi.


“Gak usah” tolak Nara sambil tangannya menyilang.


“kenapa gak boleh? Lagian sering liat kok” mesum Reandi mengedipkan sebelah matanya.


“Perhatikan tempat! Ini tempat umum bego” ucap Nara sambil memukul kepala Reandi dengan kasar.


“Aww sakit tau” Ringis Reandi sambil memegang kepalanya.


“kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana” kesal Nara sambil menunjuk muka Reandi.


“tenang aja aku gak akan ilang kok” kedip reandi.


“Ini pesanannya udah jadi” ucap pelayan muda yang mengantarkan makanan, di meja.

__ADS_1


__ADS_2