Menjadi tawanan sang osis

Menjadi tawanan sang osis
Bab 20 Piknik


__ADS_3

“Bisa gak sih, Tu mulut lemes bener minta di cor kali” ucap Nara sambil membekap mulut Reandi.


“Bukan di cor tapi di cium sayang”


Goda Reandi, membuat Nara ingin menjitak kepala Reandi.


“Bisa gak sih kurangin dikit sifat mesum kamu”


ujar Nara yang tengah bersiap untuk menjitak kepala Reandi.


“Eit, jangan sayang dosa loh mukul kepala suami” goda Reandi sambil merangkul pinggang Nara.


“Jangan pegang-pegang itu tangan mau gue potong apa.”


Ancam Nara pada Reandi sambil melotot.


“Sayang mumpung semua sibuk main Hp aku minta yang atas boleh gak?”


Mesum Reandi sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Maksudnya?”heran Nara merasa bingung ia tak mengerti.


“Yang ini sama yang ini”


ucap Reandi menunjuk bibir dan gunung kembar tersebut.


“Gak boleh!” tolak Nara.


“Aku udah satu Minggu gak nyentuh kamu, masa minta yang atas ga boleh.”


bisik Reandi di telinga Nara.


“Ga boleh!” bisik Nara lagi.


“Boleh yah.” pinta Reandi memelas.


“Ck katanya kamu bakal sabar” Kesal Nara.

__ADS_1


“Tapi ini kan menyangkut jiwa ke lelakian aku”


bisik Reandi ia meniup tengkuk leher Nara.


“Tapi masalahnya, kalo kamu buat kayak gitu disini. ketahuan gimana?”


Tanya Nara mencoba mempersulit Reandi.


“Tenang gak bakal ada yang tau” bisik Reandi.


“Gimana?” tanya Nara bingung.


“Begini” Bisik Reandi.


Ia melingkar kan tangannya di pinggang Nara, dan masuk ke dalam baju, ia meremas gunung kembar Nara dengan satu tangan, Reandi melirik teman sejajaran sampingnya tertidur.


******* kecil Nara berusaha untuk tidak menimbulkan suara, karena tangan sebelah Reandi trus memainkan kedua payudara Nara secara bergiliran.


Reandi mencium bibir Nara, lalu tangannya turun kebawah menyelipkan nya di bawah rok Nara, dan memainkan kewanitaan Nara.


Pinta nara pada Reandi dengan berbisik, ia merasa akan keluar di puncak kenikmatan.


Tapi tak dihiraukan oleh Reandi.


“ahh uh...” Desah Nara menggigit bibir bawahnya.


“Sayang kamu udah puas, giliran aku”


Goda Reandi, sambil menarik tangan Nara dan menyelipkan di bawah tutupan jaket yang di sengaja oleh Reandi.


“Kamu–” dengkus Nara kesal.


“Pegang jangan lupa–”


Bisik Reandi tergantung, Nara mengerti ia pun memainkan adik Reandi dengan perlahan


Terlihat Reandi mukanya memerah menahan untuk tidak mendesah.

__ADS_1


“Kita sudah sampai” ucap sopir bus membuat Reandi yang akan berada di puncaknya langsung menggantung.


“Sial” umpat Reandi dalam hati dengan kesal ia membenarkan celananya dan mulai maju Kedepan untuk mengabsen kembali.


ia tidak bisa konsentrasi saat mengabsen karena birahinya tertunda.


“Dida aduliiya” ucap Reandi tidak konsen.


“Dinda ayulia kak” ucap seorang siswi.


“Oh iya, ma–af saya nggak konsen. Diana kamu yang absen aku ada urusan sebentar”


Ucap Reandi menyerahkan pada Diana.


“kamu gak papah kan Andi?” tanya diana.


“aku gak papah, ada urusan sebentar” ujar Reandi buru-buru pergi.


“Ck kasian bener” gumam Nara sambil geleng-geleng kepala melihat Reandi.


'Sial' Gerutu Reandi di kamar mandi.


“Kenapa sih selalu sial giliran gue, yang sabar yah, nanti juga kamu bakalan masuk”


Gumam Reandi sambil mengelus adik nya


“Berat banget ni koper, padahal bawaannya sedikit” dengkus Nara sambil menarik kopernya.


“Caelah bawaan banyak banget dah lu mau piknik, apa mau pindah rumah”


Ledek Linda sambil tertawa melihat Nara.


“Temen lagi kesusahan bantuin kek, malah ketawa emang kawan lacknat”


Kesal Nara membuat Linda menghentikan tawanya dan membantu Nara menurunkan kopernya.


“Dah beres tinggal kamu tarik” ucap Linda.

__ADS_1


__ADS_2