Menjadi tawanan sang osis

Menjadi tawanan sang osis
Bab 41 Membunuh Reandi


__ADS_3

“Ikut aku, aku bakalan nunjukin sesuatu ke kamu,”


Nara di bawa Ravandi menuju ruang bawah tanah, di perjalanan tersebut Nara bertanya-tanya sebenarnya ia akan di bawa kemana.


Hingga Nara melihat seseorang yang kini di hadapan nya.


Tangan nya dirantai, kakinya di paku, membuat Nara menutup mulut tak percaya melihat seseorang yang begitu familiar.


Kepala orang tersebut tertutup kain hitam, tapi Nara bisa tau siapa orang itu.


“Sayang musuh aku sedang menderita, dia menunggu untuk di bunuh sama kamu,” ucap Ravandi.


“Reandi,” gumam Nara.


“Sayang, dia susah banget loh. Buat kasih Sempel jarinya, coba kamu yang melakukannya,”


Pinta Ravandi membuat Nara diam tak bergeming.


“Sayang, kamu nggak usah khawatir dia gak bisa ngomong kok,” ujar Ravandi.


“Bisa, lepasin penutup mukanya?” pinta Nara.


“Boleh, bodyguard lepasin penutup wajahnya,” perintah Ravandi.


Terlihat dengan jelas kini wajah Reandi, keningnya berdarah, dan matanya memerah ia menatap nara.


“Ayo sayang, lakukanlah. sekalian hukum dia karena telah menodai tubuh yang kamu jaga selama ini.”


“Reandi, lihat dengan jelas dia orangku, bukan gadis mu,” cibir Ravandi.

__ADS_1


“Ayo tunggu apa lagi?”


Nara berjalan menghampiri Reandi, dengan membawa berkas pengalihan perusahaan ditangannya.


Tatapan Nara dan Reandi bertemu, kemudian Nara meletakan cap tangan Reandi pada Sempel dan menempelkannya di berkas, dan menyerahkan nya pada Ravandi.


“Wow, Wow udah aku bilang, dia gak bakalan nolak. kalau bukan kamu yang dia cintai nya,” tepuk tangan Ravandi.


“Jadi sayang karena udah berhasil, selanjutnya kamu bunuh dia,” perintah Ravandi pada Nara.


Nara mengambil dua bilah pisau, dan menancapkan nya di pundak dan perut.


Membuat Nara merasa bersalah dan menyesal, dan langkah terakhir Nara mengambil pedang dan menancapkan nya di dada Reandi.


Jlebbb


Reandi mengeluarkan darah dari mulutnya bahkan darahnya muncrat ke wajah, Reandi hanya tersenyum dan menutup mata.


“Sayang kamu, ngimpi apa sih? masih tidur tapi malah cium-cium aku,”


Kesal Reandi, Nara yang mendengar suara familiar ia mengerjakan matanya.


“Reandi,” ucap Nara ia langsung memeluk Reandi.


“Cie, ngimpiin aku ya,” goda Reandi.


“kamu kenapa?”


Tanya Reandi heran yang melihat Nara yang tiba-tiba memeluknya.

__ADS_1


“Untung lah cuman mimpi,” ucap Nara.


“Mimpi apa sayang? Sampe kamu ngelindur?” tanya Reandi.


“Ngelindur juga enggak,” sewot Nara.


“Kamu masih nggak mau ngaku? Tadi kamu ketiduran di taman. trus aku bawa kamu pas aku gendong. Kamu mukul pundak aku, trus mukul perut aku, mana kenceng lagi. untung aja enggak jatuh, trus barusan aku mau rebahin kamu, lah kamu nya malah cium aku. tanggung jawab loh kalo adek aku bangun,” bisik Reandi di telinga Nara.


“Siapa adik kamu?” polos Nara.


“Kamu udah ngerti, tapi masih pura-pura polos,” seringai Reandi, ia memegang pinggul Nara dan melepas kancing rasleting celananya.


“Kamu ngertiin?”


goda Reandi membuat Nara menatap adik Reandi.


“Punya barang, baperan banget. minta di giling pake mesin giling,”


Cibir Nara ia mengalungkan tangan nya, ke leher Reandi membuat Reandi tersentak kaget.


“Sayang, tumben hari ini kamu inisiatif?”


Goda Reandi ia memegang dagu Nara dan mencium bibir nya.


“Jadi, malam ini biarin aku yang main,”


Ujar Nara ia membalikan tubuh Reandi menjadi di bawah ia di atas.


“Oh, ternyata sayangku. sudah banyak belajar cara menyenangkan suami ya,”

__ADS_1


Kedip reandi dengan wajah memerah.


__ADS_2