
“Enak enggak masakan aku?” tanya nara.
“An-anu–”
Reandi ragu untuk menjawab.
Gimana ini? Jawab enggak marah, jawab iya aja. Batin Reandi.
Akhirnya Reandi bohong, ia tak mau Nara marah dan kecewa.
“I-iya enak,”
“Kalo gitu, besok-besok aku masakin lagi,”
Sahut Nara girang, membuat Reandi bergidik ngeri.
Ya Tuhan, tolong hambamu ini selamat kan lah aku. batin Reandi ia ingin menangis.
“Aww....”
Rintih Nara ia merasakan sakit di perutnya.
Meringis Nara sembari memegang perutnya sambil mengeluarkan air mata.
“Kamu, kenapa sayang?”
Tanya Reandi khawatir karena Nara tiba-tiba merasa kesakitan di bagian area int.
“Kayaknya, aku datang bulan, ini sakit....”
“Sayang, kita ke dokter aja yuk. aku khawatir kamu kenapa-kenapa,”
Ucap Reandi ia cemas melihat Nara menahan rasa sakit.
“I-ini udah hal wajar, namanya perempuan,”
“Pelayan... Pelayan....”
Teriak Reandi dengan ekspresi panik, para pelayan pun menghampiri reandi.
“ada apa tuan?” tanya pelayan itu.
“Nara sedang datang bulan, dia kesakitan. bisa kamu tolongin cara meredakannya?”
Tanya Reandi ia merebahkan Nara di sofa ruang tamu.
“Ada, saya punya obat pereda sakit haid di kamar,” jawab seorang maid.
“Cepat ambilkan, kamu tenang aja aku bayar,”
“Sayang, bertahan ya,”
ucap Reandi , dan maid itu segera pergi dan kembali membawa obat pereda nyeri haid.
Reandi menyuapin obat dan minum ke mulut Nara.
“Sayang, kamu udah agak mendingan? Kalo enggak mendingan sekarang juga pelayannya aku pecat,” ujar Reandi.
“Aku udah mendingan, tapi–” ucap Nara tergantung.
“Tapi apa?" Heran Reandi.
__ADS_1
“Reandi, aku mau kamu beliin aku pembalut,”
Bisik Nara malu-malu.
“Kamu tenang aja, biar mereka yang beli,”
Tunjuk Reandi dengan mudahnya, pada kedua pelayannya.
“Enggak mau! Aku maunya kamu beli sendiri?!” geleng Nara.
“Ta-tapi aku lelaki sayang, bisa-bisa pesona aku luntur,”
Tolak Reandi membuat Nara membulatkan kedua bola matanya.
“Hiksh... Hiksh... Kamu enggak cinta sama aku?? katanya kamu sayang sama aku, cuman tolong beliin pembalut. kamu enggak mau? kamu jahat, cuman perhatiin pesona tampan kamu sama pamor kamu, hiksh... Kamu malu ya punya aku,”
Ucap Nara ia menangis tersedu-sedu membuat Reandi menutup wajah, sedangkan para maid menahan tawa.
“Sayang, aku cinta sama kamu, kamu jangan marah dong!” bujuk Reandi.
“Enggak mau, kamu enggak sayang sama aku. liat ini,”
“Beruntung banget dia, dapet cowok yang enggak protes pas minta di beliin pembalut sama pacaranya, hiksh....”
Lanjut Nara ia menyerahkan ponselnya pada Reandi dan memperlihatkan video seorang pria tanpa malu membeli, pembalut untuk pacaranya.
Sikap Nara, membuat Reandi ingin sekali marah dan mencekik lelaki yang ada di video. karena telah menarik simpati Nara.
“Iya- iya aku beliin kamu jangan marah, jangan Nangis,”
“Kamu tunggu di sini, aku mau beli dulu,”
Reandi pergi keluar dan langsung mengambil kunci mobilnya.
Setibanya di Super market. Banyak pasang mata yang melihat Reandi, serta berbisik-bisik.
‘Itu cowok lagi ngeliatin, pembalut dari tadi’
‘dia pasti di suruh pacarnya’
‘ah, cowok ganteng beli pembalut’
“Emm, embak mau tanya pembalut itu tempatnya ini bukan?” tanya Reandi pada seorang wanita.
“Iya, itu,”
“i- iya. makasih kak,” ujar Reandi malu.
“Tapi, masalah yang selanjutnya, yang mana? Ini banyak mereknya,”
Bingung Reandi ia menatap banyak pilihan bahkan merek di sana.
Tak diambil pusing, Reandi ia mengambil troli dan memasukannya segala jenis pembalut.
“Kok gini aja, di pusingin. ambil semua aja,”
‘OMG! Gila itu cowok beli semua pembalut,’
‘mungkin buat stok di rumah, biar nggak bulak balik’ bisik orang-orang menatap Reandi.
“Ini, kak”
__ADS_1
Ujar Reandi ia menyerahkan troli ke meja kasir.
“Pffftt, hahahahha”
Tawa kasir itu pecah, sedangkan Reandi yang di tertawakan langsung melotot dan mencibir.
“Kerja yang bener, kamu jangan ketawa ini saya. bisa-bisa kamu di pecat sama atasan, cepetan jangan lambat istri saya nunggu,”
kesal Reandi ia mencoba menahan emosi untuk tidak membuat keributan.
“Totalnya, satu juta seratus enam ribu,” ujar kasir itu.
Reandi keluar dari super market banyak sekali plastik besar di tangannya, dan memasukannya ke mobil.
Hela nafas Reandi, dengan muka yang merah padam.
“Tugas selesai,”
Sesampainya dirumah, Reandi bohong ia tidak ingin menceritakan kejadian memalukan tadi.
“Sayang, kamu udah pulang, wajah kamu kok merah banget?”
Tanya Nara melihat Reandi keluar dari mobil.
“Enggak papah, ini cuacanya panas banget,”
“Mana sayang pembalutnya?” tanya nara.
“Sebentar,”
Ujar Reandi ia mengambil 4 keresek besar, dan menyerahkannya ke Nara.
“Sa-sayang? Kamu beli kok semuanya? Ini kenapa banyak kali?,”
ujar Nara ia melongo melihat 4 keresek besar di hadapannya, sedangkan para bodyguard yang melihat menahan tawa.
“Abisnya kamu enggak bilang soal merek, makanya aku beli semua,” ujar Reandi jujur.
“Trus? Kenapa kamu nggak tanya dulu merek nya apa? Kan kamu bawa ponsel?” ujar Nara.
“aku lupa,” ujar Reandi.
“Ck, memang kalo nyuruh laki enggak bener. aku iri sama cowok yang di video begitu pengertian,” puji Nara membuat Reandi marah.
“Sayang, setelah perjuangan aku beli pembalut di super market, kamu masih puji cowok yang di video. kamu tenang aja aku bakalan bunuh dia kok,”
Muram Reandi membuat Nara tersadar.
“Beli begitu aja kamu udah baper, apalagi kalo aku suruh kamu nyebur ke kawah gunung berapi,” emosi Nara.
“Kamu langsung marah aku puji cowok lain, cuman puji bukan suka. kamu malah marah, kalo kamu enggak suka sama sikap aku. kita pisah,”
Ujar Nara emosi yang meluap-luap.
“Sa-Sayang kamu jangan marah dong,”
Ujar Reandi ia menenangkan istrinya.
Eh, tunggu dulu, harusnya aku yang marah.
bukan dia? Batin Reandi ia tersadar setelah meminta maaf pada istrinya.
__ADS_1