Menjadi tawanan sang osis

Menjadi tawanan sang osis
Bab 37 Pertemuan Nara dan Ravandi


__ADS_3

“Sayang, nanti malam kamu harus siap-siap ya”


Ujar Reandi ia mengelus kepala Nara.


“Mau kemana?” tanya Nara.


“Kita kerumah kakak ku. kamu belum pernah bertemu dengannya kan”


Ujar Reandi ia memeluk Nara.


“Emm, kakak kamu itu yang kemarin bicara sama kamu?” ujar Nara.


“Ia kamu udah liat?” tanya Reandi.


“Enggak, liat jelas soalnya dia berhadapan sama kamu,”


Ujar Nara ia hanya menatap punggung ravandi saja.


“Kalo gituh, siap-siap Gih,” perintah Reandi.


“Oke,”


Malam telah tiba, Reandi dan Nara bersiap-siap akan menemui kakaknya.


Reandi mengulurkan tangannya, sembari bertanya kepada Nara.


“Sayang, kamu udah siap,”


“tentu,” jawab Nara sambil tersenyum.


Nara dan Reandi masuk ke mobil. di dalam perjalanan tidak ada percakapan diantara mereka, hingga mereka sampai di kediaman Ravandi kakaknya Reandi.


Sesampainya dirumah Ravandi, para pelayan berjejer menyambut kedatangan Nara dan Reandi.


Membuat Nara terpana dengan rumah yang ada di hadapannya.


“Ayo turun,”


Ajak Reandi ia mengulurkan tangannya pada Nara, dan Nara menyambut uluran Reandi.


“Selamat datang, tuan muda Reandi dan nyonya Nara,”


“Sayang,” bisik Nara.


“Apa?” tanya Reandi.


“Aku mau ke toilet, tapi bingung di mana toiletnya,” ujar Nara.


“Mau aku anter enggak?” tanya Reandi.


“Gak usah, kamu suruh maid aja yang nganter aku,” bisik Nara.


“Baiklah,” jawab Reandi pasrah.

__ADS_1


Nara diantar maid di belakangnya menuju kamar mandi, setelah selesai buang air kecil Nara keluar dari kamar mandi.


Nara tak begitu memerhatikan Kedepan, ia sibuk mengelap tangannya menggunakan tisu, dan bertabrakan dengan seorang pria.


“Aww,” ringis Nara ia memegang kepalanya.


“Nona, anda baik-baik saja?”


ujar suara bariton yang begitu menggelegar.


“Saya, baik baik saja,”


Ujar Nara ia mendongakkan wajahnya, ia terkejut melihat orang yang berada di depannya saat ini.


“Kamu–”


bengong Nara ia menatap pria itu begitu lama, hingga.


“Ravandi?”


Lanjut Nara ia menatap lekat pria yang ada di hadapannya.


“Nara, lama gak ketemu. dan ternyata kamu istri Reandi yah, Ck.. maaf yah saya gak hadir di pernikahan kamu sama Reandi,”


Senyum Ravandi membuat Nara merasakan sakit, ia menahan untuk tidak menangis di hadapan Ravandi.


“Kak Rava, kamu–”


Gumam Nara ia trus menatap Ravandi tanpa berkedip.


ujar Ravandi ia mencekal lengan Nara dan membawanya dari hadapan maid.


“Tuan, anda ingin membawa nyonya kemana?”


Ucap maid itu ia mengejar Ravandi dan Nara.


“Aku hanya ingin membicarakan sesuatu dengan dia. kamu bilang saja pada adikku, aku sedang bicara penting dengan Nara istrinya Reandi diruang kerjaku.”


Perintah Ravandi ia menghentikan langkahnya.


“Baik,” ujar maid itu pergi.


“Nara,”


Ujar Ravandi ia memeluk Nara kuat, dan Nara membalas pelukannya.


“Ravandi,” panggil Nara lemah.


“Maaf sayang, aku malah melibatkan kamu, ini semua salah aku,” ujar Ravandi ia menatap Nara sendu.


“Kamu enggak boleh, nyalahin diri sendiri,”


Sendu Nara membuat Ravandi, menciumnya.

__ADS_1


“hufhh... Hah....” sengal Nara ia kehabisan nafas.


“Maafin aku,”


ucap Ravandi ia menempelkan kepalanya di kening Nara.


“Kamu kenapa harus minta maaf?” ujar Nara sendu.


“Aku minta maaf. demi membunuh Reandi, aku harus menggunakanmu,” ujar Ravandi ia memangku Nara di pangkuannya.


“Kamu pasti tersiksa kan, aku tau tubuh kamu udah sepenuhnya milik Reandi, yang lebih parahnya lagi kamu dan dia menikah,”


sakit hati Ravandi ia memegang dadanya terasa sesak.


“Iya, aku udah enggak pantas lagi jadi wanita kamu,” sendu Nara pelupuk matanya berembun.


“Enggak. Meskipun tubuhmu sudah di gunakan oleh Reandi. tetap saja, Aku tetap mencintai kamu,”


ujar Ravandi ia mendongakkan wajahnya.


“Apa kamu mencintai dia?” tanya Ravandi dengan tatapan sendunya.


“Aku–” ragu Nara untuk menjawab.


“Kamu pasti sudah jatuh cinta, jika kamu tidak mencintainya, mungkin kamu sudah membunuhnya sejak awal,” ujar Ravandi ia memalingkan wajah.


“Aku tidak mencintainya, aku hanya mengulur waktu dan membunuhnya di saat yang tepat,”


Bohong Nara ia memegang wajah Ravandi dan tatapan mereka bertemu beberapa saat hingga.


Tok tok tok


“Kak,” panggil Reandi di luar.


“Masuk,” jawab Ravandi.


Cklek


“Kak, kamu ngobrol apa sama istriku?”


Tanya Reandi ia bingung melihat Nara yang terlihat seperti tawanan sedang bersimpuh di lantai, sedangkan Ravandi duduk di atas meja memegang pistol.


“Apa kakak menakuti istriku,”


ujar Reandi ia memapah istrinya untuk berdiri dan memeluknya di hadapan Ravandi.


“Aku hanya menanyakan beberapa hal,” ujar Ravandi.


“Menanyakan hal apa? Sampai membuat kakak memegang pistol di tangan,” heran Reandi.


“Aku hanya menanyakan, kamu cinta atau enggak sama adek aku,” ujar Ravandi sambil tersenyum.


“Oh, kapan makan malam di mulai?” tanya Reandi.

__ADS_1


“Oh iya, kakak hampir lupa, astaga! Ayo kita makan malam bareng,” ucap Ravandi sambil tepuk jidat.


__ADS_2