Menjadi tawanan sang osis

Menjadi tawanan sang osis
Bab 24 Setuju


__ADS_3

“Saya yang Poto sendiri kebetulan.” datar Reandi.


“Jadi, kamu tau Sayang?” tanya Nara pada Reandi.


“Tau lah, pak Johan si muka dingin berbuat tak senonoh kalo di sebatik mungkin dia jadi seleb” ledek Reandi membuat pak Johan gemetaran ia tak menyangka perselingkuhannya diketahui muridnya.


“Jadi pak, masih mau ngasih tau pak polisi?”


Tanya Reandi sambil menyeringai.


“Kalo bapak gak ngasih tau orang tentang hubungan kami, mungkin saya gak akan nyebarin kebusukan bapak”


Lanjut Reandi sambil menyimpan ponselnya.


“Kamu juga busuk Reandi, kamu belum menikah.” bantah pak guru menunjuk Reandi beringas.


“Ck saya gak sebusuk kamu pak, saya sudah nikah, sedangkan bapak belum menikah dengan Bu eliza” jawab Reandi santai.


“Jadi pak setuju enggak, kalo enggak setuju gak papah, meskipun orang lain tau tapi gak akan ngaruh buat saya, dan mungkin karir bapak sebagai guru rusak”


Ucap Reandi sengaja memanas-manasi pak Johan.


“Saya setuju, asalkan kamu jangan kasih tau orang lain tentang hubungan saya”


kesal pak Johan sambil mengepalkan tangan nya.


“Sepakat” tawa Reandi.


Tak selang berapa lama bantuan pun datang.


Reandi memapah Nara dan mendekati tebing tinggi, disana para anggota OSIS lelaki sedang memberikan tali pada Reandi.


“Nara kamu ikut sama aku, soalnya aku tau luka kamu masih sakit”


ujar Reandi sembari mengikat tali di pinggang mereka berdua.


“Woy Reandi ******, berat kali kalian woy. kamu sengaja pastikan” ujar ilham berteriak.


“Iya sengaja, soalnya Nara badannya sakit, butuh bantal”


Cengengesan Reandi membuat ilham memutar bola matanya malas.


“Udah belum woy ngiketnya” teriak Ilham diatas jurang.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama Reandi menggikat tali tersebut. Dilanjutkan dengan memberi kode bahwa telah siap untuk ditarik.


“Reandi, gak mungkin kan adik kamu bangun lagi” bisik Nara di telinga Reandi ia merasakan ada yang keras di sana.


“Iya bangun.”


Jujur reandi, membuat Nara menggeleng kepalanya.


“Jangan lagi, aku gak mau”


Ucap Nara memonyongkan bibirnya.


“Mau aku cium?” Goda Reandi.


“Woy ******.. jangan mesra-mesraan, kami yang narik keberatan”


Ucap Ilham yang tengah menarik mereka.


“Kalian berdua enak banget mesra-mesraan, sedangkan kami tangan mau serasa putus”


Rengek Aldo tangannya sangat sakit.


“Kalo bantu orang ikhlas dikit”


“Ini juga ikhlas ya dikit, marah dikit”


cerocos Aldo sambil trus menarik.


Nara dan Reandi langsung ditarik tangannya oleh para anggota osis.


“Makasih yah bro udah nolongin gue.” ungkap Reandi.


“Sania kamu obatin luka Nara, soalnya lukanya serius” pinta Reandi pada Sania.


“Ck, emangnya aku dokter apa.”


Dengkus Sania ia mulai mengobati luka Nara.


“Makasih yah Ilham Aldo Dirga Dimas.”


Ungkap Reandi sambil menepuk bahu Aldo.


“Cuman itu, gak ada yang lain”

__ADS_1


Dengkus Aldo sambil memalingkan wajah.


“Trus, emang apa lagi?”


tanya Reandi pura-pura tidak mengerti.


“Pura-pura gak ngerti hem.”


marah Aldo sambil melipat tangannya di dada.


“Bantu orang itu harus ikhlas bro.” ujar Ilham merangkul Aldo.


“Bener tuh” setuju Reandi.


“aku ikhlas tapi setengah.”


Jujur Aldo membuat Dimas menepuk bahunya.


“Gak boleh gitu bro.” ujar Dimas.


“aku traktir makan 1 bulan, bebas mau makan apa kalo kita balik ke sekolah”


Ungkap Reandi membuat Aldo girang.


“Nah gituh dong”


Tawa Aldo membuat Teman-temannya tepuk jidat.


“Dasar si suka makan” ungkap Dirga.


“Eh, ngomong-ngomong kamu ketemu di gua kan, jadi kamu ngapain Nara?”


bisik mesum Ilham di telinga Reandi.


“Biasa.” sombong Reandi.


“Adeuh iri aku, kamu udah punya bini enak ya, tinggal anget-angetan di manapun”


sirik Ilham sambil menepuk pundak Reandi.


“Sirik aja lu” cengengesan Reandi.


Nara kemudian di gendong oleh Reandi membuat para guru curiga, berbeda dengan pak Johan sedari tadi di selalu menekuk tatapannya.

__ADS_1


__ADS_2