Menjadi tawanan sang osis

Menjadi tawanan sang osis
Bab 30 Ancaman Reandi


__ADS_3

“Makasih Bu, urusan selanjutnya sama Ilham saja” Lapor Reandi, kemudian ia meninggalkan Bu Eliza dan segera menyusul Nara ke tenda.


Setibanya Reandi ditenda, Nara masih dengan tatapan datarnya.


“Kamu, ngapain kesini?”


“Kita pulang bareng.”


“Aku gak akan pulang kerumah kamu, aku ingin pulang ke rumah ibu ku.”


“Jangan harap, kamu kembali kerumah ibu mu.”


“Kau siapa? Beraninya atas aku?”


“Aku suami mu!!!”


“Suami bajingan? Ck, kau bukan suami ku.”


“Apa kau gila?”


Teriak Reandi mencengkram bahu Nara kuat.


“Aku sudah gila dari awal, jadi lepaskan aku,”


Ucap Nara ia mendongak kan wajahnya.


“Enggak! Kamu bakal pulang kerumah kita, Jangan harap kamu pergi, aku enggak rela.”


“Rumah kita? Rumah apa yang kamu maksud?”


“Nara! Kalo kamu berani pergi dari rumah ku, maka nyawa orang tuamu yang sedang berada di tanganku, akan lenyap! Bukankah dia orang yang kau punya?” bisik Reandi ia mengancam Nara.


“Reandi kamu jangan coba-coba, nyakitin ibu ku! Kenapa sih kamu suka banget ngancem aku! Apa kamu belum puas terus-terusan nyakitin perasaan aku! Ini yang aku benci dari kamu. Kamu egois! Egois!” ucap Nara ia menampar Reandi dengan tangan mungilnya.

__ADS_1


Reandi terdiam, ia menatap Nara dan mengangkat tubuhnya ala bridal style.


Membawa Nara keluar tenda membuat Nara menjadi pusat perhatian, dan di kejauhan ada banyak mobil warna hitam serta para bodyguard yang berjejer, mereka menyambut kepulangan Nara dan Reandi.


“Kalian bawa barang-barang ku, jangan sampai ada yang tertinggal, ada urusan mendadak dengan istriku”


Pesan Reandi ia memasukan Nara ke mobil, dan menutup pintu mobil.


“Lepasin aku Reandi! Dasar!”


Teriak Nara saat tangannya di kunci oleh Reandi.


“Aku bakalan lepasin kamu, dengan syarat kamu harus diam!”


Ucap Reandi, Nara akhirnya berhenti memberontak.


Mobil mulai melaju, diantara Reandi dan Nara tidak ada percakapan sedikitpun, hingga saat sore mereka telah sampai ke rumah, Nara segera turun.


ia langsung masuk sambil berlari. Nara masuk kamar dan langsung membersihkan diri di kamar mandi.


Ucap Nara ia menonggolkan kepalanya di pintu kamar mandi.


“Aish, kapan aku lepas dari sangkar iblis!” gumam Nara menatap cermin.


“Sayang,”


Panggil Reandi ia menggunakan kimono dan menutup pintu dan di kunci.


“Kamu- ngapain kamu masuk!” ucap Nara ia waspada.


“Ini kamar aku loh, masa gak boleh masuk!”


“Ihh”

__ADS_1


“Sayang,”


Ucap Reandi ia melangkah mendekati Nara, namun Nara melangkah mundur.


“Nara? Kamu,”


Ucap Reandi berhenti, dan Nara berhenti mundur.


“Apa?” ketus Nara.


“Nara, aku mohon sama kamu untuk percaya sama aku, aku melakukannya tanpa sadar,” jujur reandi.


“Bohong, aku liat Lo masih sadar seutuhnya!”


“Sejujurnya, Saat aku lagi benerin baju, dari belakang ada yang bius aku, hingga saat itu aku nggak sadar apa yang aku lakukan rasanya tubuhku panas banget, trus pas aku sadar kamu nyenterin aku,” ujar Reandi menjelaskan kejadian pada malam itu.


“Tetep aku enggak percaya, lelaki mana yang gak kuat dengan godaan birahi, kamu pasti alasan doang” tuduh Nara.


“Kamu masih enggak percaya sama aku? Aku bakalan buktiin ke kamu! Bahwa aku melakukannya tanpa sadar!” teriak Reandi ia merangkul pinggang Nara.


“Kamu-kamu, mau ngapain?” gugup Nara.


“Tentu aja, meminta hak pada istri”


ucap reandi ia menggendong Nara ala bridal style, dan menghempaskan nya di kasur dan langsung mengunci pergerakan Nara.


“Lepasin! Berengsek!” ronta Nara.


“Kamu harus patuh sayang,”


Goda Reandi ia mencium bibir Nara dengan brutal, Reandi menciumi buah dada Nara, dan meremas nya.


“Hah... Ka-ka Mu... Ukhh... Eumhh....”

__ADS_1


Desah Nara ia bingung antara mempertahankan egonya, atau birahinya sekarang.


__ADS_2