Menjadi tawanan sang osis

Menjadi tawanan sang osis
Bab 33 Terungkap kebenaran


__ADS_3

“Suci? Siapa yang kau sebut suci?” ledek Reandi lagi.


“Putriku orang suci, dia menjadi pendosa! Karena ulah mu!” teriak ibu Diana.


“Berisik, kau membuat keributan di sini!” dingin Reandi.


“Nikahi putriku!”


“Aku tak Sudi menikahi putrimu! Jika benar dia hamil anakku, lahiran saja. Jangan harap aku akan memberikan gelar istri padanya,”


Dingin Reandi, dengan tatapan jijik pada kedua orang tersebut.


“Reandi! Apa-apaan kamu? Kamu gak mau tanggung jawab?”


Marah Diana ia memukul meja.


“Aku tanggung jawab, Saat kamu lahiran anak itu, dan aku akan memberikan uang padamu!”


Ketus Reandi ia masih setia dengan kejam nya.


“Kamu kejam! Dasar lelaki egois! Tidak bertanggung jawab!”


Teriak ibu Diana ia hendak melayangkan tamparan ke wajah reandi, namun Reandi menghindar.


“Siapa? Yang kau sebut dia, tidak bertanggung jawab?”


Ucap suara bariton dari arah samping ibu Diana.


Yang tak lain adalah kakak Reandi, yaitu Ravandi.


“Kau? Kau siapa?” tanya ibu Diana.

__ADS_1


“Aku,Kakaknya Reandi, Ravandi!”


Ucap Ravandi ia sambil tersenyum.


“Oh, kau kakaknya! Ajari adik mu ini untuk bertanggung jawab!”


Ucap ibu Diana sambil menunjuk muka Reandi.


“Beraninya, anda menunjuk muka adik saya? Sepertinya aku harus memotong jari kesayangan mu itu, ibu tua!”


Seringai Ravandi, membuat ibu Diana ketakutan.


“Kau, kau iblis!!” ucap ibu Diana ia gemetar.


“Ah iya, anak mu sudah membuat keributan besar di acara kelulusan adiku. Anak mu juga telah mempermalukan adiku di depan umum, maka sebagai gantinya aku umum kan di publik kotornya putri mu.”


Dingin Ravandi ia melipat tangannya di dada.


“Silahkan lihat hasil laboratorium ini. Anak mu tidak hamil anak Reandi, justru dia hamil anak dari mantan suaminya,”


“I-ini eng- enggak mungkin,”


Ucap diana ia yang berdiri langsung terduduk lemas.


“Kamu pasti bohong, kau sudah menyogok dokter kan? Untuk memberikan hasil palsu,”


Imbuh ibu Diana.


“Yang menyogok dokter itu anakmu. Bukan aku!” datar Ravandi.


“Lihat dengan mata kalian dengan baik, usia kehamilan Diana baru 2 Minggu. Sedangkan saat kejadian di hutan itu 1 bulan yang lalu, Jikalau dia hamil anak Reandi. Mungkin usia kehamilannya 3 Minggu paling telat, dan peluang cepat 1 bulan,” jelas Ravandi.

__ADS_1


“Sudah aku bilang, aku hamil anak Reandi,” teriak Diana ia menghampiri Ravandi hendak menamparnya.


“Tangan mu, minta untuk di potong yah? Lancang sekali perempuan rendahan seperti mu. Ingin menamparku!”


Teriak Ravandi ia mendorong Diana hingga terjerembab ke bawah.


“Kau, lihat saja. aku akan melaporkan kejahatan kalian berdua ke polisi!”


Ancam ibu Diana ia memapah tubuh diana.


“Justru anak mu yang akan berada di jeruji besi. dia melakukan kejahatan, mendorong istri adikku, dan membuat kehamilan palsu. bukankah hukuman akan memenjarakannya mungkin, sekitar 20 tahun atau 15 tahun,”


Senyum Ravandi, membuat ibu Diana serta Diana ketakutan.


“Para bodyguard, bawa Diana ke ruang bawah tanah, interogasi dia, aku ingin tahu kejadian sebenarnya saat di hutan,” perintah Reandi, pada bawahannya.


“Dan usir wanita tua itu keluar,” lanjut Reandi.


“Jangan. lepaskan aku. jangan.”


Teriak Diana saat di bawa oleh bodyguard Reandi.


“Kak, lama enggak ketemu,”


ucap Reandi ia memeluk tubuh kakaknya.


“Maaf yah, aku gak hadir di acara pelulusan kamu. aku tau kamu di permalukan oleh wanita rendahan itu,”


Ucap Ravandi ia melepaskan pelukannya.


“Kak, bagaimana kamu tau? Tentang semua ini?” tanya Reandi.

__ADS_1


__ADS_2