
“Reandi kemana sih, dari tadi gak nongol-nongol,” dengkus Nara ia menunggu Reandi di depan api.
“Mau makan, gak kamu?” tanya Dina.
“Enggak, kamu aja duluan,” tolak Nara.
“Ini OSIS pada kemana ya, kok gak ada yang Dateng,”
Ujar Ersan merasa ada yang kurang.
“Mungkin mereka lagi sibuk,”
Jawab Dina sedang menyuruput mie nya.
“Enggak mungkin, padahal semuanya udah selesai kok,” jawab Ersan.
“Kalian kenapa ngomongin kami dari belakang sih, ” ketus Diana yang tiba-tiba datang.
“Eh, eng-enggak kok,” gugup Dina.
“setelah makan kalian langsung tidur karena perjalanan untuk kembali besok jam 3 pagi,”
ujar Diana memberitahu mereka.
“Siap!” jawab mereka kompak.
Setelah selesai makan, yang lain memilih untuk tidur, sedangkan Nara ia memilih mencari Reandi.
Nara memberanikan diri untuk mencari Reandi sendirian, meskipun ia agak ketakutan.
“Reandi kemana sih, tuh anak,” gumam Nara ia menjauh dari tenda.
__ADS_1
“Hmm... ahh... Hah... Ukh... Hah....”
Terdengar suara ******* yang tidak jauh dari tempat Nara berdiri.
“itu kayak suara Reandi,”gumam nara.
Tapi gak mungkin kan, itu Reandi? Batin Nara menepis pikirannya.
“Coba cek,tapi gue khawatir itu hantu, gimana nanti gue ganggu hantu yang lagi kasmaran, bisa-bisa nyawa melayang.”
“Pokoknya, gue harus pastiin dulu,”
Ucap Nara ia mematikan senternya kebetulan sekarang terang bulan, ia memberanikan diri mendekati semak-semak, meskipun dalam hati ia ketakutan.
“And-ndi trus, h4h, Hm....” desah Diana.
“Itu suara Diana, gak mungkin kan mereka–”
batin Nara tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
terlihat Reandi sedang menjamah tubuh Diana, ia terlihat begitu kehilangan akal sehat.
“REANDI!”
Panggil Nara ia menghidupkan batrainya, dan menyorotkan kearah dua sejoli
Reandi yang sadar ada cahaya yang menyorotinya pun mulai tersadar.
“Nar- Nara? Ini- ini gimana? Aku kenapa, Diana aku,” ucap Reandi kebingungan melihat Diana berada di bawahnya dan lebih parahnya lagi, alat vital Reandi tengah berada di vital Diana.
“Reandi... Bisa kamu jelasin... Kenapa kamu sampai melakukan ini....”
__ADS_1
Dingin Nara menahan air mata, ia merasakan sakit luar biasa.
Bagaimana tidak sakit saat melihat orang yang di cintai malah bercumbu dengan orang lain.
“Nara, dengerin aku, aku beneran gak ngelakuin ini. aku beneran gak sadar, Nara aku khilaf aku gak tau, tadi aku di sekap tiba-tiba pas sadar aku barusan,” jelas Reandi ia memakai kembali bajunya, dan memeluk Nara.
“Oh,”
kata itu yang keluar dari mulut Nara, ia mendorong Reandi dan menamparnya.
“Aku nyesel Nerima cinta kamu, apa kamu melakukan ini dengan mantan mu karena tadi aku tidak menuntaskan hasrat mu, Wah bagus....”
Tawa Nara sambil menangis dan bertepuk tangan.
“Dan kamu Diana, sebagai cewek murahan banget, kamu rela di jamah oleh cowok lain,”
tunjuk Nara pada wajah Diana.
“Apa maksud kamu? Reandi sendiri yang narik gue, dan asal kamu tau yah mungkin Reandi bosen sama kamu. Makanya dia minta aku nuntasin hasratnya,” ucap Diana sambil memakai pakaian dan menatap tajam Nara.
“Ck, Kalo begitu Reandi aku pengen cerai,” lesu Nara.
“Gak bisa! Kamu gak bisa cerai dari aku! Aku bakalan buktiin bahwa aku melakukannya tanpa sadar!” teriak Reandi pada Nara dan memeluk Nara namun, Nara memukul dada bidang Reandi.
“Dasar pengkhianat, Reandi aku benci kamu. lepasin aku! Lepasin!”
Berontak Nara ia melepaskan pelukan dari Reandi.
“Nara, dengerin aku, aku–”
“Kamu puas, udah aku kasih suamiku untuk kamu. kamu tenang aja, aku nyerah kok. lagian kalian pasangan cocok,”
__ADS_1
Ucap Nara pada Diana sambil tepuk tangan.
Reandi tertegun mendengar kata ‘suamiku’ ini baru pertama kalinya ia mendengar Nara menyebut kata itu.