Menjadi tawanan sang osis

Menjadi tawanan sang osis
Bab 31 Kekacauan dihari kelulusan


__ADS_3

PLAKK


Satu tamparan melayang di pipi Reandi, dengan amarahnya Nara yang mengebu-gebu.


“Kamu pikir dengan cara seperti ini aku bakalan tunduk ke kamu. Kalo kamu mikir kayak gitu, kamu salah besar. Aku jijik di sentuh sama penghianat seperti kamu!”


“NARA!!” bentak Reandi


“Aku pengen pisah, tolong lepasin aku!”


Ucap Nara sambil terduduk lemas dan merenungi semua masalah yang ada.


“Gak akan aku lepasin kamu!!”


Teriak Reandi, ia menghancurkan barang-barang di sekitarnya.


“Kamu, egois Reandi,”


“Ya aku egois! Egois ingin mengikat kamu di sisiku! Tolong kasih aku kesempatan, kamu harus percaya sama aku ”


“aku kasih kamu kesempatan, kalo kamu enggak salah! Maka buktikan ke aku, aku gak salah!” ucap Nara ia mencengkram pundak Reandi.


“Aku, bakalan buktiin ke kamu aku gak ngelakuin itu tanpa sadar!” mantap Reandi ia memeluk Nara.


“Untuk sementara, aku percaya sama kamu, aku lelah, gak mau debat!”


Lesu Nara ia tidak memberontak saat Reandi memeluknya.


Dengan sekuat hati Nara mencoba percaya dengan omongan Reandi, walaupun rasanya masih belum yakin dengan semuanya yang telah dia lihat malam itu.


“Kamu gak akan kecewa percaya sama aku, aku janji!”


Ucap Reandi ia merengkuh tubuh Nara dan merebahkan tubuh Reandi di sampingnya.


“Reandi, satu bulan lagi kamu bakalan keluar dari sekolah,” ucap Nara ia menatap langit kamarnya.


“Emhh, iya aku bakalan lulus satu bulan lagi.


Kamu tenang aja aku ambil kuliah di jarak yang agak jauh. aku pasti pulang kok,” ucap Reandi masih setia memeluk Nara.


Helaan nafas yang berhembus serta ia menatap langit-langit kamarnya.

__ADS_1


“Aku heran, tujuan piknikkan seharusnya kelas tiga aja? Kenapa kelas dua seperti aku ikut?”


heran Nara karena biasanya hanya kelas tiga saja.


“Karena, Saran Diana. Dia bilang tak lama lagi, kita bakalan keluar jadi dia kasih saran untuk ngajak anak kelas dua. Biar bisa kasih kenangan juga katanya,” ucap Reandi.


“Apa ini ulah Diana, sengaja? Aku juga masih penasaran orang yang dorong aku ke jurang,”


“Kamu tenang aja, aku bakalan selidiki siapa dalang di balik ini semua,”


Ucap Reandi ia masih setia memeluk Nara.


Satu bulan telah berlalu, hari-hari yang di lewati Reandi dan Nara berbuah manis.


Meskipun selalu ada Diana yang menjadi penganggu di tengah keromantisan mereka.


Nara mulai mempercayai Reandi ia berniat ingin meminta maaf padanya saat hari kelulusan hari ini.


BUGH


“Reandi, gue minta ma–”


“Reandi kamu gak papah?”


Ujar Nara ia memapah tubuh Reandi.


“Berengsek kamu Reandi!!”


Teriak Niko ia mencengkram kuat kerah baju Reandi.


“Apa? Maksud kamu? Kenapa datang-datang mukul aku?”


Ucap Reandi ia mendorong Niko kasar, kini mereka berdua menjadi pusat perhatian.


Para siswapun mencibir mereka dengan berbagai ragam.


‘Eh, itu kan Niko?'


‘ck ini hari kelulusan mereka bukan hari adu gulat’


‘Harusnya hari bahagia,bukan kek gini’

__ADS_1


bisik para siswa dan siswi melihat keributan di depan mereka.


“Kamu... Kamu... Dasar!”


Bughh BUGH BUGH


“Ini sepatutnya yang kamu dapetin, dari kelakuan bejad kamu!”


Ungkap Niko ia puas membuat Reandi terkapar tak berdaya bahkan babak belur.


“Kak Niko? Kamu kenapa mukulin Reandi?”


Tanya Nara ia merengkuh reandi yang terkapar.


“Dia? Kamu masih belain dia? Dia udah bikin Diana hamil! Anak dia!!!”


Teriak Niko membuat Nara seperti tersambar petir di siang bolong, seakan dunia hampir rubuh di pandangannya.


kenyataan ini ia anggap hanya ilusi semata, hatinya benar-benar hancur untuk percaya pada Reandi.


Tiba-tiba Diana datang menghampiri Reandi dan membantunya.


Tapi Reandi masih sama, tidak mau jika Diana dekat-dekat dengannya.


“Reandi, kamu enggak papah?”


Teriak Diana dari kejauhan, ia memeluk tubuh Reandi yang tengah di papah Nara untuk berdiri.


“Diana!!!” geram Niko.


“Apa? Kamu mau apa? Mau marah? Marah ajah? Aku mau pisah sama kamu! Aku muak sama kamu!”


Teriak Diana ia masih setia memeluk Reandi yang masih lesu.


“Lepasin, aku Diana!”


Lesu reandi ia mendorong Diana, dan langsung memeluk Nara.


“Kalau mau kamu, kita cerai. cerai aja, tapi jangan harap kamu dapat harta sebagian dari aku,”


Ujar Niko dingin, ia pergi meninggalkan Diana sembari melempar surat perceraian yang ia siapkan sejak lama.

__ADS_1


__ADS_2