Menjadi tawanan sang osis

Menjadi tawanan sang osis
Bab 38 Awal mula bertemu


__ADS_3

“Sayang Kamu kok, gak fokus makan? Mau aku suapin?”


Tawar Reandi ia bingung, dengan perubahan sikap Nara yang menjadi pendiam setelah bertemu dengan kakaknya.


“Sayang, kamu kenapa?”


Lanjut Reandi, dia melihat Nara tak bergeming sedikit pun.


“Sayang....”


Reandi mengguncang tubuh Nara seketika Nara tersadar dari lamunannya.


“Ap- apa?” tanya Nara gagap.


“Kamu kenapa? Gak semangat gitu? Apa kakak aku ngancem-ngancem kamu? Apa ada perkataan yang nyakitin hati kamu?” tanya Reandi bertubi-tubi.


“Jangan fitnah kakak, enggak baik loh,”


Sewot Ravandi ia makan dengan anggunnya.


“Enggak apa-apa, cuman kangen ibu aja,” senyum Nara.


“Oh, kalo gitu gimana kalo besok aja. kita kerumah ibu kamu, mumpung lagi libur sekolah juga kan?” tawar Reandi.


“Gak usah, aku gak mau nemuin ibu. aku khawatir nantinya gak rela mau lepas kalo udah ketemu,” kilah Nara.


“Uhuk, kalian jangan mesra-mesraan di hadapan saya. ini lagi makan loh,” cemburu Ravandi.


“Iri? Makanya cepat cari,” imbuh Reandi.


“Aku nggak akan cari, sebelum wanita yang aku cintai kembali,”


Ucap Ravandi ia menatap Nara dan berganti menatap Reandi,


“Ck, kak kenapa kau trus menunggu wanita itu. dia mungkin enggak akan kembali,”


Jawab Reandi ia melahap makanannya.


“dia akan kembali setelah menyelesaikan, urusannya,” senyum Ravandi.


“Dari enam bulan yang lalu, kakak selalu bilang begitu,”


Dengkus Reandi ia bosan mendengar alasan itu.


“Oh iya, Reandi gimana kalo kamu nginep di sini,” ujar Ravandi membuat Nara yang sedang minum tersedak.


“Uhuk... Uhuk....”


Batuk Nara ia memegang tenggorokannya.

__ADS_1


“Sayang, kamu kalo minum hati-hati dong. kayak takut di rebut orang aja,”


Ujar Reandi ia segera menepuk punggung Nara.


“Kaget aja,” jawab Nara.


“Jadi? Setuju enggak?” ujar Ravandi.


“Oke lah, jarang juga aku ngabisin waktu sama kakak,”


Senyum Reandi membuat Nara menjadi tidak tenang.


“Seperti biasa, udah makan kita main game,” ujar Ravandi.


“Siap,” tawa Reandi.


“Aku udah kenyang, boleh enggak jalan-jalan ke taman?” tanya Nara pada Reandi.


“Boleh, kamu lurus belok dikit di situ ada taman,” jelas Reandi.


“Oke,”


Senyum kecut Nara, ia pergi meninggalkan meja makan. menuju taman dirinya termenung sendirian sambil memikirkan kejadian dirinya menjadi tawanan Reandi.


Flashback on


Nara saat itu masih duduk di bangku 3 SMP, ia tinggal di panti asuhan.


“Mau kemana cantik?” goda salah satu preman.


“Awas minggir,”


Ucap Nara ia ketakutan setengah mati karena ada empat preman yang menghadangnya.


“Eh, agresif banget ni cewek,”


Jawab salah satu preman menyentuh dagu Nara.


“Lepasin, jangan macem-macem ya aku laporin kalian ke polisi,”


Ancam Nara dengan tangan bergetar.


“Heh, berani ngancem, bawa dia,” ujar ketua preman.


“Jangan berani sentuh. Awas,” berontak Nara.


“Tolong... Tolong... Tolong....”


Teriak Nara saat tangannya di tarik preman.

__ADS_1


“Berisik!!” bentak ketua preman.


“Tolong... Hiks... Tolong....”


Teriak Nara sambil menangis tersedu-sedu.


“Gadis cantik, Abang akan membuat kamu ketagihan,” mesum ketua preman.


Bug.. Bug Bug..


“Sore-sore udah berani, mau melecehkan seorang gadis,”


Ucap seorang pemuda datang dan memukuli keempat preman.


“Kamu enggak papah?”


Lanjut pria itu tak lain Ravandi sepulang kuliah.


“Gue nggak papah, makasih udah nolongin,”


Jawab Nara ia membungkuk hormat.


“Nama kamu siapa?” tanya Ravandi.


“Nara,” jawab Nara.


“Tinggal dimana?” tanya Ravandi.


“Panti asuhan kasih bunda,” ujar Nara.


“Mau aku anterin pulang? Oh iya, kenalin nama aku Ravandi,”


Ucap Ravandi ia berjabat tangan dengan Nara.


“Salam kenal,” sambut Nara.


“Ayo, aku antar pulang udah hampir malam loh,”


Ucap Ravandi Nara hanya mengangguk patuh, di dalam perjalanan Nara hanya terdiam tidak banyak bicara.


“Kita udah sampe,” ujar Ravandi.


“Makasih udah anterin saya pulang,” ujar Nara saat sudah turun dari mobil.


“Oh iya, kalo kamu butuh bantuan apapun kamu telepon aku ya,”


Lanjut Ravandi ia menyerahkan kartu, isinya adalah nomer telepon.


“Baik, makasih,”

__ADS_1


Sahut Nara sambil menggenggam kartu tersebut.


Setelah kejadian itu, satu bulan kemudian. di panti asuhan tempat ia tinggal menghadapi masalah yang begitu berat.


__ADS_2