
“Aku selalu mengirim mata-mata, untuk memperhatikan gerak-gerik mu. Takut kamu terkena masalah besar dan ternyata benar, kamu terkena masalah besar. Untung saja aku bisa menangani situasi ini. Oh iya? Kamu sudah memiliki istri bukan? Dimana dia?” tanya Ravandi.
“Dia di dalam lagi tidur. Kak makasih yah udah nyelesain permasalahan aku. Kalau kakak enggak Dateng, istriku bakal pergi.” ucap Reandi ia bersyukur sekali.
“Kayaknya,kamu peduli banget sama istri kamu?” tanya Ravandi.
“Tentu dong, dia itu orang nya ngeselin tapi sayang,” puji Reandi.
“Aciee, udah yah. kakak mau kembali kekantor banyak urusan yang belum selesai,” pamit Ravandi.
“Kakak mau pergi? Kak, maaf reportin kamu trus” ucap Reandi.
“Gak papah. oh iya, kakak juga bakalan bersihin nama kamu di berita. kamu tenang aja,”
Ucap Ravandi ia melambaikan tangan pada Reandi, dan pergi dari kediaman rumahnya.
“Huff, masalah sudah selesai, selalu saja merepotkan kakak,”
ucap Reandi dengan penyesalan sembari masuk ke dalam rumah dan melihat Nara yang terduduk di pinggir jendela.
“Nara? Kamu udah bangun? Kenapa nangis?”
Tanya Reandi ia mengusap kepala istrinya dan memeluknya.
“Maafin, aku,”
Ucap Nara ia membenamkan wajah di dada.
“Gak papah, itu hal wajar kok,”
Sahut Reandi ia mengusap air mata Nara.
“Reandi,”isak tangis Nara.
__ADS_1
“Kamu tenang aja, aku bakalan interogasi Diana, kamu ikut aku, ke ruang bawah tanah,”
Ucap Reandi ia menggenggam tangan Nara.
Sesampainya diruang bawah tanah, Reandi memulai mengajukan pertanyaan sebelum Nara memulainya.
Reandi duduk di kursi kekuasaannya, sedangkan Nara duduk di samping Reandi sambil menatap Diana.
“Diana, kamu kan yang dorong Nara ke jurang malam itu? jawab?!”
“Bukan aku,” kilah Diana.
“Jangan bohong! Kamu mau tangan kamu dua aku putusin. Biar kamu jadi cacat?!” ancam reandi.
Memang si tukang ngancem. Kalo udah ahli, enggak bisa ngelupain kebiasaan ngancem.
Batin Nara ia menatap Reandi.
“I-iya” nyali Diana menciut.
“Kamu gak perlu tau. hari itu adalah hari yang bikin aku marah, karena gagal,”
Teriak Diana tangannya kini tengah diikat ke belakang sambil terduduk.
“Jawab!! kalo enggak aku potong kaki kamu!Mau??"
Kejam Reandi membuat Nara yang di sampingnya ketakutan.
“Oke-oke aku ceritain,”
Gugup Diana dia mulai merasa ketakutan.
Flashback on
__ADS_1
Saat itu Reandi tengah merapikan pakaian nya sambil komat Kamit.
“Sial, dasar si Ersan ganggu orang kasmaran. Aku potong tuh lidah.” Kesal Reandi namun tiba-tiba Diana dari belakang membekap mulut Reandi. Di saat Reandi tengah pingsan, Diana menggusur Reandi menjauh dari sekeliling tenda.
“Aku, taro Reandi di sini deh”
“Sialan obatnya ketinggalan,”
Kesal Diana ia kembali ke tenda, dia mendengar keributan dan mencoba menenangkan mereka dan meminta mereka untuk langsung tidur.
“Reandi mungkin dengan cara ini, kamu bakalan milik aku,”
Ucap Diana ia memasukan obat perangsang dosis kecil ke minuman itu.
Di saat Reandi masih pingsan, Diana memaksa minuman itu masuk ke mulut Reandi.
“Sialan! Obatnya gak bereaksi, apa gue salah cara make nya!”
ucap Diana kesal ia menunggu sekitar 15 menit tidak ada tanda-tanda bergerak.
“Apa, obat ini enggak bekerja. sial!”
Ucap Diana kesal sambil melempar botol obat itu jauh-jauh.
“Eugh... Hush... Hush....”
Reandi terbangun ia merasakan panas sekali dengan keadaan tubuhnya, ia tidak bisa melihat jelas siapa orang yang di sisinya.
Dan langsung mencium bibir Diana, Reandi membuka semua pakaiannya tanpa sadar. dan juga membuka pakaian Diana dengan paksa. namun hal itu belum tahap ke akhir, hingga.
“REANDI!!!”
__ADS_1
panggil Nara menyoroti Reandi dengan senter, membuat Reandi sadar. Diana memasukan vital Reandi ke lubang wanitanya untung saja tidak di ketahui Nara.
Flashback off