Menjadi tawanan sang osis

Menjadi tawanan sang osis
Bab 22 Cinta yang terbalaskan


__ADS_3

‘aku ngerasa aneh, masa Nara tersesat ke jurang? Padahal jarak jurang dengan jalan lumayan lebar, lagian Nara bawa Batrai sendiri gak mungkin kan dia gak bisa bedain jurang Ama jalan?’ batin Reandi bertanya-tanya.


‘Apa jangan-jangan ada yang sengaja dorong Lo kejurang’ emosi Reandi sambil mengepalkan tangan nya.


“Siapa? Yang ngelakuin hal gini ke kamu Nara, kamu tenang aja aku bakal cari orang itu sampai ketemu, aku bakal ngelakuin cara kejam buat orang yang dorong kamu”


Kesal Reandi sambil trus mengepalkan tangannya.


“Eumhh, eughh...sa–kit”


Ringis Nara merasa sekujur tubuhnya sakit, apalagi tangannya sedang sakit sekali.


“Kamu udah sadar nar, syukurlah aku seneng kamu bangun gak ninggalin aku”


Ucap Reandi sambil memeluk tubuh Nara.


“Sa–Sakit andi” Ringis Nara.


“Sorry gak sengaja, soalnya aku cemas liat kondisi kamu kayak gini, coba kasih tau aku kenapa kamu sampe ke jurang tinggi ini.” tanya Reandi mengintimidasi.


“aku gak gak tau, yang aku tau tadi aku lagi jalan trus tiba-tiba ada yang dorong aku dari belakang.”


Ujar Nara sambil mengingat-ingat sekaligus menjelaskan kronologinya.


“Kamu kenapa gak bilang mau ke toilet, kan aku bisa anter” kesal Reandi sambil mencubit pipi Nara.


“Aw–Awss soalnya kamu lagi sibuk ngurusin masang tenda, ngabsen, ngatur keperluan kita semua” jujur Nara sambil menunduk.


“Trus? Kenapa gak ngajak Linda aja?” tanya Reandi.


“Gak mau ngerepotin dia, dari tadi Linda sibuk masak.”

__ADS_1


“Ck, kamu harusnya mikir toilet dan tenda itu jauh, kasih tau aku sesibuk-sibuknya aku pasti bakal mementingkan kamu.”


Marah Reandi sambil mencengkram bahu Nara kuat.


“Ma-af.”


Kata Nara membuat Reandi sadar ia memarahi gadisnya dengan kasar.


“Maaf, aku cuma khawatir sama kamu” ujar Reandi.


“Reandi tangan kamu dingin”


cemas Nara merasakan tangan Reandi dingin.


“aku gak papah, gak usah cemas”


Ujar Reandi menenangkan Nara.


“Tapi–” ucapan Nara terhenti.


ucap Reandi sambil memeluk Nara.


“aku, mungkin udah suka sama kamu Ndi”


gumam Nara yang sedang berpelukan dengan reandi, dan terdengar di telinga Reandi.


“Serius? Nara kamu udah suka sama aku”


Girang Reandi melepaskan pelukannya dan dengan pernyataan cintanya telah terbalaskan. Yang ada dibenak Reandi saat ini hanya ingin minta jatah.


“I-Iya” ucap Nara malu-malu.

__ADS_1


“Sayang, jadi mulai sekarang kamu harus manggil sayang bukan aku-kamu, dan harus ngomong sayang sama aku”


Goda Reandi sambil memegang dagu Nara dan menciumnya.


“Nara, Aku pengen kamu”


Bisik Reandi dengan nafas tersengal-sengal, Nara mengangguk.


“Hmm...ahh” desis Nara merasa dirinya sangat panas.


“Panggil aku sayang” bisik Reandi di tengah-tengah Nara tak konsen.


“Sa-sayang...ahh...hmm” ucapan Nara membuat Reandi mulai terangsang.


“Ahh...hah” desah Reandi saat memulai permainan, nafsunya yang tertunda berapa lama itu bahkan tak tau tempat untuk bercinta.


“Ukhh...ahhh” desah Nara ia menjambak rambut Reandi membuat, Reandi mempercepat gerakannya.


Mereka yang tengah berbunga-bunga dihutan belantara, lupa akan posisi kalau mereka telah terjebak dijurang tersebut.


Sedangkan yang berada ditenda telah cemas memikirkan dimana keberadaan Reandi dan Nara.


“Pak, Reandi sama Nara belum kembali dari tadi, tolong cari mereka” pinta Linda pada pak Johan.


“Emang mereka Gaada?” tanya pak Johan.


“Ada pak, Gaada pak makanya saya minta bantuan bapak! Bapak gimana sih” dengkus Linda.


“Oke nanti bapak akan cari mereka dengan guru-guru yang lain” ucap pak Johan.


“Gawat, Reandi kok hilang”

__ADS_1


cemas seorang perempuan yang mengkhawatirkan Reandi.


Yang tak lain adalah Diana.


__ADS_2