
Flashback off
“Untung saja kau memberi dosis kecil. jika sampai dosis besar, mungkin aku akan menerkam mu seperti mangsa,”
Ujar Reandi dingin, dia benar-benar marah sekarang.
“Jadi, tolong lepasin aku,” pinta Diana.
“Tergantung dengan keputusan istriku,” lanjut Reandi.
“Nara, mohon kamu lepasin aku. Aku janji aku gak akan ganggu kehidupan kalian, aku mohon.” ucap Diana sambil berurai air mata.
“Aku gak bisa maafin kamu, kamu udah keterlaluan,” ucap Nara.
“Aku mohon, maafin aku. Nara aku ingin berubah” ucap Diana ia memohon belas kasihan.
“Seharusnya, kamu pikir dulu sebelum melakukan sesuatu. karena kamu udah gelap mata terlalu berambisi untuk menghancurkan seseorang, maka aku akan memberi kamu hukuman,”
Dingin Nara membuat Reandi tersenyum.
“Sayang, kamu mau kasih hukuman apa sama Diana?” ucap Reandi ia mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya di pangkuannya.
“Cubit, pipi dia dua kali,”
ucap Nara membuat Reandi tepuk jidat.
“Sayang, hukuman yang kamu kasih terlalu mudah,” ucap Reandi ia benar-benar tak jadi bangga.
“Dia lagi hamil sayang, kasian bayinya. Masa dia yang berdosa, bayinya yang menderita,” ucap Nara.
“Sudahlah, tapi sebelum itu berjanjilah. untuk tidak mengganggu kebahagiaan kita, jika dia sampai datang. aku akan menghancurkan kaki dan tangannya,” ucap Reandi ia meminta Diana untuk berjanji.
“Ak-Aku berjanji enggak akan mengganggu kebahagiaan kalian, jika aku sampai ganggu, kaki dan tangan aku siap di potong,” ucap Diana ia mengeluarkan keringat dingin.
“Meskipun suatu hari nanti, kamu ingin langgar janji. tapi karena sumpah kamu sudah di rekam jadi kamu akan di patahkan kaki dan tanganmu, dan aku sendiri yang akan melakukannya,”
ujar Nara, membuat nyali Diana menciut. Padahal hanya bohongan, Nara tak ada nyali sedikitpun untuk menyakiti siapapun.
“Ba- baik,” jawab Diana.
“Pengawal bawa dia keluar!”
Perintah Reandi, para pengawal membawa Diana keluar, kini tinggal Nara dan Reandi.
__ADS_1
“Sayang, aku takut barusan, aku ngomong apa sih, sok-sokan ngancem orang mau matahin kaki tangan, padahal belum pernah sama sekali,”
Ucap Nara berubah ekspresi ketakutan, membuat Reandi yang mendengar serta melihatnya hanya bisa menatap tanpa berkata-kata.
Keesokan harinya, Reandi yang masih sayup-sayup untuk bangun bahkan masih setia merengkuh gadis mungil itu dan bermanja-manja.
“Bangun, udah siang!”
Kesal Nara ia mendorong tubuh Reandi yang sedari tadi memeluknya.
“Gak papah kesiangan, kan gak sekolah,” jawab malas Reandi yang masih setia memejamkan matanya.
“Oh, gak mau bangun....” nada Nara yang muram.
Bughh
“Ukh... Sakit.... Sayang kamu apa-apaan sakit tau,”meringis Reandi ia memegang dadanya.
“Rasain, udah aku bilang bangun ya bangun,” kesal Nara ia segera turun dari kasur.
“Tidak bisakah kita romantis gitu ah,” kesal Reandi ia memegangi dadanya.
“Oh... Mau lagi?”
Lanjut Nara membuat Reandi mengeluarkan keringat dingin dari wajahnya.
“Kamu yang ngajarin aku,”
Jawab Nara ia mengambil baju di lemari dan bergegas ke kamar mandi.
“Tapi, aku gak ngajarin kamu mukul suami kan?” protes lagi reandi, membuat langkah Nara terhenti. ia berbalik dan mengambil sapu di pinggir kamar mandi, dan mengangkat keatas dan melemparnya ke Reandi agar dia cepat beranjak dari ranjang tersebut.
“Sayang, kamu pagi-pagi jadi serem,”
“Berisik!”
Nara langsung masuk kamar mandi, membuat Reandi kesal ia kemudian turun dari kasur.
Sesampainya Nara dirumah, Reandi yang melihat Nara yang tengah menonton tv. Berinisiatif untuk menyuruh Nara membuatkan makanan.
“Sayang, kamu bisa masak enggak?” tanya Reandi
“Bisa,”
__ADS_1
Jawab Nara masih fokus pada tv.
“Bisa masakin buat aku enggak?” lanjut Reandi.
“Bisa dong”
“kalo gitu, buatin aku makanan,” pinta Reandi.
“Oke, kamu tunggu sini,”
Ucap Nara dan Reandi hanya mengangguk patuh.
Beberapa saat kemudian...
Reandi menatap piring dan beserta makanan, yang terlihat gelap karena gosong. wkwkwkwk
“Sayang, ini makanan?”
“Iya. itu resep terbaru aku, warnanya hitam bagus kan?” jawab nara.
“An- anu sayang? Apa kamu enggak ngerasain dulu rasanya? Ini teksturnya....”
Ucap Reandi ia menatap goreng ayam yang begitu hitam dan legam.
“Udah kamu makan aja, enak loh. Inget jangan Mandang luarnya aja dalem nya juga harus di pandang,” jawab Nara matanya masih menatap tv.
“Sayang, ini ke gosongan kayaknya,” ujar Reandi.
“Kamu enggak menghargai, perjuangan aku goreng ayam. Asal kamu tau! Goreng ayam serasa lagi berperang! Tau gak?! Minyak nya nyipratin trus, bahkan aku masak pake helm?!”
Marah Nara ia memukul kepala Reandi menggunakan, bantal.
“I-iya, aku bakal makan,”
Ucap Reandi ia meneguk ludah sendiri, melihat ayam gosong di matanya.
“Nah gitu, makanya jangan cerewet jadi lelaki. tau makan aja susah, udah untung aku masakin, kalo enggak aku suruh kamu masak sendiri,”
Kesal Nara mulutnya komat Kamit, Reandi dengan terpaksa makan ayam gosong itu dengan hati sedih.
“Huek... Uekk... Uhukk....” muntah Reandi membuat Nara merasa kasihan.
“Kalau kamu enggak mau, jangan di makan, gini kan akhirnya,” dengkus Nara.
__ADS_1
Kamu yang maksa nyuruh makan, batin Reandi.
“Enak enggak masakan aku?” tanya nara.