Menjadi tawanan sang osis

Menjadi tawanan sang osis
Bab 29 Makin rumit


__ADS_3

“Nara, tolong kamu kasih aku kesempatan, aku janji. aku bakalan kasih bukti ke kamu, aku janji! Aku mohon kamu jangan minta pisah dari aku, aku pengen kamu tinggal dulu sama aku!”


Mohon Reandi ia menggenggam tangan Nara, namun segera Nara tepis.


“Aku udah bilang, aku mau cerai setelah kita pulang piknik besok,”


Ucap Nara ia segera berlari meninggalkan Reandi.


“Ini pasti reancana kamu kan, Diana?”


Geram Reandi ia menampar Diana.


“Emang nya kenapa? Dengan cara ini kamu bakalan menjadi milik aku seutuhnya!”


Ucap Diana ia mengamit lengan Reandi.


“kamu gila! Aku gak Sudi aku jadi milik kamu!”


ucap Reandi ia menghempaskan tubuh Diana dengan kasar.


“Ck, percuma saja! kamu bakalan gak bisa lepas dari aku karena, kamu udah menodai tubuh aku.


Dan asal kamu tau, mungkin kamu bentar lagi bakalan nikahin aku, sapa tau aku ngandung anak kamu,”


Tawa Diana sambil meremehkan Reandi.


“Ck, jangan harap! kamu ngandung anak ku! Dasar wanita reandahan kamu Diana!” emosi Reandi.


“Hahahaha... Gak papah kamu sebut aku reandahan! Asal kamu tau, jika aku sampai hamil mungkin Nara akan pergi meninggalkan mu Reandi.. Dan setelah itu kamu bakalan jadi milik ku. Jahahhahahahahah....”


Tawa Diana ia menggila, Reandi pergi meninggalkan Diana ia memutuskan mengejar Nara.


“Nara, aku mohon kamu jangan pergi”


Ucap Reandi ia memeluk Nara dari belakang kini mereka berada tak jauh dari tenda.


“aku awalnya gak mau pergi, tapi–” ucapan Nara terputus.


“Tapi apa?”


Ujar Reandi ia mengendus bahu Nara dan membenamkan wajahnya.

__ADS_1


“Tapi kamu sendiri yang dorong aku untuk pergi,” lanjut Nara ia mengeluarkan air matanya.


“Aku gak mau kamu pergi! Kamu gak boleh pergi! Aku cinta sama kamu,”


Ungkap Reandi ia semakin erat memeluk Nara.


“Munafik!”


Satu kata Nara membuat Reandi emosi ia membalikan tubuh Nara dan menciumnya secara berutal.


“Hmh MMM... Lep–”


Nara tak di beri kesempatan untuk berbicara oleh Reandi, Nara memukul dada bidang Reandi sang menggigit bibir Reandi.


Namun Reandi seperti singa kelaparan, ia tak memedulikan gigitan Nara, tangannya meremas kuat dada Nara.


Dan tangan nya menyingkap Androk Nara, Reandi memainkan vital Nara membuat sang empunya menggelinjang hebat.


PLAKKKK


“BERENGSEK,”


Ucap Nara setelah menampar Reandi ia melangkahkan kakinya dan buru-buru masuk tenda. sedangkan Reandi hanya diam mematung dan terduduk lemas, ia meruntuki nasibnya.


Gerutu batin Nara ia ia menatap langit-langit tenda.


Aku kecewa sama kamu Reandi, kamu masih bisa menyangkalnya, aku benar-benar membencimu


Aku benci kamu, kenapa kamu tega kenapa.


Pikir Nara ia menahan Isak tangisnya, agar tidak terdengar oleh orang di sekitarnya.


sekarang yang ada di pikiran Nara hanya kekecewaan yang mendalam.


“Dasar Takdir sialan, kenapa kau selalu mempermainkan kebahagiaanku, kenapa? Kenapa aku harus trus menelan pil kekecewaan setiap harinya,” gumam Nara.


Hingga keesokan harinya pukul tiga pagi, Nara dan yang lainnya tengah mempersiapkan untuk turun gunung dengan yang lainnya.


Reandi datang mendekati Nara ia memeluk Nara di depan semua orang.


“Nara,” bisik Reandi ia merengkuh Nara dengan kuat.

__ADS_1


“Lepaskan aku.”


“Aku enggak bakalan melepaskannya!”


“Lepaskan!”


“Enggak bakalan.”


“Kamu yang maksa”


Sinis Nara ia menendang vital Reandi membuat si empunya kesakitan.


“aww”


“Sayang, kamu gak papah?”


ucap Diana ia menghampiri Reandi dan mengusap punggungnya.


“Lepasin aku bangsat, gak perlu kamu pegang aku!” tolak Reandi ia menghempaskan tangan Diana kasar.


“Emang pasangan, yang sempurna, sangat cocok... Hahahaha....”


Tawa Nara sambil tepuk tangan dan dengan pandangan meremehkan.


“Nara, Aku–” ucapan Reandi di sela Nara.


“Cukup! Aku pengen turun gunung dan segera kembali ke posco, dan segera pulang,” sinis Nara.


Nara dan Reandi serta yang lainnya turun gunung mereka berhasil sampai di tempat posko pukul 10:45 pagi, disana Nara meminta izin untuk pulang dengan alasan sakit.


“Kalau begitu kamu boleh pulang,”


Ucap Bu Eliza yang melihat keadaan Nara yang begitu lesu.


“Bu Eliza saya izin pulang juga, karena ada keperluan mendadak di rumah,” ucap Reandi.


“Keperluan apa? Yang membuat kamu sebagai ketua OSIS begitu peduli?” dingin Bu Eliza.


“Kakak saya, Ingin bertemu dengan saya” bohong Reandi.


“Oh, boleh kau pulang”

__ADS_1


Ucap Bu Eliza ia tahu betul bahwa Reandi sudah lama tidak bertemu dengan kakaknya keluarga satu-satunya.


“Makasih Bu, urusan selanjutnya sama Ilham saja” lapor Reandi, ia meninggalkan Bu Eliza dan segera menyusul Nara ke tenda.


__ADS_2