Menjadi tawanan sang osis

Menjadi tawanan sang osis
Bab 23 Situasi canggung


__ADS_3

Yang tak lain adalah Diana. Seseorang yang membenci hubungan Nara dan Reandi.


Sedangkan semua orang telah panik mencari keberadaan Reandi dan Nara.


“Ini udah jam 11 malam mereka gak ketemu”


Ujar Bu Eliza sambil trus menyorotkan senter ke segala sisi.


“Mereka nyasar kemana sih, bikin repot orang tua aja”


Dengkus pak Johan kesal hingga ia menyoroti ke tepi jurang.


“Bu, saya coba cari di bawah jurang siapa tau mereka tersesat” ujar pak Johan.


“Tapi, gak mungkin kan mereka ke jurang, ini jalan nya lebar loh, lagian Reandi juga gak bakal tersesat ke jurang” bantah Bu Eliza.


“Tapi bisa jadi Reandi kesini soalnya ada jejak sepatu di sini.”


Ujar pak Johan menyorot ke tepi jurang.


“saya khawatir pak, gimana kalo di sana ada binatang buas” cemas Bu Eliza.


“begini saja, kamu cari anak-anak untuk bantu saya.” nasehat pak Johan.


“Trus pak johan?” tanya Bu Eliza.


“Saya akan turun ke jurang siapa tau ada mereka, trus suruh anak-anak bawa tambang” pinta pak Johan.


“Kenapa bapak gak nunggu anak-anak datang aja kesini aja, biar bareng-bareng” bujuk Bu Eliza.


“Ck, untuk mempersingkat waktu Bu, ayo cepat cari anak-anak trus bawa tambang.” pinta pak Johan lagi.


“Bapak semoga gak apa-apa di sana, saya khawatir pak” peluk Bu Eliza di balas Johan.


“Tenang aja saya gak akan terjadi apa-apa”


Ucap pak Johan melepaskan pelukannya.

__ADS_1


“Kalo gitu saya akan panggil anak-anak”


ujar Bu Eliza pergi meninggalkan pak Johan.


Kedua insan yang dimabuk asmara, dengan sadarnya sama-sama mau melakukan hubungan intim digua yang gelap.


Bisa dibilang ngebet kali yaahh.


“Uhh...ahh”


sengal nafas Nara saat Reandi tiada hentinya menggeluti tubuh istrinya.


“Hmn” hirup Reandi di tengkuk leher Nara.


“Hen-Hentikan...Yang”


Ujar Nara dengan napas tersengal-sengal.


“Gak mau” balas Reandi cepat.


Pinta Nara dengan wajah memelas Reandi hanya mengangguk patuh.


“Maaf yah bikin kamu capek”


Ujar Reandi ia mengusap wajah Nara dan membenam kan di dada bidangnya.


“Kamu keterlaluan, sakit tau”


Rengek Nara membuat Reandi merasa bersalah.


“Iya aku minta maaf, soalnya udah lama gak sentuh kamu” jujur Reandi.


“aku pakai baju dulu”


Ucap Nara dan Reandi juga ikut pakai baju.


“Kita kapan keluar dari sini.”

__ADS_1


ujar Nara yang berada di pelukan Reandi.


“Bentar lagi, kita tinggal dulu di sini”


peluk Reandi pada Nara, tatapan mereka bertemu dan terkunci beberapa saat, Reandi mencium bibir Nara dan mencium leher jenjang Nara.


“Sstt”


Desis Nara ia hanya diam tak bergeming.


“Astaga, Reandi apa yang kamu lakukan pada nara” histeris pak Johan menyorot kan baterai kearah mereka berdua.


‘Ck ganggu aja ni orang’ batin Reandi kesal


“Trus yang diliat bapak saya lagi ngapain?”


Datar Reandi menatap pak Johan tajam.


“Kamu, kamu melecehkan seorang gadis, yang bukan muhrim kamu”


marah pak Johan memisah kan Nara dan Reandi.


“Justru saya muhrim pak.”


Jawab Reandi ia memeluk Nara di hadapan pak Johan.


“Kamu bohong, saya akan laporkan ke polisi atas tuduhan pelecehan”


Tunjuk pak Johan membuat Reandi menyipitkan matanya.


“Kalo begitu saya laporin bapak, atas tuduhan selingkuh dengan sesama guru, mungkin kalo istri bapak tau bapak sama Bu Eliza di hukum mati” ancam Reandi sambil menunjukan Poto tak senonoh antara Bu Eliza dan pak Johan saat di ruangan sepi.


“Kamu, bisa tau dari siapa?”


Tanya pak Johan gemetar.


“Saya yang Poto sendiri kebetulan.” datar Reandi.

__ADS_1


__ADS_2