
“Anak-anak panti asuhan, kita akan di ambil oleh pak bamar. karena ibu telat bayar pengembalian uang yang kita pinjam, untuk makan sehari-hari.”
Sendu ibu panti asuhan membuat Nara terduduk lemas.
“Ya tuhan, ujian apa lagi?”
Gumam Nara di kamar di sela-sela tangisnya, ia teringat dengan nomer seseorang yang pernah ia jumpai.
“Apa dia bakalan bisa membantu? Aku ragu,”
Ujar Nara ia mondar-mandir bingung antara menghubungi nomor tersebut atau tidak.
“Hmm, coba aja deh siapa tau dia mau bantu,” gumam Nara menekan nomer deretan angka, ia pun meneleponnya.
“Halo,”ujar Ravandi di telepon.
“Ha-halo, ini aku Nara,” gugup Nara.
“Oh, Nara? Ada apa?” tanya Ravandi.
“Bisa kita ketemu besok kak? di taman anggrek kebetulan besok hari minggu, ada sesuatu masalah yang ingin aku kasih tau ke kak Ravandi,”
Ujar Nara memberanikan untuk langsung to the point pada masalahnya itu.
“Oh, baiklah kebetulan besok aku juga libur. sampai ketemu besok, aku ada urusan yang masih belum selesai. aku tutup ya teleponnya,” ucap Ravandi.
“Ma-maaf menganggu kak,” ujar Nara.
“Enggak papah,” ujar Ravandi.
“Kita ketemu, jam 09:00.”
“Baik,”
“Selamat malam,” ucap Nara.
“Selamat malam,” balas Ravandi.
Keesokan harinya Nara menunggu di tanaman anggrek. ia mondar mandir tak karuan hingga ada seseorang yang menepuk pundaknya dari arah belakang.
“Nunggu lama?” tanya Ravandi.
“Eh, kakak udah Dateng,” terkejut Nara ia segera duduk.
“Iya maaf, ngangenin kamu,”
Senyum Ravandi, membuat jantung Nara berdetak kencang.
“Aku–?” ujar Nara ia bingung.
“Ada apa?”
Tanya Ravandi sambil duduk di samping Nara.
“Aku minta bantuan kakak, untuk menyelamatkan panti asuhan, bisa kan kak?”
Ucap Nara langsung to the point dengan rasa malu.
“Hmm?” bingung Ravandi karena Nara.
“Maksud aku, Apa kakak bisa bantu masalah aku. ini tentang panti asuhan yang akan di ambil oleh pak bamar, karena ibu panti telat mengembalikan uang 200 juta dalam kurun waktu 1 tahun dan di tambah bunga menjadi 400 juta,”
Jelas Nara ia memilin ujung rok nya dengan tangan gemetar.
“Aku tau kita baru bertemu pertama kali, tapi aku malah udah minta sesuatu sama kakak,”
malu Nara ia meruntuki dirinya sendiri.
__ADS_1
“Oh, kamu gak boleh sedih. aku bantu,”
Ujar Ravandi ia menggenggam tangan Nara.
“Makasih, sebagai gantinya kakak boleh nidurin aku,” Pasrah Nara ia benar-benar menjual harga dirinya sekarang.
“Apa kamu suka kasih tubuh kamu ke orang lain?” tanya Ravandi muram.
“Eng-enggak pernah,” jujur Nara.
“Kamu gak usah kasih tubuh kamu, aku bantu kamu bukan karena tubuh kamu, tapi–” ucapan Ravandi tergantung.
“Aku ingin kamu keluar dari sekolah, dan tinggal di vila bersamaku,” lanjut Reandi.
“Baik enggak masalah”
Bohong Nara ia sejujurnya berat untuk putus sekolah, karena itu hasil dari kerja paruh waktunya untuk bersekolah.
“Kamu tenang aja, SMA kelas 2 kamu bakalan sekolah,”
Ujar Ravandi ia mengerti Nara pasti berat untuk putus sekolah.
“Bukannya, masuk SMA harus lulus SMP?” heran Nara ia bingung.
“Rahasia, kamu bakalan tau pas kamu kls 2 SMA,” senyum Ravandi.
“i-iya,” ragu Nara.
Apa orang ini bisa di percaya? Batin Nara berkecamuk.
“Eumh, tujuan kakak ingin aku tinggal di vila apa?” tanya Nara was-was ia takut orang yang di sampingnya adalah orang jahat.
“Kamu penasaran? Aku pengen kamu jadi orang suruhan aku,” jawab Ravandi tersenyum.
“Maksud kakak?” tanya Nara.
“Kenapa milih aku? Aku kan gak jago berantem, apalagi membunuh,” ujar Nara menggedikan bahunya.
“Tenang aja kamu bakalan di latih kok, oh iya setuju enggak sih?”
Kedip Ravandi membuat Nara menjadi salah tingkah.
“Setuju, jadi kapan aku ke vila?”
Tanya Nara mencoba menenangkan diri.
“Nanti sore aku jemput kamu,”
ujar Ravandi membuat Nara membulatkan mata.
“Bukannnya, terlalu cepat? Gimana aku kasih alesana sama ibu panti?” tanya Nara ia bingung.
“Kamu liat aja nanti sore,”
Senyum Ravandi lagi membuat Nara jantungnya berdetak kencang tak karuan.
“Jantung kamu berdetak trus? Kenapa?”
Tanya Ravandi ia mendengar jantung Nara berdetak kencang.
“Eng-Enggak,” kilah Nara ia merasa malu.
“Nanti aku transfer, aku pulang dulu waktu aku udah selesai,” ujar Ravandi ia berdiri.
“I-iya,” jawab Nara.
“Nanti kamu kirim nomer rekeningnya di WhatsApp ya,” ujar Ravandi saat akan pergi.
__ADS_1
Setibanya di panti asuhan, Nara bergumam di kamarnya sambil menunggu transfer dari Ravandi, hingga ponselnya bergetar dan pesan masuk, total uang 450 juta.
“Emm,”
“Ibu... Ibu Marwah,”
Teriak nara ia keluar dari kamar dan menggedor pintu kamar Bu Marwah.
“Eh, iya ada apa Nara?”
Tanya Bu panti sambil membuka Daun pintu.
“ibu Marwah aku udah dapet uang 400 juta buat lunasin hutang panti,” ujar Nara.
“Eh,Kamu dapet uang dari mana nak?” terkejut ibu panti.
“Ada yang mau ngadopsi Nara Bu,” bohong Nara.
“Ta-tapi ibu belum tau ada yang mau ngadopsi kamu?” heran Bu panti.
“Nanti sore ibu bakalan tau, Nara udah transfer ke rekening ibu 400 juta,”
Jawab Nara ia tak mau banyak bicara.
Waktu yang ditunggu telah tiba, sore menjelang magrib Ravandi akan menjemput Nara ke panti asuhan.
“Nara, kamu mau kemana?”
Tanya Bu panti melihat Nara membawa koper.
“Orang yang mau mengadopsi aku, bentar lagi Dateng,”
“Siapa?” heran Bu panti.
“Itu orang nya Dateng,”
Tunjuk nara ke daun pintu yang sudah terbuka.
Ravandi datang menggunakan stelan Jaz rapih serta kacamata, Bu Marwah mempersilahkan Ravandi untuk duduk.
Mereka membahas tentang adopsi Nara, awalnya Bu Marwah ragu karena pria yang di hadapannya masih lajang.
Namun Ravandi mengatakan bahwa ia ingin mengadopsi Nara atas perintah ayahnya, Bu Marwah setuju, dan Ravandi membawa Nara ke villanya.
Satu tahun berlalu, hari-hari Nara di lalui ujian berat. ia dilatih bela diri serta cara bersembunyi, hingga menyamar serta akting.
Nara juga berlatih menggunakan senjata juga.
“Nara karena kamu lulus, maka bulan depan kamu akan sekolah di SMA kelas 2,”
Ujar Ravandi saat malam ia duduk bersama Nara.
“Serius?”
Girang Nara ia bahkan sampai memeluk Ravandi.
“Eh,maaf kelepasan,”
Ucap Nara ia buru-buru melepas pelukannya.
“Kamu pasti lelah,” ucap Ravandi ia memeluk nara.
“Kenapa kakak peduli, cape aku enggak seberapa sama jasa kakak yang nolongin panti asuhan,” senyum Nara.
“Nara, saya suka sama kamu,”
Jujur Ravandi membuat Nara kaget.
__ADS_1