
“Oh,” cibir Diana kesal.
“Eh, sayang kamu ikut juga di kelompok aku? kita emang jodoh,”
Genit Reandi sambil memeluk Nara membuat Nara malu.
“Lepasin rend, kamu bisa gak sih jaga jarak!” malu Nara sambil menutupi wajahnya.
“Karena anggota sudah di persiapkan, jadi ibu akan memanggil kelompok satu persatu. kelompok 1 silahkan berangkat, kelompok 2 dan kelompok 3,”
Bu Eliza memanggil kelompok satu persatu dan seterus nya.
>>>[DIPERJALANAN]<<<
“Sayang, kamu capek enggak? Kalo capek aku gendong,”
Tawar Reandi membuat diana cemburu.
“Gak usah, aku khawatir ada mata yang coplok akibat liat kemesraan kita,”
Sindir Nara membuat diana tersinggung.
“Maksud kamu apa hah? Nyingung aku!?” dorong kasar Diana pada Nara.
“aku gak nyindir kamu kok? Kerasa yah?” polos Nara.
“Iya, emang kenapa?”
Jujur Diana membuat orang-orang yang mendengarnya berbisik-bisik.
“Sorry ya,”
sinis Nara ia melanjutkan langkah nya bersama Reandi dan yang lainnya, meninggalkan Diana di belakang sendirian.
“Awas aja kamu Nara, aku bakal rebut Reandi dari kamu! Mungkin cara ini Reandi kamu bakalan jadi milik ku,”
__ADS_1
Ucap Diana ia memegang obat di tangannya dan mengepalnya dengan erat.
Malam telah tiba, tapi perjalanan masih panjang. Tim Reandi, akhirnya memutuskan bermalam ditengah perjalan yang dituju.
“Oke, kita istirahat dulu di sini. pasang tenda jumlah orang kita 12 orang jangan ada yang kurang oke,”
“Sekalian nyalain api,” lanjut Reandi.
Disisi lain Nara sibuk memasang tenda dengan sebelah tangannya, dan di bantu oleh dion sedangkan Diana ia mulai merancang rencana jahatnya.
“ Bagian perempuan masak ya.”
“Siap!” kompak mereka menjawab.
Disaat semua orang sibuk dengan pekerjaan tugas masing-masing.
Reandi datang, ia menghampiri Nara dan memeluk pinggang ramping nya dari belakang.
“Sayang,” panggil Reandi.
“Sayang, boleh yah....”
Ucap Reandi ia meremas dada Nara, untung saja tidak ada siapa-siapa di sana karena Nara sedang berada jauh dari tenda.
“Boleh, kebetulan aku juga lagi kepengen,”
bisik Nara di telinga Reandi.
“Serius? Kamu belajar dari mana sayang?” goda Reandi.
“Aku belajar dari kamu,” jujur Nara.
“Jadi, hari ini juga ada pelajaran tambahan buat kamu,”
bisik Reandi di telinga Nara.
__ADS_1
“Cpk... Cpk... Hmm... Akh...”
desis Nara setelah ciuman dengan reandi.
“Kamu buat aku, kerangsang terus sayang,”
deru nafas Reandi memburu.
“Ta-tapi pakaiannya jangan di lepas semua ya!” malu Nara sambil menutup mulutnya.
“Tenang aja sayang....” bisik Reandi.
Reandi memulai aksinya.
Sampai waktunya ada pengangu datang.
“Kak Reandi, kamu dimana, kami lagi kesusahan sih, bantu kami,”
Teriak Ersan dari kejauhan membuat Nara tersentak kaget, ia melepaskan adik Reandi membuat Reandi ******* nya tergantung.
“ Sayang....” rengek Reandi pada Nara.
“Gak, bisa Ersan bakalan kesini!”
Ucap Nara ia merapikan baju nya, dan pergi meninggalkan Reandi sendirian.
Saat Reandi sedang merapikan bajunya, tiba-tiba ada tangan yang membekapnya dari belakang.
“Kak Reandi dimana sih, susah tau nyalain apinya”
Ucap Ersan sambil garuk-garuk tengkuk lehernya.
“Woy Ersan, api nya udah nyala!” teriak Meri.
Di dekan api Nara, masih membayang kan kejadian tadi, ia merasa malu ia merasa seperti wanita malam, ia meruntuki nasibnya mengapa tadi ia berprilaku ****** di depan Reandi.
__ADS_1