
“tenang aja gue gak akan ilang kok” kedip reandi.
“Ini pesanan nya udah jadi” ucap pelayan muda yang mengantarkan makanan, di meja.
“Makasih kak” ucap Reandi sambil tersenyum sedikit.
“Eumhh, boleh minta nomer telepon nya gak kak?” tanya pelayan itu sambil menyerahkan henphone nya.
“Saya–”
Ucapan Reandi terpotong karena mendengar teriakan Nara dari samping dan langsung Reandi menoleh ke sumber suara.
“Reandi”
Dengkus Nara sambil menghampiri Reandi dan menjewer kuping nya.
“A–Awss sakit lepasin”
Rengek Reandi merasa sakit di kupingnya.
“Kamu katanya mau ngejar aku! aku tinggalin bentar, mata kamu udah jelalatan”
amarah Nara sambil terus menjewer kuping Reandi.
“Salah paham kamu nar– Aku gak–”
Ucapan Reandi terpotong lagi, kini mereka berdua menjadi pusat perhatian di warteg.
“Apa?”
Tanya Nara sambil melepaskan cengkraman tangan nya dari kuping Reandi.
“Dia yang minta nomer aku, kenapa aku yang kamu salahi sih! Kalo mau marah tuh sama orangnya.” tunjuk Reandi pada gadis muda di depannya.
__ADS_1
“Kamu–Ngapain minta nomer pacar saya?”
Tanya Nara sambil berkacak pinggang.
“A–Anu kak saya kira mas nya lajang gak tau nya udah punya maaf”
tunduk gadis itu sambil gemetar.
“Ck sudah lah aku gak mau cari masalah, aku maafin lagian kamu gak sengaja”
Ucap Nara sambil menghela nafas.
“Ehem, cie yang cemburu”
ledek Reandi sambil berdehem.
“Apa-apaan sih” malu Nara dan kembali duduk di meja.
“Ciee udah ngaku aku pacar, tapi aku agak kecewa masih dianggap pacar bukan suami”
“Udah cabut omong kosong kamu! Cepet makan mumbazir”
Ucap Nara mulai memakan hidangan yang ada di depannya.
“Ciee malu niehh”
Goda Reandi mendapat bogem mentah di kepalanya.
“Kenapa sih? Kamu suka bener mukul kepala aku?” dengkus Reandi masih memegang kepala nya.
“kamu harusnya perhatiin image aku, malu tau kita ada di depan umum”
Lanjut Reandi sambil mulai meminum es teh di tangan nya.
__ADS_1
“Kamu tau malu?”tanya Nara.
“Tau! Emang nya aku gak tau Apah” balas Reandi.
“Gak tau malu.” jawab Nara membuat Reandi kesal.
“Aku tahu malu, bahkan aku gak malu maluin kamu” ketus Reandi sambil memalingkan wajah, berharap di bujuk.
“Ck Biasanya juga malu-Maluin”
cuek Nara membuat Reandi makin kesal ingin sekali ia memukul Nara, namun karena cinta ia tak jadi.
Satu Minggu berlalu, kini semua siswa akan piknik di gunung hijau,termasuk Nara dan Reandi ikut, dan kebetulan anggota OSIS yang menjaga keamanan di bus Nara adalah Reandi dan Diana.
“Sebelum berangkat ke gunung hijau, aku absen dulu takut nya ada yang ilang bisa-bisa brabe ni urusan” celoteh Reandi dalam bus dan mulai mengabsen satu persatu siswa dan siswi.
“Nara Ayulia” ucap Reandi.
“Hadir” antusias Nara.
“Nara ayulia” mengulang kata lagi, Reandi sengaja mengerjai Nara.
“Hadir, kuping kamu budek apa!” kesal Nara sambil berdiri.
“Enggak budek, emang sengaja” jujur Reandi membuat Nara ingin sekali menjitak kepala nya.
“Oke karena absen udah selesai kita berangkat”
Ujar Reandi dan bus mulai berjalan, ia menghampiri Nara dan meminta Linda untuk pindah.
“Ngapain kamu kesini?”
Tanya Nara menaikan sebelah alisnya.
__ADS_1
“Nemenin istri” goda Reandi.
“Bisa gak sih, Tu mulut lemes bener minta di cor kali” ucap Nara sambil membekap mulut Reandi.