MISTERI CINTA KU

MISTERI CINTA KU
BAD THINGS


__ADS_3

Dirgan mempercepat langkah nya,bahakan lari kecil,untuk segera Samapi di UKS setelah meredakan amarahnya. Sampai raga Dirgan pun terhentikan ketika ia membukakan pintu yang sama dibuka dari dalam.


Menampakan Sahan dengan ulasan senyum nya saat Dirgan datang. Sahan hanya sedikit syok,lubang di punggungnya pun bukan masalah besar.


"Kamu baik?"tanya dirgan


"Eemmm,aga berdenyut. Sepertinya akan membaik kalau makan dan di bayar oleh mu bagaimana-"Sahan menghentikan bicara ketika di tarik Dirgan dalam dekapan merasa lega.


"Hampir mati aku rasanya"ungkap Dirgan. Sahan membalas pelukan peria tersebut sembari mengulas senyuman terbaiknya. ia mengusap punggung Dirgan Tara yang sangat erat merengkuh pinggang.


"Itu hanya pulpen"


"Bagai mana dengan pisau?aku tidak akan pernah memaafkan diriku"sahut Dirgan. Sahan terkekeh takala ia mengeratkan pelukan nya dengan Dirgan.


Sahan kemudian melihat ke empat temannya yang masih di dalam UKS. Lisa dan juga Ceristal berlebihan ketika menangis. padahal Sahan tidak lagi sekarat.


"A-aku pergi sekarang nanti aku ceritakan"pamit Sahan kepada teman-teman nya.


"Kemana"tanya Dirgan


"Menemui Putra"sahut Sahan


"Tidak boleh"sahut Dirgan. ia membentangkan kedua lengan nya di amabang pintu,menghalangi Sahan yang menatap tajam pada Dirgan.


"kenapa?"tanya Sahan


"Karena dia sudah melukai mu"jawab Dirgan. Ia menggerakkan toros agar Sahan kembali naik ke atas kasur dan beristirahat saja seperti orang yang luka lainnya.Meski Dirgan membelalak karna Sahan menerobos dengan merunduk cepat.


"A-h-ha sebaik nya kamu harus membiasakan diri Sahan memang menyebalkan begitu,kamu harus memakluminya"ucap Agus kaku. Jangan Samapi Dirgan mengamuk karna Sahan memang sulit sekali mendengarkan orang apalagi iblis seperti Dirgan yang mendengus kesal.


Ia kemudian menyusul Sahan yang setengah berlari hanya untuk menghindari Dirgan. Ia berbelok ke sebelah kanan dan langsung dan menyembunyikan diri di balik pilar gedung.


Jujur,Sahan juga takut ketika membantah,sebab tadi ia mengabaikan perkataan dirgan,yang meminta nya untuk tidak menyentuh peria manapun.


Sahan mengawasi koridor dimana Dirgan belum lewat juga,apalagi spontan Sahan menjerit,sebab Dirgan meniup telinganya dan sudah di belakang tubuh Sahan.


"Kamu tidak mendengar perkataan ku Sahan?"tanya Dirgan. Sahan mengusap dada nya yang berdebar kencang, saking kaget nya dengan kehadiran Dirgan tersebut.


"Ini kesempatan aku Dirgan,aku harus bertanya pada Putra, apahkah intan sama di tindas tidak nya seperti dia"jelas Sahan


"Tidak bisa. Aku bilang tidak boleh,artinya jangan di lakukan Sahan"sahut Dirgan.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa melarang aku Dirgan"ucap Sahan


"Ini bukan larangan,tapi ini perintah"jelas Dirgan


"Aku juga tidak mengikuti perintah mu. Aku bukan orang bodoh."cetus Sahan


"Jangan membantah Sahan"tekan Dirgan. Ia menarik lengan Sahan yang memilih pergi setelah mendengarkan ucapan Dirgan.


"Ucapkan terimakasih juga sudah cukup"timpal Sahan. Ia melawan tatapan Dirgantara yang akan sulit di ajak kerjasama bila ia terus melarang Sahan.


Kekasih Dirgan ini mengusap suraynya prustasi karna Dirgan tidak bergeming. Putra mungkin tidak berniat melukai Dirgan bila peria ini tidak menendang punggungnya.


Dirgan hanya memper buruk keadaan saja. Sahan lantas melepaskan genggaman tangan Dirgan karna beberapa menit bekerjasama dengan nya sudah bikin pusing.


"Jika kamu tidak mau tidak apa,maaf aku memaksa. Kali ini aku akan melakukan nya sendiri. kamu bisa pergi"jelas Sahan


Dirgan pun sama berdecak nya. Ia sungguh tidak punya waktu hanya untuk memuaskan rasa penasaran dari kematian teman Sahan. Dirgan sangat sibuk.


"Sial,kenapa harus intan yang mati"umpat Dirgan. Ia mendengus kesal serta mengedarkan pandangan ke luar jendela untuk memuaskan emosi terpendam nya.


"Meskipun orang lain aku akan tetap men_"


"Itu berbahaya Sahan!"bentak Dirgan. Sepertinya Sahan tidak mengerti juga. Ia bisa saja terseret dan kemudian menjadi korban seperti Hera.


"Salah.........aku yang berbahaya di sini. Kamu mengajak orang yang sebenarnya jahat.Jangan ikut campur apapun tentang sekolah ini,atau kamu dalam bahaya oleh ku. Cepat kembali ke kelas"jelas dirgan


Sahan tidak bergeming satu halpun tentang pertanyaan Dirgan yang satu itu.Dirinya tahu betul, Dirgan merupakan neraka yang membuat nya menderita.


Namun itu sudah lama. Satu tahun sepertinya sudah merubah Dirgan menjadi lebih dewasa. Sahan bisa merasakan nya. Bila peria ini berubah menjadi lebih baik dan tahu apa yang harus iya lakukan sebelum bertingkat.


"Kamu juga salah kamu gabisa menyakiti ku"timpal sahan


"Tentu saja bisa kenapa harus tidak bi_"


"Karena kamu menyukai ku...."timpal Sahan. Ia melangkah mundur ketika Dirgan tiba-tiba Dirgan tidak bisa mengatakan apapun untuk menjadi alasan agar Sahan bisa masa bodo sama urusan orang lain.


"Dan aku yakin itu"lanjut nya. Sahan lantas membalikan badan nya. Ia melangkah sekuat tenaga hanya untuk menghampiri Putra. Meski dari kejauhan pun,Dirgan bisa melihat dengan jelas noda merah di seragam wanita tersebut membuat Dirgan berada di posisi serba salah.


Ia tidak bisa melarang, menyakiti atau pun memaksakan kehendak nya seperti dahulu.


"Kamu rumit sekali Sahan"

__ADS_1


********


"Aku baru menemukan satu kasus, belum memiliki bukti juga. Sepertinya aku membutuhkan bantuan anda"ucap Degun,ia tidak mungkin memeriksa semua anak sekolah dan mengambil ponsel seorang penindas.


Ia membutuhkan guru Novi untuk menyita ponsel mereka,dana Degun bisa leluasa mengambil nya.


"Meski pun aku menyita ponselnya,aku tidak tahu murid mana yang kamu tuju"timpal guru Novi


"Aku sedang mencari nya"ucap Degun. Ia kemudian mematikan panggilan tersebut serta mengedarkan pandangan mencari satu siswa yang menindas yang merekam seorang siswa yang membuka baju nya.


Degun lupa memeriksa nama nya. Ia harus berpapasan dengan nya agar Bu Novi bisa leluasa menargetkan,ponsel siapa yang akan dia ambil.


Degun berdecak,ketika mentari tengah naik-naik nya serta menyilaukan mata hingga membuat nya pusing jika harus memaksakan diri untuk berkeliling di lapangan serta memeriksa setiap nama siswa yang hampir mirip dengan orang yang dia lihat.


Sampai atensinya mendapati orang yang ia cari,keluar dari gedung sayap kiri.


Ia bersama keempat teman nya termasuk Ari dan Redi. Bu Novi memperkenalkan kedua siswa tersebut kepada degun,mereka merupakan pemimpin dari kawanan yang senang tiasa bersama dengan Dirgan.


Degun mendekati mereka berempat hanya untuk membaca nama teg yang tertera di dada mereka.


Walaupun langkah Degun terhentikan takala ia juga mendapat presensi Sahan yang berlari dari ruangan UKS menuju sayap kiri.


Sontak saja,hal tersebut membuat Degun teralihkan dan mengejar Sahan di bandingkan mencari tahu nama orang yang ia incar.


Raut wajah nya menggambarkan rasa cemas dan penasaran,belum lagi,Degun belum bisa melihat seragam Sahan yang berwarna merah di bagian punggung. Ini cukup membuat nya punya alasan untuk ikut lari masuk kedalam gedung.


Apalagi,saat sampai di gedung tersebut,teriakan Sahan telah menginvasi ruanagn. Begitu pun dengan Isak tangis Hera yang memeluk kedua lututnya.


Degun membelalak manik ketika di sampai di lantai dua dengan pemandangan yang mengerikan.


Putra terkapar tak sadarkan diri dengan hidung dan mulut nya penuh dengan darah. begitu pun dengan Hera yang bertelanjang saat baju nya di robek. Degun dengan sempontan memperteli baju seragam nya serta menghampiri Hera.


"Periksa denyut nadinya"ucap Degun. Sahan bukan nya menangkap apa yang Degun katakan. Tubuhnya gemetar,dan rasanya takut sekali melihat putra.


Lukanya terasa berdenyut kuat,hatinya ikut perih melihat kedua temannya menderita sampai sejauh ini. Tanpa seorang pun yang menolong mereka.


Air matapun menetes tanpa sebab,setelah Degun memberikan seragamnya kepada Hera . Ia kemudian memeriksa Putra dengan menekan denyut nadi.


"Sahan!"bentak degun. Sahan terhentak ketika dia kembali dari rasa syok yang Degun bangunkan.


"A-aku...."

__ADS_1


"Panggilkan ambulance!"ucapnya. Degun merunduk serta mendekatkan pendengaran kepada hidung putra yang membuat Sahan semakin geger.


"Dia mati...."


__ADS_2