
"Ari"sahut Lisa. Sontak yang mempunyai nama menggulirkan pandangan nya kepada Lisa yang berlari untuk menghampiri nya. Lisa terlihat lemas dan kelelahan setelah mengelilingi sekolah untuk mencari seenggoka manusia.
"Kamu lihat Sahan tidak? soalnya, tadi dia bilang mau ke parkiran gerbang sekolah"tanya Lisa.
"Markas"sahut Ari. Lisa mengangguk kan kepala. Ia beralih halu dengan melangkah kan kaki menuju gedung sayap kanan meski Ari sepontan menahan lengannya.
"Markas yang lain"ucap Ari
"HM, dimana? kenapa banyak sekali markas?"ucap Lisa
"Bukan di sekolah"jawab Ari.
"Eh, tuh anak gimana sih"Lisa merogoh sakunya, ia lantas menghubungi Sahan lantas mereka harus mengumpulkan tugas ekonomi hari ini. Namun, USB tersebut ada di tangan Sahan Sanjaya yang banyak melupakan banyak hal ketika bersama dengan Dirgan.
"Ada urusan mendesak?" tanya Ari
"Iya, ini hari terakhir ngumpulin tugas. USB ada pada Sahan. Kita bisa engga dapat nila ekonomi dan hanya dapat setengah dari peresensi"jelas nya khawatir. Ari hanya mengangguk. Ia melihat jam waktu istirahat masih banyak.
"Masih ada waktu, biar aku antar"ucap Ari
"Boleh?"
"Tentu"Ari mempersilahkan Lisa jalan terlebih dahulu menuju gerbang depan, saat dirinya berlalu menuju motor yang baru terparkir, dia harus pergi lagi ke markas Dirgan. Ari sedikit tahu tenteng Sahan karna ia di tugaskan mengawasi nya dahulu.
Pacar dari bos nya ini orang gila yang menyukai pelajaran ekonomi. Sahan bisa mengamuk, bila nilai kurang karena Ari mengantar menemui Dirgan.
Meski itu keinginan Sahan, namun ini hanya untuk berjaga-jaga saja, takut ia kena imbas. Karna Ari yang mengeluarkan nya di jam sekolah.
Sahan memang terlalu pokus, ia tidak mengangkat panggilan dari Lisa karena perhatiannya tenggelam pada adegan saling mengecup Ruli dan siswa lain.
Mereka saling membalas dan menuntut satu sama lain. Sahan bahkan selalu tidak bisa melakukan apa-apa jika Dirgan menyerangnya.
Namun, hal seperti ini memang di perlukan untuk timbal balik. Mereka memang harus bisa melakukan nya, Sahan lantas menggulirkan, pandanga kepada pria di belakang nya yang tertidur sembari memunggungi Sahan.
Dirgan kecewa Karana Sahan menolak tidur bersama. Sahan lantas mengambil ponsel Dirgan. Ia melakukan penelusuran mengenai pemahaman dasar orang yang berciuman.
__ADS_1
Jelas ini pertama kalinya bagi Sahan mencari hal-hal yang tidak berguna. Hanya karna Dirgan juga orang pertama menciumnya, tidak seperti Ruli yang bergunta ganti wanita.
Yang perlu Sahan lakukan untuk membalas Dirgan. Dia hanya perlu menarik napas atau melakukan hisapan. Tidak ada hal atau ke ahlian khusus untuk melakukan nya selain keberanian.
Sisanya Sahan hanya perlu merasakannya. Entahlah mengenai apa yang Artik ini katakan. Karana katanya berciuman memiliki banyak manfaat semisal dapat menghilangkan rasa setres,atau membuat hati merasa bahagia termasuk menjadi lebih awet muda bila rutin di lakukan.
"Eh, apa-apa ini"keluh Sahan. Hal-hal seperti ini menurutnya tidak pantas untuk di pelajari seperti yang Dirgan katakan. Sahan menghela nafas berat karna rekaman ini membuat nya merasa bosan. Tidak ada jejak untuk interaksi intan dan Ruli saat ini.
Ia menyandera kan tubuhnya pada punggung Dirgan, sampai Sahan menegakan tubuhnya kembali, lantaran seragamnya merasakan lebam. Ia menelisik dengan seksama, Dirgan yang sudah basah kuyup oleh keringat sampai membuat Sahan geger.
Ini persis seperti yang terjadi di rumah. Sahan mengusap pipi Dirgan sebab ia menggeleng samar dan mulai mengayunkan kembali kaki nya.
"Dirgan bangun"pinta Sahan
"Bu......"lirihnya
"Dirgan!" sontak hal tersebut membuat Dirgan kaget dengan kedua mata yang memerah, ia terengah kala mengedarkan pandangan bila dirinya masih berada di ruangan ternyaman karna markas ini ramai oleh teman-temannya.
"Tidak apa, itu hanya mimpi"ucap Sahan. Ia mengusap kening Dirgan dan mengulas senyuman meski Dirgan langsung mendekap Sahan. Untung saja Sahan tidak membiarkan Dirgan jatuh terlalu dalam.
"Istirahat lebih banyak Dirgan. Biar tubuhmu lebih tenang, sekarang coba tidur tanpa memikirkan apapun"Jelas Sahan. Ia menggesekkan hidung nya kepada Dirgan, karena pria manis ini juga hanya mengangguk lugu menuruti Sahan dengan kembali memejamkan matanya.
"Kamu tetap di sini kan?" tanya Dirgan
"Iya, lagi pula aku tidak tahu jalan pulang"sahut Sahan. Dirgan mengulas senyum. Ia menggenggam tangan Sahan serta menarik nafas dalam-dalam untuk kembali tidur. Setidak nya melakukan hal tersebut tidak terlalu sulit di lakukan kali ini.
Sesuai yang Dirgan duga, Sahan membuatnya nyaman karena Dirgan hanya menginginkan kehadiran wanita tersebut untuk menemani dirinya. Ia bisa tertidur meski tanpa obat.
Seusai membuat Dirgan kembali tenang, Sahan kembali memfokuskan pada layar lektop, terlalu banyak durasi yang akan ia habiskan bila melihat salah satu wanita. Sahan mempercepat lalu-lalang siswa.
Termasuk intan yang kini mulai ada dalam rekaman, serta bisa Sahan selidik seksama bila temannya tengah membaca buku, dan sesekali ngobrol dengan Ruli.
Sahan rindu dengan teman pendiem dan lugu nya itu, andai saja Sahan bisa memutar waktu. Ia akan menjadi pendengar yang baik untuk intan kapanpun wanita itu membutuhkan nya.
Memang benar yang Ayah nya katakan, penyesalan selalu datang belakangan. Sahan hanya bisa meratapi kepergian intan, namun tidak sesekali sebelumnya. Sekarang sudah tidak apa.
__ADS_1
Sahan bisa mengatasi kesedihannya dan kadang lupa dengan apa yang tengah di menghujam hatinya karena orang-orang yang di samping Sahan tidak membiarkan dia kesepian atau merenung sendirian.
Sahan sibuk, dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan sekarang untuk intan sekarang adalah mengungkapkan kebenaran, Sahan sudah tidak perlu sedih lagi. Ia harus tegar untuk menguak hal tersebut. Ia akan menyampaikan terlebih dahulu para siswa lain yang menjadi korban Ruli.
Intan merupakan korban nyata yang kehilangan nyawa akan ia prioritas kan, meski ketukan pada pintu ruangan Dirgan membuat Sahan menggulirkan pandanga kepada Dirgan yang sudah tenang dan kembali tidur.
Semoga saja bukan orang tua Dirgan atau pun Bi Surti, akan seperti apa jadinya jika mereka tahu jika Sahan ada di sini dan tidak pergi untuk bersekolah. Ia dengan ragu menghampiri pintu mengintip siapa yang Dateng.
"Sahan!?"panggi nya.
"Oh, Lisa!?" Sahan lantaran membuka pintu ia kaget karna Lisa bareng dengan Ari yang sudah mengantar dua wanita kemari. Sahan kemudian mempersilahkan keduanya nya untuk masuk.
"Eih, USB tugas kita Sahan, ini hari terakhir. Kamu giman sih, presentasi kita kemarin bisa saja cuma dapat nilai setengah"omel Lisa
"Oh iya, ya ampun!" Sahan merogoh sakunya, ia memberikan USB tersebut kepada Lisa yang akhirnya bisa menghela nafas lega, karna ia pikir Sahan kehilangan benda tersebut.
"Maaf"ucap Sahan
"Tidak apa, ini memang sifatmu"Sahut Lisa. Kemudian ia mengedarkan pandangan serta melihat meja yang sedikit berantakan dengan USB dan data tentang Ruli. Sahan sepertinya sudah berambisi ingin segera menemukan penanggung jawab kematian Intan.
"Apa dia minum obat tidur lagi?" tanya Ari. Kedua wanita itu memusatkan pandangan kepada ***Ari yang memeriksa kening Dirgan dan menyelidiki pernafasan atas nya.
"Padahal sudah ku sembunyikan banyak" keluh Ari
"Tidak ko" sahut Sahan. Ari menaikan satu alisnya, Dirgan seperti pecandu yang ketergantungan pada obat tersebut, ia tidak mungkin beristirahat jika bukan karna pil. Sudah beberapa kali, Ari dan Redi juga mencari cara untuk penyakit yang akan membuatnya bosan gila semakin cepat bila terus mengonsumsinya, namun sampai sekarang belum bisa di temukan.
"Serius? terus, dia tidur gimana?" tanya Ari
"Hanya.... memejamkan mata" sahut Sahan bingung. Ia harus bilang apa kepada Ari, karena memang manusia pada umumnya seperti itu kan? hanya memejamkan mata dan tidak memikirkan apapun supaya terlelap.
Ari terperangah, ia menatap sahan yang tengah mengusap tekuknya, sampai ia sampai bertukar pandangan dengan Lisa Karana Ari tiba-tiba saja menyeringai untuk suatu hal yang tiba-tiba saja terbit darai pikirannya.
"Lalu, bagai mana dengan Ruli" tanya Ari
"Aku masih mencari tahu nya. Karna banyak sekali durasinya, meski di percepat tidak akan selesai dalam waktu beberapa hari" sahut Sahan
__ADS_1
"Sepertinya aku punya cara yang paling ampuh untuk menjebak nya, kita manpaatkan dirimu Sahan***"