MISTERI CINTA KU

MISTERI CINTA KU
SILENT CRY


__ADS_3

***Tidak ada yang menarik bagi Sahan, kecuali cerita Dirgan yang mulai terbuka padanya, Pria ini kesulitan Karan harus mengatur urusan sekolah serta bisnisnya yang sudah mulai berkembang tanpa bantuan siapapun kecuali Ari dan Redi.


Sahan juga mulia menahan-nahan untuk bertanya mengenai orang tua Dirgan yang tidak jelas kerjaannya apa Karan terus mengandalkan anak mereka untuk bekerja. Namun, semuanya menjadi lebih baik setelah Dirgan.


"Diragan plis"pinta Sahan.


"Olahraga adalah hal yang aku suka Sahan, Tidak mungkin aku melewatkannya"jelas Dirgan. Ia terkekeh sebab Sahan sedari tadi terus membujuk agar dia tidak ikut acara pariwisata pelajaran olahraga yang menjadi nilai ujian tengah semester.


Sahan Merasa dia tidak akan pernah Fokus di ujian nanti bila akan bersama dengan Dirgan yang pasti mengganggunya. Karana jadual sosial dan senis akan di satukan.


"Kamu bisa berolahraga di tempat lain. Ayolah Dirgan, aku berencana mendapatkan nilai sempurna termasuk pelajaran olahraga"ucap Sahan. Ia menggeming lengan Dirgan yang tidak fokus dengan dokumen nya.


"Jadi, kamu ingin nilai sempurna dengan menyingkirkan aku, kemudian nilai aku kosong karna tidak ikut?"tanya Dirgan. Sahan menemukan bibir nya, ia bener tidak akan bisa fokus bila ada mahluk tampan yang melihatnya saat bertanding nanti. Aku pasti dipastikan nilai nya bisa saja berkurang.


"Demi akau"pinta nya


"Eeh, kamu egois"keluh Dirgan


"Ayolah......"


"Tidak Sahan"


"Plis?"


"Tidur dulu dengan ku. Baru aku akn melewatinya?" Sahut Durga. Sahan sontak saja bangkit berdiri serta menghentikan kaki nya. Membujuk Dirgan hanya akan membuang waktu dan energi saja.


Ia lekas pergi meski Dirgan menggeleng samar. Memangnya apa yang Sahan takut kan karna mereka hanya akn pariwisata berasa saja, tidak perlu berlebihan seperti itu. Dirgan juga memerlukannya nilai supaya ia cepat lulus dan menikahi Sahan.

__ADS_1


Dia tercekat sebab wanita yang baru dirinya Dirgan pikirkan ternyata masuk kembali ke dalam ruangan setelah tadi bertekad akan memberontak dengan pergi serta meninggal bibir yang tertekuk kebawah dengan sempurna.


"Eih, kaget kenapa tidak bersuara"Sahut Dirgan. Sahan tidak menjawab Dirgantara karena ia berlalu menuju rak buku serta mengambil Novel.


Sahan akn menghabiskan masa kesalnya di sana. Dan melampiaskan pada manusia pendosa besar tampan yang menjadi kesayangan ratu vampir, setidaknya Sahan mendapatkan hiburan dari sana.


*****


"Maaf tuan..."lirih nya. Rold terkekeh saat Amelia bersujud dengan apa yang ia inginkan. Wanita ini membuatnya sangat senang menindas. Sebab Amelia menurut begitu saja dengan yang ia perintahkan. Lisa yang merekam kejadian itu pun hanya bisa memegang ponsel nya gemetar.


Sudah merasa puas dengan bukti yang ia dapatkan. Lisa lekas beranjak bangkit. Ia tidak kuat melihat pelecehan yang Amelia terima hingga tubuhnya ikut lemas, sampai ponsel yang harusnya masuk kedalam saku malah meluncur begitu saja ke lantai saking tidak fokus nya Lisa kali ini.


Menimbulkan debuman yang sampai pada telinga Rold hingga ia pun dengan cepat memeriksa ke adaan pintu toilet gedung sayap kiri tersebut.


Lisa meraih ponselnya nanar. Ia beranjak menegakan badan sampai tercekat sebab Rold sudah ada di depannya. Pria tersebut menyeringai. Ia memasukan kedua lengannya kedalam saku saat berjalan menghampiri Lisa yang memundurkan langkah perlahan.


"Lihat apa kau?"tekannya kembali


"Cukup Rold"Lisa dan Rold menggulirkan pandanga kepada Ari yang datang sembari mengusahakan tekuknya. Ia baru saja dari ruangan Redi karna dirinya pengangguran serta berjalan-jalan sebentar di sini.


Untunglah dia sampai dengan cepat, karena Sahan bisa ngamuk kepada Dirgan bila temanya menjadi korban penindasan, kemudian Dirgan tidak lari jauh-jauh melampiaskan nya kepada Ari dan Redi.


Dia kemudian menarik Lisa untuk kebelakang punggung nya sebab Rold pun hanya bisa merunduk tidak berdaya di depan Ari.


"Hentikan kebiasaan burukmu, Redi sudah mendapatkan peringatan. Kamu tidak takut keluar dari tim?"ucap Ari


"Aku hanya memberi pelajaran saja, Amelia mencuri ponsel ku dan akan menyerahkan kepada guru bimbingan konseling, kemudian Lisa ketahuan mengintip, aku belum melakukan apapun kepadanya"jelas Rold

__ADS_1


"Sudah kau pergi"timpal Ari. Rold mengangguk kan kepala, ia kemudian melewati keduanya untuk kembali ke gedung sains. Begitupun dengan Lisa yang langsung bergegas masuk ke toilet, meski Ari menarik lengan nya hingga sepontan Lisa berbalik dan berhadapan dengan pria tinggi ini dan dingin.


Ari terkenal sebagai orang yang jarang banyak bicara, namun ia selalu setia bersama dengan Dirgan. Mereka berteman sejak sekolah dasar, pernah beberapa kali bertengkar hingga bergulat di lapangan, akan tetapi besoknya mereka sudah berpelukan dan berkumpul bersama lagi.


"Jiak kamu ingin sekolah tenang sampai lulus, lebih baik jangan ikut campur urusan orang lain"jelas Ari


"Jadi aku harus diem saja, saat teman-teman ku yang lain juga mencoba untuk mengumpulkan bukti kebusukannya teman-temanmu?"Lontar Lisa. Ia melangkah mundur ketika Ari mendekatkan tubuhnya, tatapan pria ini jauh menyeramkan dan penuh penekanan di banding sebelumnya.


Lisa terhenyak sebab ia tersudutkan di tembok dekat toilet. Ia berusaha menghindar dengan melangkah ke arah kanan, meski Ari menahan nya dengan memegang bahu Lisa yang tidak bisa berkutik.


"Operasi nya di batalkan, meskipun diskusi kalian membuahkan hasil, kami tidak akan membiarkan operasi nya berjalan tanpa izin dari Dirgan"jelas Ari. Ia menarik ponsel Lisa yang tercekat. Ari menyalakan layarnya serta menilik benda pipih Lisa yang terkunci.


"Kenapa kamu seperti orang yang menunduk dengan keputusan Ari? aku tahu kamu juga ingin menjalankan operasi nya?"lontar Lisa


"Dari dulu, keputusan Dirgan yang utama, Karna dia selalu mempertimbangkan semua orang. Ia tahu apa yang beresiko atau tidak, aku bukan tunduk. Aku mengikuti apa yang terbaik untuk dan keadaan kacau ini, pekerjaan kami hanya bukan soal masalah remeh seperti ini.


Banyan yang harus di prioritaskan dan kamu tidak akan pernah paham, jadi berhentikan aksimu lalu peringatkan teman-teman yang lain, karna kalian hanya akn merepotkan bila bertindak tanpa pertimbangan kami"


Ari mengacungkan ponsel nya, ia kemudian memasukan benda pipih tersebut kedalam saku sampai Lisa terperangah karena Ari mengambil ponsel nya tanpa izin.


"Akan aku kembalikan setelah menghamus semua bukti yang ada di ponsel ini"jelas Ari. Lisa menahan lengan yang akan membawa ponselnya. Ini memang keterlaluan sampai membuatnya geram karena Ari akan melanggar batasan dengan membuka ponsel orang.


Tapi apa yang bisa Lisa lakukan hanya bisa menatap Ari yang menunggu apa yang akan dia katakan. Semuanya tercekat di tenggorokan, mereka sudah tahu jika Dirgan akan menghalangi operasi mereka dan menambah rintangan saja.


Lisa pun hanya bisa berpasrah dengan kembali melepaskan lengan Ari serta menggulirkan pandangan ke arah toilet. Rasa kemanusiaan mereka jauh lebih besar di banding para pekerja yang katanya tidaakan di pahami Lisa. Mereka mengutamakan teman, di atas kepentingan sendiri.


"Terserah.........cegah aku kalau bisa, kamu hanya manusia yang tidak punya balas kasihan sama orang"jelas Lisa. Lalu ia masuk kedalam toilet untuk membantu Amelia. Serta berpasrah dengan ponsel dan bukti yang sudah ia kumpulkan***.

__ADS_1


__ADS_2