
Setelah satu menit menangis Dirgan yang senantiasa menyodorkan tisu kepadanya, Sahan menghentikan tangisannya karena ia sudah merasa bila matanya Sakit. Dirgan memang menghindar karena ia merasa bersalah atas teragedi yang menimpa Sahan. Jika saja dia tidak meninggalkan Sahan dan turun terlebih dahulu, mungkin kejadian nya tidak seperti ini.
"Mataku sakit" rengek Sahan.
"Memang merah sekali" sahut Dirgan. Ia menyeka sudut mata Sahan yang menekuk bibirnya, Sahan menyenderkan tubuh pada sofa ruangan Dirgan ketika satu kakinya berada di atas meja.
"Seharusnya, kalau kamu merasa bersalah jagin aku!"perotes Sahan. Ia sesegukan sembari memejamkan matanya.
"Aku menjagamu, kamu pikir aku masuk ketoilet wanita hanya karena kebetulan?" Sahut Dirgan.
"Magsudnya di sampingku. Kamu juga tidak menjagaku dan tidak menghubungi ku" ucap Sahan.
Dirgan tidak menjawab perkataan Sahan yang juga tahu Dirgan Setipa malam kerumahnya di atas jam dua belas hingga jam tiga pagi. Dirgan kemudian beralih dengan mengambil kan susu untuk Sahan yang menerimanya.
"Ada yang sakit? Mau di periksa?" tanya Dirgan. Sahan menggelengkan kepala, meski tubuhnya memang sakit kembali setelah terpeleset, namun dia tidak ingin di periksa siapapun selain dokter yang Ayah nya undang kerumahnya. Karena kamu tidak, ia bisa ketahuan ia remuk tulang bohongan.
Dirgan lantas menelisik kaki Sahan, lutut atas dengan memar keunguan serta tangan Sahan juga yang banyak dengan hal tersebut. Dirgan menghela nafas nya berat. Ponsel Sahan juga berdering, mendadk bila ia harus minum obat.
"Oh obatnya"
"Akan aku ambilkan, kamu makan dulu"jelas Dirgan. Sahan mengangguk kepala ketika ia di tarik Dirgan untuk bangkit. Pria ini bahkan langsung mengangkat tubuh Sahan yang membawa tongkatnya untuk ke kantin.
"Lewat jalan belakang gedung lagi, malu" pinta Sahan. Dirgan tanpa banyak bicara mengikuti kemauan Sahan. Tipikal Dirgan akan menurut apa bila Sahan kenapa-napa. Seringayan Sahan juga ternampak jelas karena kini Dirgan ada di sampingnya, ia harus memanfaatkan situasi ini untuk memeras Dirgan.
Seisi kantin melongo, termasuk teman-teman Sahan Karena Dirgan membopong kekasihnya secara terang-terangan masuk ke area tempat istirahat siswa. Sahan bahkan terkekeh manis saat ia di turunkan tepat di kursi samping Agus.
"Jaga dia" titah Dirgan. kemudian ia lantas beranjak pergi setelah meninggalkan tatapan marah kepada teman-teman nya. Karena mereka meninggalkan Sahan sendirian sampai ke peleset di kamar mandi.
"Lo engga ngomong juga udah gue jagain bego"ucap Agus setelah Dirgan menjauh. Sahan menepuk lengan taman nya yang tercekat memang ia juga yang sedikit keceplosan barusan. Tidak terima di tatap nyalang oleh Dirgantara.
"Kok bisa?" tanya Ceristal.
"Aku jatuh di kamar mandi, untung Dirgan ada. Dia ternyata ngikutin" sahut Sahan.
"Astaga lo ceroboh banget" ucap Bayu.
"Kalau engga jatuh Dirgan engga mungkin nyamperin. Udah engga papa ini kesempatan. Tapi Diragan sedang marah sama kalian, karena ia pikir Kalain meninggalkan aku"Semuanya serentak mengalihkan pandangannya kepada Sahan.
Walau begitu teman-temannya belum tahu kejadian singkat Sahan ini telah mengalami papa, karena matanya bengkak dan memerah. Mereka memilih tidak bertanya untuk hal itu.
Sahan juga lebih fokus memesan makanan, meski teman-temannya sudah selesai urusan di kantin. Mereka akan kembali masuk ke kelas ketika Dirgan kembali.
Pria itu mengambil obat Sahan, serta akan menjaga nya muali saat ini sampai Sahan sembuh sesuai permintaan tuan putri untuk kesalahan Dirgan karena meninggalkan dirinya.
Dirgan bahakan berlari, ketika ia ke kantin setelah mengobrak abrik tas Sahan dan menyerahkan obat tersebut kepada Sahan.
"Jadi malam ini tidak perlu menginap?" tanya Agus.
"Nginep lah, kan kemarin di rumah Lisa, sekarang bagian di rumah aku. Itu kan perjanjian nya sampai aku sembuh?" Sahut Sahan. Ke empat temannya mengangguk. Mereka sepakat akan pulang kerumah Sahan untuk menginap.
"Besok berarti di rumah Lisa, tapi aku tidak bisa nemenin engga papa?"tanya Sahan.
"Iyalah, gue juga paham"sahut Lisa. Sahan memperhatikan Dirgan yang meneguk cepat minuman nya saking haus setelah mengeluarkan kecepatan maksimum untuk kembali menemani Sahan.
__ADS_1
"Kamu mengunci rumah ganda?" tanya Dirgan. Ia terengah serta menatap Lisa yang saling bertukar pandangan dengan
teman-teman nya.
"Tidak, memangnya kenapa?" sahut Lisa. Rumah bagian depan biasanya jauh lebih aman, meski perumahan belakang telah mengalami kejadian pencurian karena satpam mereka hanya sedikit sekali.
Wilayah kompleks Lisa memang luas. Namun penghuni nya baru sedikit, mereka melakukan iuran bulanan untuk satpam yang hanya cukup dengan jumlah uang yang mereka kumpulkan Saja.
"Kunci ganda muali sekarang, simpan senjata di bawah bantal. Seperti alat kejut listrik, pura-pura tertidur ketika melihat bayangan seorang pria dan lapor polisi, hanya saran"jelas Dirgan
Ia lekas beranjak serta menghampiri penjaga kantin ketika semua orang malah terpengarah dengan perkataan Dirgan. Tentu saja itu berarti Dirgan membenarkan apa yang Lisa rasakan selam ini. Bila memang selalu ada pria yang baik ke atas balkon rumahnya.
Dirgan kemudian kembali duduk setelah mengambil satu botol air, sampai dirinya kaget ketika Sahan menggebrak meja.
"Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu Dirgan! kamu tahu sesuatu?"tanya Sahan.
"Tidak, itu kan saran"
"Tapi kamu membenarkan bila halusinasi Lisa ini benar"timpal Agus.
"Kapan aku bilang?"
"Oky, kalau begitu jangan ada yang menginap. Biar Sahan sendiri yang menemaninya di rumah nya"tegas Bayu.
"Ehi, mana bisa perempuan berdua di rumah tanpa ada siapa-siapa" sewot Dirgan.
"Tidak apa, kami sudah terbiasa"sahut Sahan.
"Menginap berdua"
"Itu kam bahaya!"lima orang di depan Dirgan tiba-tiba membeku, begitupun dengan dirinya memejamkan mata sebab ia malah berakhir salah menjawab kata-kata yang mereka pancing. Kompaknya minta ampun, sampai Dirgan tidak menyadari bila mereka hanya mengumpan saja.
"Lisa temanku Dirgan" sahut Sahan.
"Aku tidak menyebutnya bukan"ucap Dirgan.
"Keselamatan dia penting bagiku. Aku tahu dia tidak tertarik ikut campur urusan orang lain. Tapi ini masalah teman-teman aku, aku terlibat di dalamnya"jelas Sahan.
Dirgan menarik napas nya kasar,ia melipat lengan di depan dada serta menatap Lisa yang nampak memucat sebab dugaannya selama ini bener sampai ia kesulitan untu tidur. Karena mereka merasa mengganggu sekali.
"Kamu segera makan Sahan, ala yang kamu tunggu?"tekan Dirgan. Sahan mengangguk kepala. Ia menyendok nasi penuh serta tetap mematri atensi kepada Dirgan yang masih mencoba untuk berpikir dengan apa yang ingin ia lontarkan.
"Kamu tahu Rio? Anak yang berkelahi denganku pada lelah sepuluh dulu?" tanya Dirgan.
"Rio yang ngasih Sahan boneka?" tanya Agus. Tentu saja mereka tidak akan lupa kepada Rio malang yang mencoba untuk memberi hadiah kepada Sahan dahulu.
Tapi dia malah di keluarkan dari sekolah karena telah berani mendekati kekasih orang gila yang membuat Sahan menangis kala itu, padahal Rio hanya memberinya boneka.
Apalagi Dirgan malah menyita barang tersebut secara paksa sari Sahan. Momen itu belum bisa mereka lupakan.
"Ya, dia hanya orang gila. Sebelum mendekati Sahan, dia sudah menghamili anak tetangga nya. Kemudian mengincar Sahan dan memasang kamera di mata boneka yang aku bakar, setelah keluar. Kemudian bergabung dengan time Ari bagian luar dan tinggal di kompleks yang sama dengan Lisa"Jelas Dirgan.
Ia menggerakkan toros agar Sahan lanjut makan. Karena mereka semua terpaku diam karena fakta terkuak sudah sekian lama. Dirgan mengambil paksa boneka pemberian Rio karena ada kamera nya. Keluar sekolah karena mengganggu Sahan, bukan mendekati dengan magsud pertama.
__ADS_1
"Cara dia selalu sama, delapan bulan lalu ia juga telah mendapati peringatan karena sering mengintip seorang wanita sampai hampir gila. Aku tidak bisa pastikan Rio atau bukan, tapi pria yang sering naik ke balakon atau menyalakan laser-"
"Betul! kadang ada laser yang menyenter ke kamar!' potong Lisa.
"Berarti, tinggal kamu incaran dia"sahut Dirgan. Semuanya terperangah Tidak percaya, mereka kemudian menggulirkan pandangan kepada Lisa dengan wajah memerah nya.
"O- Ok,tenang dulu. Berapa lama ia mengintai?"tanya Agus.
"Biasanya, dua bulan sebelum menyerang target, biasanya ia selalu mengumpulkan apa yang dirinya inginkan dulu, semisal Vidio Lisa mandi, berganti pakayan atau dia memakai baju seksi?" tanya Dirgan. Ia menjentrik pelan bibir Sahan yang sempontan yang lagi mengunyah makanannya.
"Ini baru sebulan semenjak orang tuamu pergi dan berhalusinasi ya?" tanya Ceristal.
"Kalau Lisa pindah bagay mana? Apa dia ngikut?" tanya Bayu.
"Antara ikut kalau pindah dekat, atau mencari mangsa lain. Sahut Dirgan. Semua teman-teman Sahan tertegun, mereka mencoba memikirkan apa yang terbaik untuk Lisa. Jika itu memang bukan halusinasi akibat dari tidak punya pacar setelah putus dari Putra, artinya ini cukup bahaya.
"Pindah ke rumah paman mu aja Lis gimana? itu kan paling jauh dari komplek kamu, dia tidak mungkin bilang balik untuk mengincar"saran Ceristal.
"Tapi, bagaimana jika dia beralih mencari korban lain?"tanya Bayu.
"Tidak apa, yang penting Lisa aman"sahut Agus.
"Aku setuju, yang terpenting aman"timpal Dirgan.
"Apa kita tangkap saja?" usul sahan.
"Jangan itu malah membahayakan Lisa"jawab Ceristal.
"Aku setuju, itu tindakan bodoh" timpal Dirgan. Semuanya menghela nafas berat serentak, kecuali Dirgan yang menggelengkan kepala karena mereka kompak sekali ferustasi.
"Hey, inget perinsip hubungan kita mengenai milik satu sama lain. Lisa memiliki kita, orang belum tentu, bagaimana korban selanjutnya adalah orang teripikal seperti Intan?"ucap Sahan.
Dirgan menjentrikan mulut Sahan yang terlalu banyak berbicara padahal ia baru makan satu sendok.
"Sahan benar, kita tangkap urang yang menggangu aku"ucap Lisa.
"Woah, aku baru tahu nyawa kalian banyak sekali"ucap Dirgan. Teman-teman Sahan memiliki tabiat yang sama seperti kekasihnya, mereka tahu apa yang terbaik untuk semua orang di banding mengamankan diri sendiri.
Mereka juga bersepakat akan membahas ini lebih lanjut di istirahat kedua karena mengingat jam pelajaran kedua sudah akan di mulai. Sahan bisa meminta izin dengan mudah karena cideranya. Jadi ia ditinggal kan bersama Dirgan yang mematri atensi kepada Sahan.
"Jangan mencari perkara yang membahayakan kamu Sahan, tidak kapok, Rold mendorong mu?" jelas Dirgan.
"HM? kok tahu Rold mendorong ku?"
"Dia benar mendorong kamu?!"sahut Dirgan emosi. Sahan berdecak akhirnya ia keceplosan juga membuat Dirgan kini mengeraskan rahangnya. Padahal, kemarin Sahan memberikan kesaksian bahwa kehilangan keseimbangan saja.
"Engga papa kan ada Arus dan Bayu, yang bisa menjaga aku"jelas Sahan.
"Kemarin pun tidak apa, ada aku. Tapi berakhir menjadi cidera sekarang"Sahan berdecak kembali, karena Dirgan masih saja mengungkit teragedi kecelakaan nya. Sahan juga sudah membiarkan Rold karena ia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal.
Sahan lantas menyendok nasi tersebut, serta menyodorkan nya kepada Dirgan yang membuka mulut dan melahap makanan yang Sahan berikan.
"Jangan terlalu serius, nanti cepat tua" ucap Sahan. Ia menyeka sudut bibir Dirgan karena ada nasi yang tertinggal di sana. Sahan kemudian meneguk air putih dan membuka obat miliknya.
__ADS_1