
"Woy! lo engga papah kan?"Tanya Agus. Ia berlutut di depan Sahan yang merunduk, begitu pun dengan teman-teman lainnya memeriksa Shan karna ia murung.
"Gila sih si Veri, tali kenapa kenapa lo lari Kitakan mau lindungi elo?"sahut Bayu.
"Astaga merah banget" Sahut Lisa keempat temannya sangat khawatir, namun mereka malah terpaku diam karna Sahan tiba-tiba saja terkekeh dengan manisnya.
"Merindu geue" bisik Ceristal
"Tidak, apa gays. Ini engga sakit ko"sahut Sahan. Ia menendang Agus agar menyingkir pandangan nya. Mereka sekarang ada di gedung olahraga banyak penonton terutama siswa yang sedang istirahat.
Jangan Samapi, derama nya jadi perhatian orang banyak, apa lagi teman-temannya berkerumun tidak jelas. Veri meminta Sahan menjadi penonton karena ia akan bermain basket hai ini.
Tapi teman-teman Sahan jika ikut kemari untuk memastikan keadaan nya baik-baik saja atau sudah gila saat ia diseret keluar kelas oleh Veri yang sedikit kasar dengan langsung memeluk nya. Sahan juga sempat mengatakan ingin putus tadi, itu kenapa dia mendapatkan tamparan.
"Sebaik nya kalin pergi dari sini, terutama kamu Ceristal"ucap Sahan. Ia menatap Gery yang terus memperhatikan Ceristal semenjak mereka masuk ke gedung olahraga.
"Ya, di sini cukup menyeramkan tapi tidak apa. Kita nonton pertandingan payah ini sampai selesai" ucap Ceristal. Setidaknya, ia tidak akan membiarkan Sahan sendirian di kursi penonton.
Teman lainnya pun menyetujui hal tersebut,
mereka mengposisikan diri kearah lapangan untuk menemani Sahan yang menjadi boneka Veri, walaupun mereka tidak tahu seperti apa jadinya bila Dirgan melihat Sahan seperti ini.
"Dirgan meminta kalian untuk datang keruangan Ari"ucap Sahan.
"Hah?!" keempat temannya kembali mematri atensi kepada Sahan yang masih menatap Veri karna peria ini benar-benar mengawasi dirinya dan memastikan Sahan tetap berada di tempat.
"Dirgan juga sedang menyelidiki kasus yang sedang terjadi. Intan dan Ruli, kita pun begitu, mungkin dia akan mengajak kalin bergabung"jelas Sahan.
"Ini kaya aneh kamu kaya mendukung nya"ucap Bayu. Sahan juga tidak menghindari kaya kelas sepuluh yang lalu. Ia sampai mengurung diri di dalam toilet untuk menghindari
"Dirgan yang dulu dan sekarang merasa berbeda. Itulah yang aku rasakan sekarang"sahut Sahan. Dirgan juga tidak terkesan memaksa. Meski dalam beberapa hal, memang dalam beberapa hal ia sedikit mengalihkan nya dengan hukuman, tapi Sahan bisa menerimanya.
Dirgan juga tidak melakukan hal-hal yang menyebalkan, semenjak bertemu kembali. Dirgan belum mengirimnya pesan atau panggilan, karna mereka selalu bersama.
__ADS_1
Bukan Shan yang terus menghampiri,namun Dirgan yang terus mengekor. Sahan suka, bila Dekan tidak memerintah serta dia yang selalu mengikuti di rinya terus.
"Loh, bukan nya sama kelas sosial tiga pertandingan nya?"tanya Agus. Sahan dan teman-teman yang lain pun ikut bertanya-tanya, bahkan yang Dateng tim Sains satu serta Dirgan sebagi tim kaptennya.
Sontak saja hal tersebut membuat manik Sahan nanar, ia bahkan tidak memberi tahu siapa yang menampar nya"kenpa dia ada di sini?" tanya Sahan
"Astaga, ini rasanya akan menjadi tegang" ucap Lisa. Siswa lain pun mulai berbisik, sains satu datang ke lapangan. Sahan beranjak bangkit untuk masuk ke area tersebut, meski Agus langsung menahan Sahan.
"Tunggu dan lihat, jangan memperparah keadaan" ucap Agus. Dirgan menggulirkan pandangan kepada Sahan, kekasih nya menggeleng samar meski Dirgan tahu, siapa yang membuat pipi nya memerah.
"Loh, sosial tiga mana?" tanya Veri.
"Kelas kami yang menggantikan nya, tidak masalahkan? atau kau mau lari?"tanya Dirgan. Lantas Veri lihat podium atas, dimana teman yang seharusnya tanding dengan dia, malah berada di kursi penonton.
"Kenpa harus lari, sama saja dengan siapapun" ucap Veri. Dirgan menganggukkan kepala, ia melepas bola kepada wasit yang di lakukan oleh Berian ketua OSIS.
"Kita pernah bertemu sebelumnya" ucap Veri
"Aku tidak ingat, aku lupa dengan orang-orang incaranku"ucap Dirgan. Sorakan pun mulai ketika time Sains sudah memposisikan diri.
Suara peluit tan pun menyala, bersamaan dengan bola yang di lempar keatas membuat Dirgan dan Veri meloncat tinggi untuk menggapai nya. Namun, Dirgan bukan menangkap bola tersebut ia malah memukul nya keras, hingga bola itu melesat cepat menuju teman Veri yang bertahan di sisi kiri, sampai menghantam tubuh nya.
Erang pun terdengar bersamaan dengan seringainya Dirgan yang membuat lapangan menjadi panas dalam waktu sekejap.
"Ups, tergelincir" ucap Dirgan. Harusnya, bola tersebut menghantam Veri, namun barusan memang melenceng kepada orang yang tidak bersalah.
"Kita ulangi"ucap Ari. Bos nya benar-benar, terlihat marah sekarang ini.
Shen meremas kuat rok nya sebab pertandingan tidak sesuai dengan peraturan yang harusnya mereka taati, time Dirgan selalu melakukan pelanggaran, akhirnya mereka bermain saling sikut serta menabrak tubuh sengit dan kasar.
Berian pun sama lelahnya karna harus terus meniup peluit. Terutama, Berian tahu kenapa Dirgan terus melakukan hal yang membuatnya kesal. Ia tidak mau bermain hanya mencari gara-gara saja.
Peluit panjang pun di tiup kencang, Berian mengeluarkan mengeluarkan kartu merah untuk Dirgan serta mengeluarkan dia dari tim, agar anggota lain tidak mengerang nya lagi dan tidak memicu pertengkaran.
__ADS_1
"Tunggu, dia kaptennya tidak bisa keluar"bela yangalain
"Dirgan banyak melakukan pelanggaran, ini tidak bisa di toleransi"ucap Bayu.
"Tidak jangan keluarkan dia. Sedari awal, permainan ini tanpa aturan"sahut Veri terengah. Teman-temannya beneran kacau dan babak belur. Seharusnya dia, membalas apa yang Dirgan lakukan. Veri sudah mengerti sekarang, ia hanya perlu membalas Dirgantara saja di babak kedua.
"Kamu baru menyadari ini, nyatanya" sahut Dirgan. Ia menyeringai sebab Veri ternyata merupakan orang yang sesuai dengan harapan nya. Ambisius dan juga tidak ingin di remehkan,ia juga pintar dan juga cepat tangkap.
"Atas dasar apa kamu melakukan ini?" tanya Veri.
"Bersenang-senang" sahut Dirgan. Ari mengoper bola kepada tim Veri, sebab ada atu tidak ada nya Dirgan, permainan akan tetap berlangsung.
"Aku bubarkan pertandingan nya jika melanggar peraturan" tegas Berian. Dirgantara berdecak, ia menepuk punggung Berian yang terlalu menghawatirkan banyak hal. Tentu saja mereka menghargai keputusan Berian.
"Tenang pak ketua, aku keluar kok"ucap Dirgan. Ari dan yangalain nya pun sudah tahu, apa yang harus mereka lakukan tanpa dirinya. Dirgan mengusap lutut sebab tadi lumayan sengit.
Bahkan time Veri mengaduh setelah mendapat sikutan dan hantaman dari Dirgan. Ia juga tidak tahu, siapa saja yang masuk tim Ari dan Redi di pertandingan kali ini, mereka juga jena imbasnya karena ada bersama Veri.
"Sahan ambilkan air" titah Veri. Langkah Dirgan sempontan berhenti, ia memandang atensi kepada Sahan yang sama membelinya karna Veri terlalu lantang dalam mengutarakan perintah. Karna sekarang Dirgan yang menatap tajam pada nya ini, membuat Sahan bingung harus melakukan apa.
Peluit pun mulai terdengar sebagai pertanda bila permainan kedua akan segera berlangsung. Dirgan melangkah kan kaki beristirahat, di bangku para penonton tepat di bawah Sahan yang berkeringat dingin.
"A_Aku akan mengambilkan air" ucap Sahan gugup
"Kau mau mati?" sahut Dirgan. Sahan semakin nanar ia menatap kearah Veri yang masih menunggu nya sambil bermain.
"Sahan! kau tuli!" teriak Veri. Sahan kaget saat Ari melempar bola basket tersebut.
Keras kepada Veri tepat saat ia mengatakan hal tersebut. Sontak saja, hal tersebut mengundang kericuhan akhirnya pecah setelah time Veri berusaha sabar.
Apalagi saat Ari meminta maaf sembari terkekeh ini telah menjadi ledakan mutlak bagi Veri. Ia melayangkan tinjuan kuat kepada nya. Momen yang di tunggu-tunggu Dirgantara sebab, akhirnya kedua time tersebut malah berkelahi bukan bermain.
Beberapa anggota hanya saling dorong serta menahan satu sama lain ketika Veri menghujam Ari yang tidak memberikan perlawanan. Tepat, pada tinjuan ketiga kalinya yang melayang untuk memberikan pelajaran kepada Ari.
__ADS_1
Dirgan memegang genggaman tersebut, ia memandang Veri Hinga peria ini terguling mundur. Suasana semakin ricuh teriakan siswa dan murid berani lain yang berusaha memisahkan.
Sahan mengusap Surai prustasi, ini memang gaya Dirgan sekalih. Sahan harusnya tidak datang ke sini dan harus berhati-hati. Dirgan mungkin tahu penyebab yang bikin pipinya merah