MISTERI CINTA KU

MISTERI CINTA KU
TIME TO WAR


__ADS_3

Waktu jam istirahat pertama pun berlangsung dengan mengesalkan, komite sekolah tidak berhenti untuk penggalangan dan untuk menarik perhatian masyarakat luas katanya. Ia kini tidak menggunakannya OSIS sebagai perwakilan suara siswa untuk mendatangi berkas persetujuan.


Komite hanya lebih membuat sebuah pengumuman bila iuran akan dilakukan mulai Minggu depan serta OSIS yang akan mengurus penggalangan secara rutin. Tarif, rupiah pun sudah di perkecil, menjadi setengah harga dari sebelumnya. Namun tetap saja membuat murid sebel karena mereka sudah tidak bisa perotes lagi.


Seusai semua siswa memakai cap yang di lakukan komite serta wakil kepala sekolah secara langsung, mereka membubarkan diri dengan kemulut di masing-masing hati. Beberapa siswa pun berwajah pucat karena mereka akan membebankan orang tuanya dengan hal baru lagi.


Begitupun dengan harimau Sahan yang tidak bisa menahan sesuatu bila itu mengganggu hati dan pikirannya. Sahan menerobos masuk kedalam ruangan Dirgan yang tengah mengadakan rapat penting bersama dengan kedua time serta kepala anggota teratas.


"Batalkan itu dan yang memberatkan siswa!" Tekan Saham di dalam hati langsung kedalam inti. Dirgan menghela nafas nya berat, begitupun Ari dan Redi yang saling bertukar pandangan. Dirgan mengusap tekuk lelah nya sebab Sahan malah melakukan penyerangan kepada nya. Resiko berhadapan dengan kekasih tengah datang bulan memang seperti ini. Dan menurut riset Dirgan semalam, wanita menjadi gampang emosian serta jauh menjadi sensitif.


"Kenapa perotes kepadaku Sahan? kamu engga lihat pesan yang aku kirim? Aku ada pertemuan penting"


"Karena kamu kepala sekolah nya. Ini yang kamu magsud penting ketika ada yang jauh lebih penting karena banyak siswa yang menangis dan siswa berperotes ke ruang guru yang tidak tahu apa-apa? sekolah ini kacau Dirgan! kacau!" demo Sehan.


"Iuran ini di adakan oleh komite dan wakil kepala sekolah, aku tidak tahu apa-apa karena mereka juga tidak membuat peroposal Sahan. Berperotes keruangan nya saja, aku izin kan kamu masuk bom sekalian!" timpal Dirgan.

__ADS_1


Sahan menghela nafas nya kasar, ia menghampiri Dirgan yang benar-benar terjeda padahal mereka sedang dalam keadaan darurat serta harus menemukan puncak diskusi secepatnya.


"Kalau begitu sama kamu perotesnya"ajak Sahan. Ia berkecak pinggang agar bisa mengancam Dirgan supaya dia tidak menolak ajakan Sahan kali ini.


*Iya lakukan nanti, kamu keluar dulu aku ingin menyelesaikan satu persatu"sahut Dirgan. Shan lantas mengedarkan pandangan untuk semua anggota yang menatapnya. Beberapa dari mereka bahkan terlihat seperti orang yang tengah menahan amarah. Tentu saja Sahan merupakan salah satu orang yang over terhadap rasa ingin tahu.


"Memangnya sedang bahas apa?" tanya Sahan.


"Masalah peria" timpal Dirgan.


"Boleh aku mendengarkan?" tanya nya.


"Aku tidak menyarankan, lebih baik kamu pergi"ucap Redi.


"Ya, wanita hanya akan ganggu jalannya rapat" timpal Ari.

__ADS_1


"Kalian kenapa.berpikir begitu? Aku tidak akan pernah mengganggu, anggap aja aku engga ada"ucap Sahan. Ia memilih duduk di samping Dirgan yang menyeringai. Sahan tentu saja merasa terpancing bila Ari dan Redi mengatakan hal tersebut. Itu hanya akan membaut dia tetap berada di sini. Dirgan mempersilahkan Redi untuk melanjutkan pembicaraan nya.


"Seperti yang akau katakan, mereka menunggu kita lengah, ini sangat berbahaya untuk sekolah Winter"jelas Redi. Sahan menatap orang-orang yang membuatnya bingung. Ia ketinggalan pembahasan sepertinya.


"Kapan turnamen akan di mulai?" tanya Dirgan.


"Turnamen basket? Seusai parawisata"timpal Sahan. Sedikit kemudian ia merapatkan bibir nya sebab telah menyela obrolan para pria yang membuat Sahan mendekap diri kepada Dirgan saking takutnya.


"Maaf" ucap Sahan pelan. Ia merasa tidak tahan lagi ingin bergabung, apalagi membahas tentang yang dirinya tahu.


"Kita balas dengan kekalahan mereka jika menyerang sekarang lewat turnamen"jelas Dirgan.


"Bukanya terlalu lunak?" tanya Ari.


"Ayolah, kita tahu cara mainnya"jawab Dirgan. Ari menyeringai. Ia mengangguk kepala ia paham untuk kali ini. Namun mereka juga harus membahas pencegahan karena Winter benar-benar rentan mendapatkan serangan.

__ADS_1


"***Jadi kita harus mulai siaga mulai hari ini, beri tahu semua siswa dan tim kita yang paling depan"jelas Dirgan. Seluruh kapten tim pun mengangguk. Mereka muali merogoh ponsel masing-masing sesuai kelompok. Sahan yang memperhatikan kini mulai paham, ternyata selain Ari dan Redi. Ada lagi yang memimpin kelompok masing-masing.


Ia juga ingin sekali beratnya dengan Dirgan, apa yang saat ini sedang mereka bahas karena terlihat sangat serius dan gelisah sekali. Namun Sahan mengurungkan niatnya, dari pada ia di usir dari ruangan yang mengandung ribuan tanya. Sahan juga mengintip tumpukan dokumen yang Dirgan miringkan supaya Sahan tidak melihatnya***.


__ADS_2