
" kami akan kerumah Dirgan" ucap Lisa Degun mengangguk saat ia mendengarkan perkataan Lisa. Mengenai siswa yang melakukan hubungan seksual dengan penjaga perpustakaan.
Bisa saja, ada hubungan nya dengan Intan meski hanya bermodal, bila ia sering datang kesana, di jam keluar sekolah.
"Lalu bagai mana dengan Rold dan Rian?"tanya Lisa. Ia sudah sepakat untuk menukar informasi dengan Degun. Sebagi siswa baru, Degun memang sudah ikut campur menyelidiki keadaan sekolah.
Karna hanya supaya ia bisa lulus dengan cepat, kemudian pulang dengan nama yang bersih dan sebuah sertifikat kelulusan.
Degun memang tidak akan menyia-nyiakan kesempatan di mana ia bisa bertemu dengan kekasihnya dalam jangka waktu yang dekat. Guru Novi sudah menjanjikan hal tersebut untuk nya.
"Mereka masih belum mendapat kan sanksi apa pun dari Dirgan. Mereka juga masih melakukan penindasan, kali ini siswa berbeda. Dia pakai kacamata, aku tidak bisa melihat nama tagany dengan dekat. Aku kan cari dia" ucap Degun
Lisa mengangguk setuju, kemudian ia mempersiapkan pria yang sibuk mencari kebenaran itu untuk pergi. Padahal, Degun harus mengejar banyak hal sebab ia masuk ke sekolah karna di pertengahan bulan semester pertama.
"Oh, ya Putra udah siuman. Dia akan memberikan kesaksian nya dan bila Dirgan bersalah, mungkin dia akn di berikan hukuman"jelas Degun. Lisa menghembuskan nafas nya berat, Hera sudah memberikan kesaksian bila ia tidak di tindas oleh Dirgan.
Akan tetapi, berbeda dengan Putra karna ia melukai Sahan. Veri pun begitu, kemarin ia menampar Sahan. Kemudian sekarang sudah keluar dari sekolah.
Kekasih temanya terlalu hebat hingga membuat Lisa merasa hawatir, ia takut bila Dirgan terlalu berkuasa serta menyakiti Sahan seenaknya nanti.
Namun, entah lah apa yang Lisa hawatir kan, sebab Sahan bagaikan bom waktu yang bisa kapan saja meledak. Ia membuka cepat kenop pintu Dirgan terperanjat karna Sahan menyusulnya ke markas mereka yang berada di halaman belakang rumah Dirgan.
"Sahan!? kenapa bisa kemari" ucap Dirgan nanar. Ia kemudian menggulirkan pandangan kepada Ari yang ikut masuk kedalam setelah memarkirkan motor.
"Kenapa tidak menghubungi ku dulu!?" tanya nya.
"Yah, begitulah" ucap Ari. Sahan lantas menyodorkan henponnya Ari yang ia ambil sebagai jaminan pria ini harus mengatra nya dengan selamat Samapi ketemu dengan Dirgan. Ari lantas mengambil ponselnya serta berpamitan kepada Dirgan, Ari memang tidak bisa menghubungi Pria tersebut untuk bersiap karna ponselnya di tahan.
"Aku akan kembali ke sekolah selamat berbincang" ucap Ari. Seusai menunggu teman Dirgan ini pergi dan menutup pintu. Bersamaan dengan suara motor yang hidup, Sahan berdecak pinggang mematri atensi kepada Dirgan.
__ADS_1
"Kamu mengeluarkan Veri Dirgan!? untuk masal ini?" tanyanya
"Dia yang ingin keluar sendiri" sahut Dirgan
"Jangan berbohong!"
"Aku terluka kenapa kamu berteriak" perotes Dirgan. Ia kembali menunduk diri saat Sahan mulai berdecak karna Dirgan berfokus kembali pada laptopnya. Sahan bahkan tidak ingin kalah, ia langsung menutup laptopnya dan langsung di geser dan duduk di meja tepat berhadapan dengan Dirgan yang menghindar.
Sahan melipat kedua tangan nya di depan dada. Dia akan mulai Interogasi pada Pria yang menghilang serta muncul malam di rumahnya dalam keadaan babak belur.
"Kenapa bisa terluka?!" tanya Sahan
"Berantem sama Veri" sahut Dirgan
"Kenapa berantem?"
"Dia berencana menculik mu"
Veri juga akan melucuti Sahan dengan iming-iming video dia berganti pakayan akan di sebarkan, Sahan tentunya tida akan menolak.
Dirgan kemudian mematikan rekaman singkat tersebut, jangan tanya Sahan berwajah seperti jambu merah. Sahan mencoba untuk tidak marah, meski seberapa pun mengecewakan seorang Veri.
"Tapi bukan berarti kamu bisa memutuskan pendidikan dia Dirgan"
"Sudah kubilang dia yang ingin keluar Sahan. Kamu pasti tidak percaya meskipun aku bilang seribu kali. Hanya karena aku yang menangani sekolah"jelas Dirgan
Ia juga terlalu malas berdebat dengan Sahan, suasana hatinya lagi teng dan menyenangkan, sebab ia memiliki Vidio sahan berganti pakayan. Dirgantara sudah kenyang memutar nya ratusan kali dari pagi.
"Tapi sekarang Veri sudah leluasa mengirimkan video ke_"
__ADS_1
"Sudah di hapus semua, aku sudah menangani nya. Dia banyak membuat salinan, dan itu pun sudah di bakar semua. Video yang asali cuma ada satu, dan ada padaku"
"Ada?" ucap Sahan datar
"Ada"
"Coba aku lihat, Veri belum menunjukan nya padaku" lontar Sahan
"Apa!? jadi kamu percaya begitu saja dia mempunyai Video kamu ganti pakayan?!" tanya Dirgan sewot
"Tapi beneran ada kan?"sahut Sahan.Dirgan terperangah, ia benar-benar tidak percaya dengan kekasihnya ini mau saja di bohongi selama berbulan-bulan.
Dirgan menyerahkan ponselnya, Sahan membuka benda pipih yang memiliki kata sandi,tanggal jadian mereka.
Sahan lantas memencet ikon galeri, dan melihat video dari nya mengganti pakayan, Veri sepertinya mengambil gambar dari ****** asi karna kamar nya di atas. Kemudian sial nya, Sahan mengganti pakayan di depan kamera yang memperlihatkan bra dan ****** ***** manis berwarna hitam.
Sahan menghapus video yang membuat Dirgan terperanjat. Ia merebut ponselnya, serta berusaha membatalkan penghapusan yang malah terjadi.
"Hah! Sahan! kenapa menghapus nya!? astaga! harta Karun ku!"Dirgan bapak panik, ia membuka pengaturan penyimpanan serta mencoba untuk mengambil data yang terhapus beberapa detik lalu.
"Kenapa kamu yang menyimpan nya" sahut Sahan. Ia celingukan untuk ruangan rumah sederhana Dirgan ini sepertinya mik dia dan teman-temannya.
Banyak sekali permainan yang bisa di mainkan, ada gitar, peralatan olahraga serta beberapa alat kelasik yang jarang di mainkan anak muda jaman sekarang.
"Oh sial! kembalilah"umpan Dirgan
"Dirgan, fokus"pinta Sahan.
"Itu video akan menjadi penyegar kalau aku lelah Sahan. Ah kamu! kenpa di hapus sih!"perotes nya. Sahan menggulirkan pandanga pada berengkas yang ia temukan dan Dirgan temukan di perpustakaan. Dirgan juga tidak cepat mengembalikan nya, berarti....ini bukan harta Karun milik Ruli
__ADS_1
"Ini sudah di buka, apa isi nya?" tanya Sahan
"Video **** Ruli dan korban-korban nya"