
"Sahan!kamu baik-baik saja?"tanya Ceristal. Dirgan dan pemilik nama sempontan menggulirkan pandangan kepada empat teman mereka yang baru saja keluar dari kelas.
Teragedi ini menghebohkan sampai mereka memutuskan untuk lebih lama dan menunggu sampai situasi sedikit tanang,untuk menghampiri Sahan.
"Teman-teman aku baik"sahut Sahan. ia merentangkan tangannya sebab Ceristal dan Lisa memburu tubuhnya. Sahan menepuk punggung kedua temannya dengan lembut.
Mereka benar-benar khawatir,terjadi apa-apa dengan Sahan yang mereka biarkan masuk lagi setelah ia bangun dari ruangan UKS.
"Wajah kamu kenapa?"tanya Bayu. Dirgan mengusap pipinya,bahakan ia lupa dengan rasa sakit yang berdenyut tersebut karna sudah terobati dengan sebatang coklat pemberian Sahan. Luar biasa sekali.
"Ah, itu ulahku"sahut Sahan.
"Uhhhh"sambut semua temannya serempak. Sahan malah terkekeh malu sebab dia sering kewalahan bila sedang emosi. Hidung Agus juga pernah berdarah ketika Sahan memukulnya Karana hal sepele namun berhasil membuat dia naik darah.
"Jadi tidak?"tanya Bayu
"HM?apa nya?"tanya Sahan
"Loh,Lo gimana sih, menginap kan ekonomi besok"
"Oh Yaampun!" ucap Sahan. Melihat jam tangan yang sudah menunjukan pukul satu siang. Mereka lupa bahwa hari ini ada kerja kelompok dadakan untuk menyelesaikan tugas ekonomi.
"Menginap?"tanya Dirgan. Sahan mengangguk kepala. Ini sudah di rancangan kan satu Minggu yang lalau,mereka akan mengerjakan nya saat-saat akhir pengumpulan tugas.
"Kita sudah sepakat jam enam sore. Aku langsung kerumah Agus setelah ini"jelas Sahan
"Menginap di rumah Agus"tanya Dirgan kembali.
"Okay, aku pulang dulu sampai ketemu di sana"sahut Ceristal. Mereka berpisah setelah mereka memastikan kerja kelompok akan berjalan semestinya serta mereka akan membahas hal yang satu ini.
Mereka juga meninggal kan Dirgan Tara yang masih bengong. Ia menarik lengan Sahan supaya wanita itu pokus kepadanya.
"Sahan kau gila?menginap di rumah peria?"ucap Dirgan sewot
"Banyakan"
"Tetap saja ayah memberi mu izin?ibu?sirena?"
"Mereka semuah tahu"jawab Sahan
"Tapi kamu_"
__ADS_1
"Ini tidak bisa di batalkan Dirgan"potong Sahan. Dirgan bengong dia tidak bisa berkata-kata karna Sahan tidak ragu dan tidak meminta izin terlebih dahulu padanya. Padahal acara inap menginap tentu saja merupakan masalah besar.
"Kamu,harus terpisah kamar dengan peria,Oky"ucap Dirgan
"Ya,pasti peria di lantai satu,perempuan di lanati dua" Sahut Sahan. Ia menarik lengan Dirgan yang terlalu banyak berbicara, keduanya lekas masuk kedalam Kedung UKS untuk mengambil kotak obat.
"Bukannya kita pergi?"tanya dirgan
"Ambil salep dan antibiotik serta pelestar. Lukamu harus di tutup, sepertinya parah karna aku membubuhkan alkohol salah pada wajah mu"ucap Sahan
"Apa?"
"Pengobatan nya salah"jelas Sahan. Dirgan kali ini Ter peranganh. Pantas saja terus berdenyut sampai iya menghentikan kaki kesal meski Sahan terkekeh dengan polosnya.
"Maaf,aku akan menembus nya dengan membayar makan siang kamu nanti"jelas Sahan. Lalu ia menarik lengan Dirgan untuk duduk di pinggir kasur serta memeriksa luka yang masih basah.
"Kau pikir itu saja cukup?"cetus Dirgan
"Tentu saja,kamu beruntung di teraktir sama orang cantik seperti aku"Sahut Sahan. Lalu ia kembali membersihkan luka Dirgan yang menyeringai takala menatap nya.
"Kamu percaya diri sekali"
"ya,karna kamu menyukai ku"Dirgan melingkarkan tangan nya kepada pinggang Sahan yang mengoleskan salep perlahan. Meniup pipi Dirgan lembut, kemudian menutup nya dengan pelestar.
"Soal apa?"
"Hubungan yang berakhir.......kamu dan aku tidak akan pernah ada putus. Semarang apapun kamu,tidak akhir untuk kita Sahan. Seberapa kali kamu bilang kita pisah,aku tetap tidak akan melepaskan kamu. Camkan itu"jelas Dirgan.
Sahan menganggukkan kepala paham,sampai kapanpun dia tida akan pernah lepas dari Dirgan. Terlebih,peria tersebut menarik tekuk nya. Secara sempontan Sahan membekap mulut Dirgan yang akan mengecup Sahan.
"Ini sekolah Dirgan"
"Tadi juga di sekolah"sahut nya
"Karna tadi sudah,berarti tidak lagi"
"Sahan,ini kebutuhan terus menerus. Tidak cukup sekali dua kali. Sesering mungkin,lagi pula kita sudah dewasa"jelas nya,Sahan terkekeh. Ia mencubit gemas bibir Dirgan yang mulai berani padanya.
"Engga yah!"sahut Sahan. Ia kemudian melepaskan dekapan Dirgan serta lekas pergi setelah membungkus salep dan yang lain nya masuk kedalam tas.
Keduanya pun berangkat kesebuah plaz untuk mencari seragam Dirgantara yang benar-benar sengaja tidak membelinya hanya supaya Sahan yang memilihkan untuk dirinya.
__ADS_1
Dirgantara malah semakin erat menggenggam lengan Sahan,karna ini pertama kalinya. Sahan mengajak dia untuk pergi,dulu memang mereka belum pernah bermain.
Dirgan juga tidak inisiatif mengajak Sahan. Ia lebih condong membawa nya kesana kemari di sekolah saja. Dirgan juga hanya sesekali mengantar Sahan pulang ke rumah,bila seseorang mengawasinya.
Untuk hari ini,Sahan menteraktir Dirgan es krim dan juga makan siang,dari hasil menipu Ayah nya. Sebab Dirgan benar-benar membayar sendiri untuk seragam nya.
"Kalau seragam aku,yang kamu cuci gimana?"tanya dirgan. Sahan menelisik seragam yang cukup kebesaran di tubuh Dirgan ini memang bagus untuk menutupi ototnya. Dirgan memang sudah tidak boleh mengumbar tubuh yang tercetak jelas.
"Aku buang, kayanya ini lebih cocok coba pakai"sahut Sahan. Ia menyodorkan seragam yang Dirgan terima. Kemudian sahan memilih celana abu-abu berbahan lembut dan dingin,agar nyaman untuk di gunakan Dirgan meneliti kancing kemeja nya.
Hingga di mana saat Sahan berbalik,ia sempontan menjerit karna dada bidang Dirgantara membuat nya langsung tutup mata.
"Dirgan!"bentak nya
"Hm?kata nya pakai"sahut Dirgan. Sahan menggeram dalam diam ia menghentakkan kaki ketika Dirgan malah Ter kekeh serta lekas memasukan kancing pakayan nya.
"Sudah"ucap Dirgan. kemudian Sehan membuka mata nya kembali. Ia menekuk kan bibir kemudian menyodorkan celana kepada Dirgan.
"Ukuran yang kamu L sekarang aku lebihin XL"jelas Sahan
"kenapa?"
"Kayanya ketat dalam bagian paha,kamu di rumah sakit itu terbaring lemah apah berilah"tanya Sahan. Ia sudah menayakan soal otot-otot Dirgan yang cukup mengganggunya.
Dia jauh berperawakan garang dengan wajah polosnya yang membuat Sahan bingung membedakan kedua nya. Ia juga malah semakin terpikat dengan badan peria ini.
"Aku hanya tiga Minggu di rumah sakit,sisa nya ia menemani ibu berolahraga"sahut Dirga. Ia meraih kan kerah baju seragam Dirgan. Baju nya sudah cocok setelah selama iya mencari sekitar satu jam.
"Kamu mau beli berapa?"tanya Sahan
"Dua pasang saja,kamu mau beli pakayan juga"tanya Dirgan. Sahan menggeleng kan kepala,dia tidak membutuhkan seragam Karan sudah mempunyai empat pasang pakayan tersebut.
"Masih ada waktu,sebaiknya kita langsung pulang saja,aku mau bersiap"ucap Sahan. Dirgan menganggukkan kepala,ia segera membayar seragam seragam yang di pilih Sahan walupun dirinya merasa seragam itu sedikit kebesaran.
Dirgan kemudian meraih kembali jemari Sahan yang celingak-celinguk mencari makanan. ia sekarang sedang kaya raya,uang bulanan nya bertambah dua kali lipat karna menjual nama Dirgan.
"kita makan apa lagi yah?"gumam Sahan.
"Setelah aku pikirkan aku akan ikut"ucap Dirgan. Sahan pun menggulirkan pandanga nya kepada Dirgan, yang sama mengedarkan pandangan nya untuk mol yang belum di jelajahi semuah.
Padahal Dirgan,ingin berlama-lama dengan Sahan.
__ADS_1
"Kemana?"
"menginap bersama mu"