
Satu jam pun berlalu,kehebohan di sekolah kembali terjadi setelah mobil ambulance datang dan mengangkut dua orang murid dari gedung sayap kiri.
Sahan juga menelepon polisi serta sesi pelajaran pun terpotong karna wakil kepala sekolah meminta agar semuah guru memulangkan semuah murid lebih awal.
"Sahan,bukan begini!"ungkap Degun panik. Shan sebagai orang yang paling murka ini telah menggenggam kuat sabuk Putra serta mencari orang-orang yang akan ia tuju.
Sahan tahu jelas kemana dia harus pergi harus membalas mereka semuah yang seharusnya tidak melakukan hal-hal yang tidak berpendidikan sama sekali.
"Sahan,ini akan membahayakan diri kamu sendiri . Jangan asal bertindak dan ....... Sahan!"ucap Degun
Sahan malah menendang pintu ruangan Redi. Di mana dirinya sebagai malaikat pencabut nyawa ini tengah menatap masing-masing orang yang ada di hadapannya.
Begitu pun dengan sosok Dirgan yang benar dengan perkataan Putra,semua orang yang ada di sini tentu nya kaget lantaran Sehan sebelumnya belum pernah masuk ke gedung sayap kanan.
Apalagi gaya untuk menyusul Dirgan yang menghampiri,hingga semua ank buah nya tercekat ketika melihat bosnya mendapati satu tamparan.
"Kita berakhir Dirgan. kita putus!"bentak Sahan ia meludahi seragam Dirgantara yang telah berhasil membuat amarah Sahan meledak.
Ia kemudian meminta tajam Rold dan juga Rian yang nampak pucat sebab harimau betina lebih menyeramkan ketika ia membentang sabuk yang mereka pakai untuk menyiksa Putra.
"Sahan! tenang lah!"cegah Degun. Ia menahan kedua lengan Sahan yang akan menghampiri dua bajingan tersebut. Di mana Dirgan pun sontak saja mencengkram lengan degun dan menatap nya tajam.
"Jangan menyentuh nya"tekan Dirgan
"Lepas!"bentak Sahan. Ia mencoba melepaskan tangan Degun yang menahan nya. peria ini juga mengabaikan Dirgan,sampai sebuah pukulan pun di layangkan oleh manusia tersebut hingga Sehan tercekat sebab Degun tersungkur.
"Dirgan!"teriak Sahan
"Tenang sialan!"tekan Dirgan. Ia baru saja akn menarik lengan Sahan malah dengan cepat memberikan sebuah tinju. Hingga pipi Dirgan pun berdarah ketika cincin di jari manis Sahan pun ikut memberikan pelajaran berharga.
Ari dan Redi sempontan memegang Sahan yang mengamuk. Memang benar apa ank buah yang sedang menjalani kasmaran,wanita sangat menyeramkan.
"Kalian pikir nyawa orang mudah untuk di dapatkan hingga mudah memper mainkan nya Samapi sekarat!"bentak Sahan
"Bagai mana reaksi orang tua kalian bila kalian ada di posisi Putra!"teriak nya lagi. Suara Sahan menginvasi dengan kegetiran yang ia rasakan sendiri.
Dirgan mengusap pipi kirinya serta menilik darah yang menghiasi jemari. Terasa sekali berdenyut sampai ulu hati.
"Aku sudah memperingati,Sahan.....ini bukan salahku"bela Dirgan. Sahan hanya tertawa dia kembali meludahi Dirgan yang akan mendekati diri nya.
"Benarkah?aku ingin tahu,siapa yang melecehkan Hera saat aku tidak sadarkan diri. Kau Dirgan?"tanya nya
Dirgan menatap tajam Sahan yang sudah cukup melampaui batas. Dirgan menarik lengan Sahan yang di pegang Ari meski wanita itu menghempasnya.
Dirgan sempontan Dirgan mencengkram leher belakang Sahan serta mendekat pada wajahnya. Sahan masih menggeram dengan kedua manik merah dan basah miliknya.
"Cukup,atau kau akan berakhir seperti Hera!"tekan Dirgan. Ia melepaskan cengkraman nya ketika air mata Sahan mengalir dengan deras.
Dirgan menarik lengan wanita tersebut supaya ikut dengan nya. Kekacauan seperti ini akan sangat merepotkan Dirgan bila ia mendiamkan nya.
"Bersiap semua. kembali ke masing-masing area"tegas nya
Ia menarik Sahan keluar untuk menjauh dari Degun yang sudah menangkap ruangan milik Redi.
__ADS_1
"Keluar lah kawan atau kami akan mengganggu mu"usir Ari. Degun pun mengundurkan diri. Ia menatap sejenak Rian yang dirinya incar. Video wanita tersebut ada di ponselnya.
Degun sudah mendapatkan nama,ia menghubungi Bu Novi dan menceritakan ciri-ciri peria tersebut bersama dengan nama nya rian.
Begitupun dengan Sahan ia terisak. Ia memukul lengan Dirgan lemas agar melepaskan genggaman nya, meskipun Dirgan berhasil menarik Sahan masuk ruanagn laboratorium kosong.
Sahan merasa getir ia tiba-tiba saja menginvasi ruanagn dengan tangisan dan air mata yang ia kucek sakit.
"Bajingan....jadi bener"rintih Sahan
"Aku tidak melakukan apapun pada Hera,aku hanya meminta mereka untuk memberi pelajaran pada Putra saja"sahut Dirgan
"Pelajaran aja Dirgan?kamu bilang pelajaran?"rintih Sahan.
Dia tidak habis pikir dengan pola pikir Dirgantara. Sahan mengusap suraynya prustasi karna ia sungguh terjebak dengan seorang iblis.
"Sahan,punggung mu terluka aku gamungkin diam saja"
"Pipi mu juga berdarah olehku. Pelajaran apa yang akan aku terima hm?Kau mau menamparku,di sini"tanya Sahan. Ia menyodorkan pipinya kepada Dirgan yang menarik napas berat.
Akan sulit berkomunikasi dengan Sehan yang lagi emosi. Apalagi,ketukan dari luar pun sudah menginterupsi mereka berdua.
Dirgan membuka pintu untuk orang yang membuatnya melebarkan manik,begitu pun dengan Sahan karna polisi sudah berada di sekolah.
Degun menarik asal seorang polisi untuk ikut bersamanya untuk menangkap Dirgan karna iya takut peria ini melakukan kekerasan pada Sahan.
"Ayah"ucap Dirgan
"Loh ko na Dirgan" ucap pak Johan. Sahan mendorong raga Dirgan yang bergeser dari pintu.
"Ada apa ini?kenapa wajahmu?"tanya pak Johan khawatir
"Kami bertengkar ayah,Sahan menuduhkan sebagai pelaku pelecehan"ucap Dirgan
"Dia memang pelakunya ayah tolong aku!"ucap Sahan. Johan lantas saja bingung,ia menepuk punggung Putri nya untuk menenangkan Sahan.
"Ya,sudah,nak Dirgan bisa ikut Ayah?kita bicarakan ini?"ajak nya. Dirgan pun langsung menyetujui hal tersebut
Sahan melepaskan pelukannya saat pak Johan saat mengeluarkan sapu tangan dinas kepada Sahan.
Namun putrinya ini dengan jahil mengambil borgol yang terselip di belakang pinggang. Lekas menarik tangan Dirgan meski usahanya di jegat Johan.
"Ehy, nak tidak seperti itu"larang Johan
"Tidak apa pak"sahut Dirgan. Ia menjulurkan kedua lengannya kepada Sahan yang masih menatap tajam serta tanpa ragu memborgol kedua lengan Dirgan.
"Tapi ini membuat para siswa salah paham"
"Tidak apa, putri mu yang memborgol aku. Bukan anda. Aku taku kalau anada yang memborgol nya"ulas Dirgan. ia mengulas senyum kepada orang yang pertama yang merestui hubungan nya bersama Sahan di kelas sepuluh.
Meski Paka johan mengancam Dirgan kalau dia macam-macam dengan putri nya ia akan menembak kepalanya.
Putrinya menghentakkan kaki serta melangkah kan kakinya sambil menarik borgol supaya Dirgan di kurung di dalam sel.
__ADS_1
"Apa masalahnya serius sampai kaptennya yang datang kemari?"tanya Dirgan . Ia menggulirkan pandangan kepada degun yang berada di sisi lain pak Johan.
Terlihat jelas bagai mna Degun memandang Sahan,cukup membuat nya sedikit membara
serta tidak rela ia ikut campur dengan masalah yang satu ini,padahal ia orang baru.
"Setiap masalah tentu saja serius Nak. Hanya saja kau Dateng Karan putriku bersekolah,aku langsung bergegas kesini setelah mendengar ada pelecehan di sini. takut saja itu Sahan"ucap Johan
Ia menjentrik lengan Sahan yang sempontan melepaskan trik nya pada borgol Dirgan, karena putrinya sangat kuat menarik,hingga mempersempit pergelangan lengan Dirgan.
"Apa luka di wajahnya karna kamu nak?"tanya Johan.
"Sayang,sekali aku tidak sekalian membunuh nya"ucap Sahan. Johan meringis,ia membawa kedua anak nya menuju lapangan upacara,di mana mobil ambulance dan polisi dan lalu lalang siswa memenuhi area tersebut.
Johan membuka pintu belakang mobil ambulance,serta meraih kotak obat dan menyodorkan nya kepada Sahan.
"obati nak"
"Aku"Dirgan mengulas senyum nya samar. Ia mendudukkan diri di belakang mobil serata menunggu Sahan yang akan berdebat dengan Ayah nya untuk mengobati luka Dirgan.
"Kamu yang melakukan nya belajar untuk bertanggung jawab"
"Is! Ga mau!biar dia kehilangan darah sekalian!" cetus Sahan. Ia terhenyak dan menelungkup wajah nya ketika Johan kan menjentrik mulut Sahan hingga Dirgan tertawa dengan puas.
"Ayah tidak pernah mengajarkan museperti pereman"ucap hujan. Sahan menekuk bibirnya. Iya menerima sodoran kotak obat dan serta duduk di samping Dirgantara yang merasa menang.
"Jadi siapa yang ingin berbicara terlebih dahulu"tanya Johan. Ia menatap secara bergantian, Degun,Sahan serta Dirgantara yang menatap Siswa,baru kenapa dia bisa terlibat.
"Aku ayah. Lisa tidak sengaja melihat penindas. Aku mengajak Dirgan untuk melihat nya juga. Terus Dirgan mengusir penindas nya. Tapi dia malah menendang putra Karan tidak mau mendengarkan dia, Putra tiba-tiba akan menusuk Dirgan dengan pulpen. Aku sempontan melindunginya, dan dia tidak berterima kasih padaku,tidak tahu diri sekali"gerut Sahan.
Ia menuangkan antiseptik kepada kasa dengan mulut berbusa nya. Sahan menceritakan tiba-tiba dia ada di UKS kemudian akan kembali menemui putra,meski Dirgan berusaha untuk mencegahnya.
Kemudian terjadilah Sahan menemukan Putra dan Hera yang menyedihkan bersama dengan Degun.
"Lalu,kamu tahu dari mana kamu Dirgan pelakunya?"tanya Johan
"Ck,ayah penindas itu teman-teman nya Dirgan,mungkin saja itu di suruh Dirgan"
"Itu baru mungkin"timpal Johan. Ia kemudian mengalihkan pandangan nya kepda Dirgan . Peria ini meringis sebab Sahan langsung membunuh kan alkohol kepada luka Dirgan dan menekan nya kuat.
"Bagaimana dengan cerita Sahan kamu menyanggah nya?"tanya Johan
"Tidak,aku memang menendang nya kesal. Aku juga tidak jadi menyelamatkan Putra karna dia menusuk Sahan. Aku berlari ke UKS,dan berada di sekitar sana. Namun Sahan yang sadar bersih kukuh ingin kembali pada putra,jadi aku keruangan Redi,dan melihat para menindas ada di sana. Aku mengobrol dengan mereka namu Aahan tiba-tiba Dateng dan mengamuk"
"Mungkin penindas nya Dateng setelah Dirgan kembali lagi ke UKS?"tanya Degun. Sontak saja,jl itu membuat Sahan diam . Tidak terpikir kan oleh nya hal tersebut.
"Tidak mungkin kenapa kamu mengobrol dengan para menindas?"tekan Sahan
"Kamu ingin cari tahu intan lewat putra. Jadi kutanya mereka penindas. Tapi mereka tidak melakukan nya kepada intan"jelas dirgan.
Sontak saja hal tersebut membuat Shan kaget. Perdugaan nya kepada Dirgan gamungkin salah,Dirgan pelakunya serta dia yang memerintah kan mereka adalah Dirgan. Ari dan juga Redi terlibat, merek juga harus di tangkap.
"Tapi kamu bilang tidak mau terlibat Dirgan?"kekeh Sahan
__ADS_1
"Aku tidak mungkin membiarkan kamu sendiri. Bagai manapun harus di pastikan saat putra sadar aku salah ayu tidak"