
"Bagai mana tidurmu, semalem nak?"tanya Dinda.
"Nyenyak sekali Bu"ucap Dirgan
"Nyenyak apa nya, di semalem bergadang bersamaku Bu. Samapi jam tiga, lihat kantung mataku"adu Sahan. Ia menyodorkan segelas susu kepada Dirgan yang merasa sungkan sebab ia sarapan dengan keluarga Sahan untuk pertama kalinya.
Dirgan pun hanya menerima apa yang Sehan taruh kedalam piring nya. Ia juga berpasrah saja takala Sahan menyendokan nasi banyak untuk Dirgan yang tidak bisa menolak.
"Jangan di biasakan, itu tidak baik" jelasnya. Jonathan ikut gabung ke acara sarapan pagi, dengan wajah lesunya semalaman memikirkan apa yang terjadi kepada Celara.
Ia mematri atensi kepada Dirgantara yang tampak gusar. Akan nya ini tersiksa semaleman, apa yang iya bayangkan sampai semerintih itu menyebut nama ibunya.
"Sahan.....aku harus pulang"bisik Dirgan
"Katanya kamu hari ini tidak punya urusan?"tanya Sahan
"Aku tidak enak badan, aku pulang yah?"pinta Dirgan. Sahan menggelengkan kepala nya, Ia menyodorkan sendok supaya Dirgan memakan makanan yang sudah ia sediakan.
"Setelah ini"Sahut Sahan. Dirgan menghela nafas nya berat, ia menilikan makanan yang tersaji di depan nya. Serta menyenangkan nasi tersebut agar cepat selesai dan usai. Dirgan merasa merepotkan sekali Karana Ibu Dinda juga menyiapkan menu sarapan untuk hari ini.
"Aku menyetujui nya"ucap Jonathan. Sahan dan Dirgan serempak menggulirkan pandanga kepada Jonathan, begitu pun dengan Dinda yang baru kembali setelah membangunkan Sirena.
"Apa nya?"tanya Dirgan
"Kamu melamar putri ku aku menyetujui nya. Bila orang tua mu juga Dateng"Jelas Jonathas. Dirgantara terpaku diam,ia mematri atensi kepada Jonathan yang melakukan hal sama. Pembicaraan serius memang harus di selesaikan dengan cepat.
"Ay_Ayah kita sedang makan"cula Sahan gugup
"Jika kamu serius bawa orang tua mu kesini. Aku tunggu, bila tidak sebaik nya kalin berpisah"tegas nya.
"Ibu ku sakit, Ayah ku sangat sibuk"jelas Dirgan. Dia tidak mungkin membawa ibu nya atau Yohan yang tidak bisa di ajak bekerja sama.
"Kalu begitu aku dan Sahan yang akn mendatangi mereka" jelas Jonathan.
"Ibu ku di luar negri"
__ADS_1
"Tidak masalah"
"Dokter tidak mengizinkan nya untuk bertemu siapapun"
"Kalau begitu kalian harus berpisah sekarang"ucap nya. Keheningan kali ini benar-benar menyergap semua orang. Sahan bahkan tidak menyangka Ayah nya akn mengambil sikap seperti ini.
Begitupun dengan Dinda, ia tau suwaminya tidak sabar dan ingin segera bertemu dengan Celara, namun tidak harus mengganggu anak-anak nya.
"Apa ini gara-gara semalem? Aku mengigau orang tua dengan memperhatikan?"tanya Dirgan.
"Orang tua mu sangat kacau" celetuk nya. Dirgan Tara mengepalkan erat,sendok yang membuat wajah Sahan pun memerah atas sikap Ayah nya yang sedikit memuakkan.
"Keluarga ku memang kacau"sahut Dirgan tidak mau kalah.
"Kalu gitu kamu tidak pantas bersama putriku"celetuk Jonathan. Dirgan meletakan sendok serta mau beranjak berdiri tanpa mempertimbangkan apapun lagi, meski Sahan menahan lengan nya.
"Dirgan, sebentar aku_"Sahan tercekat sebab Dirgan yang menahan amarahnya pun ini menepis Sahan di depan kedua orang tuanya. Manik Sahan mengabur, dengan dinding air yang menyatakan, ia bisa merasakan posisi Dirgantara sekarang ini.
Sahan mematri atensi kepada Jonathan yang tidak pernah seperti ini.
"Dirgan! tunggu! Dirgan!"teriak Sahan. Namun ia terlambat dan belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi, sampai ia kehilangan Dirgantara yang melajukan motornya.
Hari Minggu ini terlihat akan sangat ceria sebab teman Sahan dan teman Dirgan akan berkumpul nanti siang. Namun, rencana yang sudah Sahan susun dengan bermacam acara makan serta bermainpun runtuh oleh ayah nya yang tiba-tiba menyalahkan latar belakang seseorang.
Tentu, saja Sehan kembai masuk dengan geram nya. Mereka bukan lah orang yang menyakiti seseorang dengan mengungkit kekurangan.
"Ada apa ini? kenapa tiba-tiba?!" tanya Sahan. Sebenarnya ia juga bukan anak yang suka membantah atau berdebat dengan orangtua. Namun, Jonathan bersikap seperti orang yang tidak memikirkan perasaan orang lain.
"Jangan menangis Nak_"
"Jelas! aku harus!" teriak Dinda terperangah ketika Sahan berkacak pinggang. Emosi nya meledak seketika, hanya terlintas wajah Dirgantara yang menhan rasa kesalnya.
"Kenapa Ayah berbicara seperti itu hm?"tanya Sahan. Rasanya tiba-tiba menjadi gusar, Sahan tidak ingin Samapi Dirgantara marah pada dirinya, Sahan tidak yakin apahkah dia akn tenang di sekolah nanti hanya karna mereka harus putus akibat restu dari Jonathan yang tidak ia beriakn.
"Ayah memang harus tahu keadaan keluarganya"jawab Jonathan
__ADS_1
"Kenapa Ayah harus tahu?! yang berpacaran aku dan Dirgan bukan Ayah dan ibu nya?!"
"Jaga bicaramu nak!"ucap Dinda
"Ayah begitu juga begitu tadi kenapa ibu tidak menyelanya?! lihat wajah Dirgan saat dia pergi, semalem dia menangis karna Ibunya. Kenapa Ayah menyinggung itu, padahal Ayah tahu semalem dia kenapa!"Sahan perotes.
Ia mengusap wajah nya, sebab Sahan tiba-tiba melirik ketika Jonathan mengatakan bahwa dia harus berpisah dengan Dirgantara yang tidak berusaha untuk membujuk Jonathan selain beranjak untuk memilih pergi. Karna iya yakin bila keluarga tidak bisa menemui keluarga Sahan.
"Itu sebab nya ayah meminta membawa orang tua.......karena Ayah tidak tahu" sahut Jonathan. Sahan mengusap suray nya Frustasi. Jonathan juga terlihat emosional juga saat menayakan orang tua Diragan, tadi Seharus nya dia memakai kata-kata yang lebih halus di bandingkan mendesak dan memisahkan anak nya.
"Apa itu penting sekarang bagi ayah"lirih Sahan
"Ibu nya penting"sahut Jonathan. Sontak saja hal tersebut membuat Sahan membelalakkan manik. Ia menggulirkan pandangan nya kepada ibu nya yang menghampiri dan mengusap punggung Sahan agar putrinya jauh lebih baik.
"Ibu nya merupakan teman Ayah, kami bersama semenjak SMP. Lalu benar-benar kehingan kontak setelah Ayah Dirgan menikah lagi, tidak ada daftar ia keluar kota maupun luar negri, maupun gugatan perceraian dengan Yohan. Dia menghilang" jelas Jonathan
Sahan tidak menggerai apa yang coba Ayah nya katakan. Kenapa juga Ayah nya baru membicarakan nya sekarang.
"Bagai mana dengan CCTV jalan rumah Dirgan? Ayah bisa melihat nya dari sana mungkin dia pindah?"
"Celara tidak ada di dalam kota, Ayah sudah mencarinya. CCTV di sekitar rumah pun hanya menunjukan terakhir kali, Celara masuk dan tidak pernak keluar, artinya dia ada di ruamh"jelas Jonathan.
"Ayah sudah menghubungi nya?"
"Sudah, tapi tidak bertemu Yohan bilang, ia bilang menjalani pengobatan di luar negri. Dirgan pun tidak mengatakan apa-apa selain mengiyakan yang Yohan katakan. Separtinya ada sesuatu, tolong kamu cari tahu" ucap Jonathan.
"***Kenapa aku padahal Ayah kan tadi_"
"Ayah hanya menguji nya. Apahkah dia memilih membawa orang tuanya kemari, atau berpisan dengan mu. Namun ternyata dia memilih opsi kedua. Artinya Dirgan benar-benar tidak bisa membawa orang tua nya termasuk Celara. Ini sangat meyakinkan Ayah bila terjadi sesuatu"paparnya
Jonathan memandangi Sahan yang coba untuk paham apa yang sedang Jonathan lakukan. Ia juga belum memberikan reaksi apapun mengenai Ayah nya dan Ibu Dirgan yang bertemu.
Itu sebabnya Jonathan lebih terbuka kepada Diragan karna ia merupakan putra dari sahab nya. Namun sekarang Celara menghilang benarkah?.
"Tolong Ayah mencari ibunya dan memastikan dia baik-baik saja. jangan menangis, terlihat sekali jika kamu juga sangat mencintai nya nak***"
__ADS_1