MISTERI CINTA KU

MISTERI CINTA KU
TROUBLE MAKER


__ADS_3

"***Kamu sengaja kan Sahan?" Tanaya Dirgan.


"HM, soal apa?" sahut Sahan. Ia mengikat rambut pendeknya ketika Dirgan malah bersusah payah membawa buku buku paket untuk anak sosial dua sebab sehabis ke kantin dan makan banyak. Sahan membawanya ke permukaan.


"Mengulur waktu?" Tanya Dirgan.


"Untuk apa aku melakukan itu, aku membutuhkan bantuan kamu. Yaudah kalau tidak mau, biar akau sendiri" Sahan menarik buku yang Dirgan tarik kembali, peria ini menggerakkan teros supaya Sahan cepat menyelesaikan urusan nya.


Sahan mengulas senyum, sebab Dirgan masih mau mengeluangkan waktu hanya untuk Sahan yang mengambil buku serta menangkup nya di tangkupan Dirgan.


Sahan kemudian memilih kembali buku-buku yang belum Ruli susun dengan rapih. Begitupun dengan Dirgan yang malah salah fokus memperhatikan leher Sahan sebab tanda merah yang ia buat semalem hanya terlihat sedikit saja, sedangkan ia harus memakai pelester untuk menutupi nya.


Bisa digoda Ari dan kawan Redi walau Dirgan memang ingin sekali memamerkan tanda pertama yang Sahan buat pada dirinya.


"Kemana tanda milik mu?" Tanya Dirgan.


"Ketutupan, pake bedak. Aku ke Tahuan Agus tahu, dia ngetawain, aku jadinya harus bayar uang tutup mulut pake siomay, karena dia ngancem mau kasih tahu yang lain"Adu Sahan. Dirgan menyeringai, ia menggelengkan kepalanya karena Agus akan memarahi Sahan lagi nanti jika pria ingin katanya.


"Masa aku harus teraktir dia setiap hari?! Agus ituh nyebelin, kalau engga sayang udah aku pitesin"gerut Sahan. Dirgan tergelak tawa untuk gerutan Sahan yang lucu sekali, bibirnya yang tertekuk sempurna kebawah bahkan mbuat Dirgan gemes ingin mencubit bibirnya.


"Katanya kalian berteman sejak SMP ya?"tanya Dirgan.


"Ketemu sejak SD kelas empat, dulu suka ada anak kecil yang selalu jahilin aku, dia tiba-tiba dorong aku ke jalan raya, Samapi lutut ku berdarah, untungnya ada Agus, mereka sampai berantem dan celakanya, dia dan anak pemilik pabrik yang berdonasi di sekolah.


Jadinya Agus harus pindah, ketemu lagi pas di SMP masuk sekolah sama, tapi dia pura-pura tidak kenal, terus aku hampir kecelakaan di lampu merah karena pakai carport, untungnya Agus dorong akau meski akhirnya dia yang engga Selamat ke tabrak mobil, dua bulan engga sekolah"


"Temenan lagi abis lebaran?"sahan menggelengkan kepala kecewa, dulu memang sulit sekali ingin berteman atau berbicara dengan Agus yang sudah membantu nya dua kali.


"Agus malah makin jauh, aku udah bilang makasih sambil bawa kue, tapi malah di buang, dia bilang dekat aku malah bikin dia kena sial, tapi Agus juga hampir tertimpa tiang basket pas ada pembangunan, aku bantuin dia dan kita saling melindungi"jelas Sahan. Ia menangkup wajah nya serta mengulas senyuman manis untuk Dirgan yang menganggukan kepalanya.


"Bagaimana dengan Bayu...?"


"Bayu? emh.....waktu SMP ada kebakaran di kompleks tengah, aku menerobos masuk karena Bayu ada di sana. Awalnya kami hanya saling berpapasan dan tidak saling sapa walupun satu kompleks, setelah penyelamatan itu. Dia sering lindungi aku, kadang Bayu mau-mau saja aku suruh kalau pura-pura sakit, seperti dapet Kaka laki-laki, hehe"


Sahan mengelus senyuman ketika ia tiba-tiba merindukan kedua pria tersebut. Mereka punya kisah mendalam di kehidupan Sahan yang terkesan sepi dan sakit saat ia bertemu dengan Dirgan serta Veri.


"Kamu punya berapa nyawa Sahan? Sampai mau bantuin orang sebegitu nya?"

__ADS_1


"Tapi setimpal kok, buktinya Agus dan Bayu selama ini selalu ada di samping aku. Waktu aku terjebak dengan Veri pun, mereka selalu siaga pasang badan, jika tidak ada mereka. Nasibku mungkin saja sudah sama kaya Intan sebelum kamu kembali" Sahut Sahan.


Dirgan berdecak. Untung saja dia tidak menggangu pertemanan pria itu dengan Sahan meski dulu sempet memisahkan beberapa kali.


Dirgan lantas memundurkan langkah dengan cepat, begitupun Sahan yang menaikan satu alis sebab kekasihnya ini malah menyembunyikan diri dari lemari lainya sampai Sahan mencoba untuk menghampiri meski ia tercekat karena Ruli memanggilnya.


"Hai"sapa Sahan gugup.


"Kemaren kayanya kamu tidak dateng untuk baca, aku sudah siapkan buku series lainnya"menunjukan meja kerjanya lantaran buku yang akan ia pamerkan kepada Sehan kemarin masih ada di sana.


"Iya, aku lupa ngabarin Kakak, karena kemari aku sibuk mengerjakan tugas, maaf"sahut Sahan. ia sepertinya merasa tidak nyaman karena tidak menepati perkataan, padahal Ruli mungkin sudah menunggu nya.


"Hari ini bisa?"tanya Ruli


"Hari ini juga aku ada kerja kelompok, jadwalku sepertinya kurang menentu. Bagaimana aku kabarin kakak saja bila aku ingin membaca sepulang sekolah?"tanya Sahan. Ruli mengulas senyum sumringah.


"Tentu berikan nomor ponsel mu"sahut Ruli. Sahan kemudian menyebutkan nomor ponselnya agar ia bisa bertukar kabar dengan Ruli. Setelah bercengkrama ringan sembari mengambil buku yang tersisa untuk di bawa ke kelas. Ruli pun mengundurkan diri karena meja nya penuh dengan antrian siswa yang akan meminjam buku.


"Kamu langsung keluar saja, engga perlu antri. Aku akan mencatat nya, berapa banyak buku buku paket yang kamu pinjam?"tanya Ruli.


"Tiga puluh dua"sahut Sahan.


"Temanku sebentar lagi Dateng"sahut Sahan.


"Baiklah kalau begitu, sampai nanti" Sahan mengangguk kan kepala. Ia membalas lambaian tangan Ruli Samapi Sahan terhentak, sebab saat membalikan badan, Dirgan sudah menatapnya datar.


"Nomer ponsel kakak? Temanku?"ucap Dirgan kesal. Sahan terkekeh tidak enak, mau bagaimana lagi, memang ini diperlukan untuk menjalankan operasi pendekatan karena ia juga sengaja bertukar nomor telepon dengan Ruli.


"Sudah aku bilang operasi nya di batalkan Sahan."


"Iya, sudah ayo keluar"ajak Sahan. ia menarik Dirgantara yang bisa saja mengamuk di perpustakaan bila ia meladeninya di sana. Pria sentimental ini harus Sahan tangani dengan cara lain agar tidak menjadi adu argumen di kedua belah pihak.


"Habis menyimpan buku paket, anterin aku ke laboratorium untuk mengambil obat dan menyimpan nya di UKS ya?"pinta Sahan.


"Kamu tidak masuk kelas Sahan?"


"Hari ini guru kami sakit, jadi mengumpulkan catatan, aku dapet izin tidak mengumpulkan, gurunya tahu aku super sibuk"sahut Sahan.

__ADS_1


"Luar biasa"timpal Dirgan. Sahan terkekeh sebab Dirgan tidak antusias menanggapi Sahan, namun kemajuan nya adalah banyak bicara Samapi Sahan merasa semkin dekat dengan Dirgan.


Kekasih Sahan juga seperti orang yang sedang mencari tahu perihal hubungannya dengan teman-teman. Agus salah satunya, ia tidak menunjukkan minat, namun tetap memaksa kan diri untuk keluar hanaya untuk menemani Sahan.


"Bagaimana pertemanan mu dengan Ari?" tanya Sahan.


"Biasa saja"sahut Dirgan.


"Sepertinya dia banyak tahu tentang kamu Dirgan"


"Dan kamu banyak bertanya, mengenainya"sahut Dirgan. Sahan berdecak, ia mengalungkan tangan nya kepada otot Dirgantara yang sibuk nangkup buku paket anak sosial dua. Seharusnya ia tidak menyangka hubungan seorang pria kepada Dirgantara yang pastinya sensitif.


"Kupikir Ari peria dingin dan jahat, raut wajahnya nya sedikit menyebalkan kali di pandang. Tapi aku rasa dia memperhatikan mu, bahkan sampai jauh-jauh mencari aku di gedung atap sosial, untuk memintaku membawa mu keluar agar dai bisa menyelesaikan sisa pekerjaan nya*"****Jelas Sahan.


Sontak saja, hal tersebut membuat Dirgan menghentikan langkah nya, ia mematri atensi kepada Sahan yang melakukan hal yang sama.


"Kenapa? Apa pekerjaan nya hanya bisa di lakukan olehmu? Atau rahasia nya?" tanya Sahan**.


"***Tidak, kupikir atas keinginan mu ingin bersamaku" sahut Dirgan. Kemudian ia meniti langkah nya kembali setelah membuat Sahan tertegun, tentu saja ini atas keinginannya sendiri. Ari juga tidak memaksa, Sahan langsung setuju dan menemui Dirgan dengan semangat.


"Ari tidak memaksa ku kok, aku langsung mau"sahut Sahan.


"Tentu aku percaya saja"timpal Dirgan. Karena yang ia harapkan, Sahan berinisiatif sendiri untuk menghampiri nya. Namun sudahlah, perasaan sepele seperti itu tidak perlu di besar-besarkan. Dia mengantar buku paket untuk anak sosial langsung terperangah sebab anak kepala sekolah langsung yang membawa buku mereka.


Lantas Dirgan mengantar Sehan ke gudang untuk mengambil obat serta membawanya ke UKS, kali ini Dirgan hanya menjawab seadaanya saat Sahan bertanya. Dirgan juga tidak melakukan timbal balik obrolan, sampai Sahan hanya bisa menghela nafas nya berat, karena Dirgan memang menutut perhatian dirinya.


Langkah kedua nya pun terhentikan, kala Degun kuat daru UKS dan meninggalkan Amelia dengan seorang guru bimbingan konseling.


"Oh, tumben banget Bu Citra ada di sini"gumam Sahan. Guru bimbingan konseling yang baru pertama kali Sahan lihat masuk ke dalam UKS ini membuat nya ingin menghampiri dan menyapa beliau, meski Dirgan menahan lengan nya sebab Amelia mengusap sisi mata menyedihkan.


"Kamu tahu sistem kasta, memang di perlukan dalam sekolah yang akan mencapai level tinggi, sebenarnya ini bukan hal serius sampai kamu harus melaporkan nya kepada polisi, kamu bisa membicarakan nya dengan aku, jangan membuat sekolah kerepotan hanya karena ulah anak yang bercanda denganmu. Aku akan mengatasinya, kamu jangan bertindak terlalu jauh, ok"papar citra.


"Ta-Tapi, Rold memukulku dan hampir melecehkan aku tadi, untung saja ada orang"


"Sst sudah kubilang dia hanya bercanda dengan mu, kamu tahu dia seorang anak dari perusahaan pabrik di sekitar sini kan? Rold tidak tahu bagai mana cara bercanda dengan orang seperti kamu sampai dia melewati batas. Aku akan tangani mengenai Rold, sebaiknya tenangkan dirimu"potong Citra.


"Apa dia akan di hukum?" tanya Amelia sesenggukan.

__ADS_1


"Tidak, tapi akan aku pastikan dia meminta Maaf. Hanya itu solusi permasalahan kamu dengannya usai, dan tidak perlu ada kebohongan mendatangkan polisi kemari***"


__ADS_2