
"Dirgan, plis" pinta Sahan
"Obati dulu" sahut Dirgan. Sahan mengangguk cepat, ia meraih kotak obat yang Dirgan sodorkan untuk mengobati wajah Dirgantara sebagai syarat bila Sahan bisa melihat apa yang Dirgan dapat dari berangkas tersebut.
Sahan lantas mematri atensi kepada Dirgan. Terdapat sobekan di bawah bibir Dirgan, pipi kirinya lebam, kemudian pipi kanan masih tergurat halus bekas pembuatan cincin Sahan meski sudah kering.
"Kamu kerumah sakit engga Dirgan?" tanya Sahan.
"Kesana tapi mereka bilang tidak apa-apa. Hanya perlu pengobatan ringan, jadi aku tolak perawatan mereka. Jika pengobatan kaya gini ketua PMR bisa juga kan?"tanya Dirgan.
"Iya, tapi lebih bagus kalau di tangani oleh yang ahlinya"Sahan mendekatkan wajah, ia meniup perlahan salep di bibir Dirgan agar lebih cepat kering dan di tutup oleh pelestar, meski ia membelak sebab Dirgan mengecup nya sejenak.
"Aku tidak bisa melakukan itu, bila di obati orang ahli"Jelasnya. Sahan memutar bola matanya jengah. Ia menempelkan pelestar pada bibir Dirgan kemudian duduk di samping pria yang akn membuka lektop nya.
"Dah yu cepat" ucap Sahan
"Belum, tubuh ku juga terluka" jelas nya. Sahan kembali mempokus pandangan kepada Dirgan yang membuka kaus nya. Sahan terperangah untuk kebab di tubuh Dirgantara, hingga Sahan pun malah sontak meraba perlahan raga Dirgan yang meringis.
"I-ini kok bisa?" tanya Sahan
"Kan di pukulin"
"Hah?!"
"Kan sebelum ke kamu target Veri itu akau. Dia mukulin aku dulu, terus pergi mencari kamu. Jadinya, aku panggil teman yang lain buat hadang. Untungnya, aku aga telat. Kamu masih di rumah" papar Dirgan
"Astaga, jadi kamu malem-malem datang kerumah ujan-ujan buat mastiin?" tanya Sahan
"Sesayang itu aku pada mu" ucap Dirgan. Ia mengetukan pipi nya agar Sahan mencium Dirgantara yang sudah bekerja keras untuk nya. Menjaga dia dengan segenap jiwa dan raga meski Dirgantara kembali memusatkan atensi sebab isakan tertahan Sehan terdengar.
"Eh, loh kenapa nangis?" tanya Dirgan
"Habisnya, kamu bodoh banget, Ayah ku kan polisi"Sahan terisak meratapi tubuh Dirgan yang menggosok hidung nya. Ia tahu memang Jonathan itu posisi. Kaptennya malah.
Tapi orang-orang nekat seperti Veri menyeramkan di banding bandit yang hanya mengincar orang. Ia tidak memandang apapun kecuali tujuannya harus tercapai.
Mirip dengan dirinya paham betul bila ia ingin Sahan Sanjaya. Serta akan melakukan apapun untuk mendapatkan nya. Tidak akan berhenti, terus mengincar nya hingga Dirgan bisa mendapatkan apa yang ia mau.
"Di tangis gabakal sembuh sayang, sakit ini, cepet" pinta Dirgan. Sahan mengangguk, ia mengusap mata serta mengambil pereban untuk luka Dirgantara yang perlu di beri obat merah di beberapa titik.
__ADS_1
"Apa ada luka di dalem?"tanya Sahan
"Tidak, kata dokter hanya memar bisa, aku melindungi orang dengan baik saat di pukulin" sahut Dirgan. Sahan meminta Dirgan untuk berbalik, berkali-kali Sahan di buat kaget sebab kali ini dia memperhatikan punggung Dirgantara.
"Wah, ada tato"lirih nya. Sahan menyentuh gambar anak kecil di Padang rumput dengan matahari mungil menyinari dunia. Gambar ini berada di bahu belah kanan Dirgan. Terlihat manis sekali karna dengan ukiran kecil.
Lalu Sahan memperhatikan guratan merah yang menjelar di semua punggung Dirgan. Cukup dalam tapi sedikit pudar.
"Bekas apa ini?" tanya Sahan
"Cambuk kan Ayah"sahut Dirgan. Sahan menatap nanar, Dirgan yang masih menunggu Sahan menikmati punggungnya. Di bagain peinggang kiri pun terdapat tato harimau, yang tengah menatap bulan dan di tengah nya ada huruf S .
"S untuk Sahan?" tanya Sahan dengan percaya diri.
"S untuk Sendirian, sedih, sakit, dan sengsara. Aku membuat nya sebelum bertemu denganmu" jawab Dirgan
"Lalu harimau nya?"
"Itu gambar mengenai aku, banyak kepedihan di depan tapi aku hanya mampu melihat, meski aku seorang raja"Jelas nya. Entah kenapa juga, Dirgan ingin merasa lemah di hadapan Sahan yang mengusap lembut menjelajah kan jemari nya pada punggung manis penuh derita tersebut.
"Apa ank kecil dan juga matahari artinya. Dia memberikan kehangatan? bahagia dan semacamnya?" tanya Sahan. Dirgan tak kunjung menjawab, ia pun masih mencoba berpikir apa yang harus dirinya katakan pada Sahan bila ia sangat kacau saat ini.
Sahan kemudian membalut luka Dirgan hanya untuk menghindari benturan parah saja saat tubuhnya menyembuhkan luka yang Dirgan perolehan.
Dirgan juga menceritakan, Veri kalah saat di hadang. Semua rekan Veri dan teman-teman Veri semua di bawa ke markas.
Mereka di tanyain satu persatu, kemudian Veri terkejut ketika tahu Dirgan anak kepala sekolah yang ia huni. Kemudian Veri memilih keluar dari sekolah sendiri tanpa Dirgan yang meminta.
Rumor juga tersebar dengan cepat, murid mengira Veri keluar dari sekolah ini karna Dirgan, lantaran hari tersebut Dirgan berkelahi dengan nya di lapangan basket. Sedang kan peria yang sedang di gosip kan sedang mengistirahatkan diri sambil mencari tahu mengenai berangkas Ruli.
Isinya memang rekaman CCTV, tidak ada harta maupun barang berharga yang memiliki nilai jual, sampai membuat mereka merasa senang karena tidak perlu mengembalikan nya dalam jangka waktu yang cepat.
Namun, panjang durasi dari rekaman nya sungguh minat. Karena rekaman dari hati kesatu sampai seterusnya tidak ada potongan. Ril satu tahun rekaman tersimpan di sini.
"Mau kembali lihat dari awal?" tanya Dirgan
"Boleh"sahut Sahan
Dirgan kemudian menyerahkan lektop tersebut kepada Sahan. ia lebih memilih merusakan badan dengan paha Sahan sebagai bantal ternyaman nya untuk istirahat kali ini.
__ADS_1
"Ini engga ada potongan. Jenis penyimpanan yang hanya simpan satu data base dalam ukuran besar, jadi.....kalau merasa di perpustakaan tidak ada yang aneh, kamu percepatan saja"jelas Dirgan. Sahan mengangguk kan kepala paham.
"Nanti kasih tau aku kalau ada adegan bercinta nya"celetuk Dirgan. Sahan merasa tidak sungkan atau kaku kembali, karna Dirgan sudah mengatakan nya beberapa kali.
Ia hanya perlu supaya tidak menanggapi, Dirgan kemudian pura-pura tidak mendengar nya agar pria ini merasa senang jika Sahan tanggapi.
Apa lagi di waktu bolos sekolah seperti ini pun, Dirgan masih sibuk, karna Paka Arta sebagai komite sekolah ini menelepon Dirgan yang baru saja memejam kan matanya.
"Halo Pak?" ucap Dirgan. Sahan pun sama tidak Fokus nya. Ia sesekali mengusap rahang keras Dirgan dengan kedua mata yang tidak lepas dari layar lektop.
Kedua telinganya pun ikut siaga mendenagar kan, Pak Arka sepertinya meminta dan pembangunan beberapa alat di sekolah yang sudah rusak.
Pak Arka juga mengusulkan Dirgan untuk mengumpulkan penyumbang bakti sosial, untuk membantu korban bencana di negri purple winter, kemudian dapat perhatian publik untuk peromosi Murid baru nanti.
"Murid kita engga kaya semua, kenapa harus patok harga. Padahal ini sumbangan, jatuh nya jadi iuran" ucap Dirgan. Sahan mengangguk setuju dengan ucapan Dirgan. ia tercekat kaget ketika melihat salah satu siswa mengecup Ruli di belakang lemari buku , padahal banyak siswa yang berada di sana.
"Ini bisa menguntungkan sekolah Dirgan. Sekarang kamu buat suratnya" titah komite
"Tidak mau" sahut Dirgan.Sahan merunduk, sebab Dirgantara bisa-bisanya menjawab seperti itu kepada komite.
"Minta yang benar Pak Arka. Saya menghormati anada, jadi anda juga harus begitu. Selama ini saya yang menjalankan sekolah, jadi ajukan dengan benar, bukan lewat telepon, tapi peroposal, akan saya tandatangani bila itu benar dan layak"kilas Dirgan
"Ba-baik pak" sahut komite. Lantas Dirgan mematikan sambungan telepon nya. ia kemudian memberikan pesan singkat kepada penasehat untuk rencana komite sekolah. Sebagai manusia yang baru beranjak dewasa, Dirgan memang selalu meminta pendapat penasehat nya untuk memberikan kepuasan.
Berhati-hati menghadapi masalah karena apa yang Dirgan katakan atau keputusan terkadang menyangkut banyak orang di dalamnya. Syukurlah ia bertemu dengan penasihat berkecamata jelek sepetinya mencintai ibu Dirgan.
***Ia tiada hentinya mencari perhatian Dirgan serta beberapa kali mencoba untuk menjadi walinya. Walau Dirgan tidak perlu repot mengenai hal tersebut karna Ayah nya Yohan selalu ada di samping Dirgan mesiki dia harus merogoh kocek.
"Woah, pak Arka menyabut kamu Pak"ucap Sahan
"Aku yang menjadi kepala sekolah secara tidak langsung. Eih, aku lelah sekali" sahut Dirgan. Dirgan mengarah kan lengan Sahan agar terus mengusap pipinya, tadi merasa nyaman sekali.
Ia memejamkan mata, meski terlintas di kepala Sahan untuk bertanya, emang kenpa Pak Yohan sampai anak nya yang menjalankan sekolah.
Namun, ini bukan waktu yang tepat untuk menyinggung masalah itu. Sahan memperhatikan Dirgan dengan semua keindahan yang baru ia sadari.
"Kamu tidak tidur semalam?"tanya Sahan
"Ya kamu mau tidur dengan ku Sahan***?"
__ADS_1