
"Kamu mau membuatku mati berdebar Sahan?"tanya Dirgan. Sahan malah terus berdiri di depannya takala Dirgan malah menyandar kan tubuh miring menghadap Sahan sebab wanita itu akn mengecup nya. Namun belum kunjung terjadi.
Anomali laju jantung kedua nya terpacu gila,sebab Karana Dirgan pun Samapi memeluk Sahan saja itu pun sekali sebelum ia kecelakaan.
Begitu pun dengan Sahan yang memiliki sinyal kuat seperti ponsel dengan jaringan terganggu. Ia tiba-tiba menciut saat melihat wajah nya Dirgan. Padahal setiap langkah yang dia ambil sampai bisa kemari,itu merupakan ambisi kuatnya ingin mencari tahu tentang intan.
"Kamu yakin akan membantu ku"Tanaya Sahan.
"Entahlah,bisa kalu berusaha semaksimal mungkin. Aku akan langsung bererti bila tidak sanggup.Mencium aku tidak akan menjamin bila aku akn membantu sampai akhir"ucap Dirgan.
Sahan menghela napas nya berat. Ia tahu atas konsekuensi serta pengorbanan apa bila bekerja sama dengan iblis seperti Dirgan. Sahan memejamkan mata serta dengan cepat menyapa bibir Dirgan dengan milik nya dengan waktu sesingkat mungkin.
Sahan membalikan badan serta berdecak pinggang dan mengibas wajah panas nya.
"Apa yang kamu lakukan?"tanya Dirgan
"Aku mencium udah yu,kita ke sayap kiri" ajak Sehan ia menjulurkan tangan nya kepada Dirgan yang menerima uluran wanita tersebut.
Dirgan menarik Sahan yang sepontan berbalik dengan wajah memerahnya meski Dirgan menatap datar wanita tersebut.
"Itu bukan ciuman Nona Sahan.Kamu hanya menyatukan bibir.Higa aku juga tidak bisa merasakan gerakan cepat mu" ucap Dirgan
"Harus pelan?"tanya Sahan polos
"Kamu pikir bagai mana cara orang menikmati nya bila begitu?"timpal Dirgan .Sahan bertegun,ia kemudian mengatur napas nya serta mengusap dada cepat hingga Dirgan mengulas senyum ketika melihat wajah Sahan merah merona.
Sahan tidak sadar bila telinga Dirgan pun sama panasnya untuk kejadian singkat barusan.
Sehan kemudian kembali menatap Dirgan. Ia mendekatkan wajah perlahan. Meski lagi-lagi yang Sahan lakukan hanya membuat bibir mereka bersinggungan kemudian iya menyudahi nya.
"Sudah"cukup Sahan
"Yang benar saja Sahan?"ucap Dirgan
"Aku sudah mencium mu Dirgan,jangan banyak alasan,ayo pergi "Sahan mencengkram kerah seragam Dirgan.Menarik nya pergi meski Sahan kembali lagi ke tempat ,sebab Dirgan tidak bergeser sedikit pun selain menatapnya tajam.
"Aku rugi di sini"ucap Dirgan
"Loh?aku mencium mu sesuai kesepakatan"jelas Sahan
__ADS_1
"Mencium apa nya?lakukan dengan benar"timpal Dirgan. Sahan yang terpaku diam ini pun hanya menggaruk bagian belakang kepalanya dengan kaku. ia berkedip polos takala angin menyapa tubuhnya,Dirgan Seharus nyah paham apa yang sedang Sahan pikirkan sekarang.
"Memang....yang bener bagai mana?"tanya Sahan. sontak hal tersebut membuat Dirgan tertawa.
"Woh,ayolah jangan berpura-pura di hadapanku"ucap Dirgan. Ia tidak akan mentoleransi penipuan dalam bentuk apapun yang Sahan lakukan hanya agar ia terhindar dari kesepakatan satu ini.
Meski raut wajahnya serius Sahan sudah menampar Dirgan yang tidak percaya Sahan itu minim pengetahuan tentang berkecup.
"Kamu selalu rengking satu Sahan. Serius tidak tahu cara berciuman" celetuk Dirgan
"Yang aku pelajari ekonomi biakan sesuatu yang bodoh"timpal Sahan. Ia menegerilkan mata sebal kepada Dirgan,lekas beranjak pergi mesti Dirgan menahan tangan nya sembari menahan tawa.
"Kita akan lulus setengah tahun lagi"ucap Dirgan.
"Iya,gitu aja marah"Sahut Dirgan. kemudian ia memegang kedua pundak. Sahan menatap nya intens untuk satu-satunya sosok yang ia rindukan selama ini. Sahan semakin cantik saja setelah lama mereka tidak bertemu.
"Aku akan memberi contoh"jelas Dirgan. Dia menyelusup kan jarinya kepada tengkuk Sahan yang menengadah.
Di mana Dirgan mengecup nya lembut,serta memberikan hisapan manis yang membuat Sahan berdebar.
Ia meremas kedua sisi seragam Dirgan yang menekan kepalanya. Semakin lama semakin kuat mengisap seolah menuntut sesuatu dari Sahan yang tidak mengerti apapun.
Seliva membasahi bibir keduanya,meningkatkan gairah yang seharusnya tidak di lakukan anak sekolah menengah seperti Sahan.
Napas Dirgan bahakan menderu hebat,bersama dengan pautan yang Dirgan buat,Hinga terlepas di beberapa menit pertama. Dirgan terengah ketika Sahan sudah resmi menjadi bongkahan es batu.
"Itu namanya ciuman Sahan,itu caranya"jelas Dirgan. Ia kemudian mengecup sudut bibir Sahan. Beralih pada pipi manis merona semakin padam ini sembari mengusap bibirnya yang basah.
Dirgan lantas meniup manik Sahan yang terpelanjat dari lamunan singkat nya,Dirgan terkekeh gemas yang melihat tingkah Sahan yang semakin gugup.
"Makasih"ucap Dirgan. ia menggenggam tangan Sahan yang masih belum bisa mencerna situasi. Di mana Dirgan yang menarik nya dari gedung sayap kanan pun hanya bisa mengatur napas perlahan.
Sahan mematri atensi kepada genggaman tangan milik nya dengan Dirgan. Kemudian beralih pada peria yang lagi berjalan di depannya ini mencoba untuk nenutun Sahan kegedung sayap kiri lewat belakang gedung sekolah.
"Sepertinya.......tadi kita terlalu jauh Dirgan,bagi anak-anak sekolah"ungkap sahan
"Tapi itu masih lama kurasa...... kita tidak boleh melakukan itu lagi" jelas Sahan. Ia berjalan lebih cepat agar sejajar dengan Dirgan setelah mengendalikan isi hatinya.
Sahan, fokus menilik kearah depan. Ia hanya membagi pendapat nya sebab hubungan ini.......memang sekarang milik berdua.
__ADS_1
"Kurasa tidak masalah,intan bertindak lebih jauh saat ia masih muda"timpal Dirgan. Sahan menghela napasnya, ia mematri atensi kepada Dirgan yang sedang melakukan hal sama mengulas senyum man bajingan tersebut.
"Kamu ingin mencontoh nya Dirgantara"
"Kamu mau"timpal Dirgan
"Tentu,bila kau ingin aku mati"cetus Sahan. Dirgan terkekeh getir mendengar jawaban dari Sahan yang sedikit terasa buatnya jauh lebih kejam di bandingkan dua tahun yang lalu.
"Padahal tidak seburuk itu, kita akn punya anak setelah beberapa bulan lulus. Sepertinya
menyenangkan, wali pun menjadi omongan orang"ungkap nya.
Sahan berdecak mendengar celotehan Dirgantara yang ngaurny minta ampun. Perjalanan menuju sayap kiri pun terasa jauh Lantaran tidak ada yang berbicara di antara kedua nya setelah pembahasan barusan.
Dirgan juga memperlambat langkah nya agar bisa lebih lama dengan Sahan
"Aku ingin bertanya"ucap Sahan
"Tidak ada yang melarang mu"sahut Dirgan
"Kenapa aku?" tanya Sahan. Dirgan mengeyit untuk hal yang satu itu, lantaran Sahan waktu dulu sering melontarkan hal yang sama,dan Dirgan kesulitan menjawab nya.
"Ada ratusan murid di sini,Siswa sayen pun cantik dan pintar semuah. Kenapa memilih ku?kenapa melihat aku?"lanjutnya
"Aku juga tidak mengerti andai saja yang aku cintai itu Dewi karna dia mencintai ku. Jelas dengan mudah aku bisa meniduri dia sekarang"
"Eis! perhatikan bicara kamu baji_"
"Sedang kan kamu harus dua tahun lebih hanya untuk yang tadi" potong Dirgan. Sahan kembali meluruskan pandangan nya. ia selalu kecewa dengan jawaban Dirgan yang tidak jelas konteks nya kemana.
Ia tidak pernah memberikan jawaban signifikan untuk memuaskan Sahan
"Aku tidak tahu kenapa aku memilih mu,yang jelas, pasti aku sangat menyayangimu. Jangan pernah menayakan kenapa aku begini samamu,aku pun sama bingungnya. Tentu jika aku bisa memilih jelas aku tidak ingin Sahan karna dia rumit sekalih. Akan ku pilih yang sangat mudah di dapatkan. Walaupun nyatanya sekarang aku hanya terpaku padamu"
Dirgan kemudian menghentikan langkah nya bersamaan dengan Sahan dengan sepontan iku kaku diam. padahal hanya melewati satu kelas lagi baru mereka sampai di gedung sayap kiri.
Kemudian Dirgan meraih lengan Sahan serta mematri intens nya. Ia sungguh gaya terpaku kepada Sahan. Dulu sekarang atau pun nanti.
"Mau menikah dengan ku? Sahan"
__ADS_1