
Sahan tercekat ketika Rold di pegang kedua temannya, Rold pun hanya menatap tajam Amelia yang masih saja memikirkan apa yang akan ia lakukan kepada Rold. Amelia melangkah maju karena ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang ada di hadapannya. Begitupun Sahan yang menghalangi tubuh Rold.
Dirgan memang aga sinting, Karan ia membawa Amelia kemari hanya supaya bisa membalas Rold dengan caranya sendiri. Saharus nya Sahan menyadari ini dengan cepat.
"Tentang Amelia, kita serahkan Rold kepada Bu Citra dan kepolisian"ucap Sahan.
"Dirgan benar, Sahan. Minta maaf tidak akan menyelesaikan apapun. Aku bahakan tidak merasa lega, lagipula dia akan melakukan hal sama lagi padaku nanti. Selagi akau bisa Kenap engga"sahutnya. Sahan mengangguk kepala, semuanya tidak akan cepat selesai kalau saling membalas seperti sekarang ini. Amelia akan semakin jatuh nantinya.
"Dia tidak akan melakukan apapun lagi sama kamu, setelah kita-"
"Sahan....aku mohon jangan pernah ikut campur"potong Amelia. Sahan terpaku diam, begitupun dengan Amelia yang tidak ragu melewati dirinya serata langsung berhadapan dengan Rold yang menyeringai.
"Berlutut........di hadapanku"titah Amelia. Rold masih menatap Amelia sampai Sahan membekap mulutnya sendiri lantaran Amelia memberikan tamparan keras kepada penindasan nya. Rold juga hanya berpasrah mendapatkan tamparan kedua lantaran tangan nya di pegang oleh teman-temannya yang seharus nya membela dirinya.
Mereka malah bersorak karena Amelia membuka seragam Rold yang di permalukan di depan teman-teman nya, Amelia juga melepaskan sabuk celana Rold dan juga menggenggam nya kuat hingga menghantamkan benda tersebut kepada pemilik nya, Samapi Rold mengerang.
__ADS_1
Kedua kaki Sahan tentu saja langsung bergetar hebat, ia hampir kehilangan keseimbangan nya namun untungnya Redi menaha tubuh Sahan sebab ia terlalu syok melihat perubahan Amelia yang hanya di berikan kekuatan singkat namun telah menjadi.
Amelia bahakan terkekeh sebab ia bisa membalaskan dendam nya pada Rold, tidak ada yang menghalangi Amelia ketika ia memuaskan apa yang terlelah di hati nya, mengenai tanggapan guru Citra yang tidak melakukan apapun setelah ia mengadu Beberapa kali.
Namun, Amelia sadar bahwa ia salah mengadu kepadanya. Seharusnya, sedari kemarin dia melapor kepada Dirgan yang berkuasa sebenarnya di sini.
Sudah puas memukuli Rold dengan seluruh tenaga nya, Amelia menggulirkan pandanga kepada Sahan yang memperhatikan Rold sebab ia muntah darah setelah mendapati beberapa kali tendangan dari Amelia.
Wanita itu kemudian beralih dengan menghampiri Dirgan yang masih diam memperhatikan, beginilah jadinya jika ia memberi kesempatan kepada orang yang sebenarnya iblis. Ada sebab, kenapa seseorang harus menderita serta terkena sial, itu yang Dirgan yakini.
Oleh karena itu, ia tidak pernah menganggu orang-orang yang di tindas, karena mereka memang tidak mempunyai kemampuan untuk melindungi diri sendiri, selain menunggu kekuatan singkat datang untuk mendorong nya mengekspresikan diri.
"Tolong jadikan aku bawahmu"pinta Amelia. Sahan tidak bisa berkata apa-apa wajahnya pucat saat melihat Rold. Walaupun ia penindasan, bukan berarti siswa dengan semburat emosi yang harus menghukum nya seperti sekarang ini.
"Aku tidak memperkerjakan wanita"sahut Dirgan.
__ADS_1
"Tapi kamu membutuhkan wanita"sahut nya. Dirgan menyeringai, begitupun dengan Siulan time Redi yang merasa bila semangat Amelia terlalu menggebu hanya karena ia bisa di beri kesempatan mau membalas kan dendamnya.
"Mau semalam dengan ku?" tanya Dirgan. Amelia mengangguk cepat tanpa ragu. Masa bodo dengan hal-hal bercinta atupun menjual diri, yang Amelia butuhkan hanya lah kebebasan ketika ia menyelesaikan studi dan pergi dari kota ini.
"Ok, masuk tim Redi untuk menggantikan Rold. Temui aku nanti malem di sayap kanan"jelasnya. Dirgan kembali turun meninggalkan Sahan yang masih mencerna situasi. Ia perlahan menghampiri Rold yang masih menelungkup memegang perutnya.
"Ayo ke UKS" ajak Sahan ia membantu Rold berdiri dengan mengalungkan lengan pria terluka ketika teman-teman dari tim nya malah memperhatikan serta tidak membantu. Malah, jalan Sahan di hadang oleh Henry, wakil ketua time Redi.
"Dia harus tetap di sini untuk mendatangi berkas pengunduran diri"jelas Henry.
"Berkas pantat mu. Minggir!"tekan Sahan. Ia menatap nyalang Henry, karena memperlakukan teman seperti ini. Ia bahkan berusaha mencegah dan malah ketawa melihat Rold meringis kesakitan, Sahan benar-benar tidak habis pikir.
"Minggir!" bentak Sahan. Redi kemungkinan memberi kode kepada Henry yang langsung memberi jalan untuk Sahan. Walau terkadang, melakukan hal-hal yang merasa benar tidak selamanya membuahkan hasil yang bagus.
Rold malah berpura-pura kehilangan keseimbangan, Samapi Sahan yang kewalahan menahan tubuhnya ini membelak sebab mereka baru menuruni anak tangga yang pertama, tubuhnya melayang dengan cepat. Berguling keras bersamaan dengan teriakan Redi yang memanggil namanya.
__ADS_1
Begitupun Rold yang hanya terguling beberapa tangga, ***sedangkan Sahan terbentur keras sehingga lantai pertama karena adanya dorongan dari pria jahat yang tidak tahu cara membalas orang yang mencoba menyelamatkan dirinya.
Samapi Sahan, tidak sadarkan diri akibat kecelakaan tersebut***.