
"Sahan kamu pernah di cium Veri?"tanya Dirgan
"Tidak"sahut Sahan
"Di peluknya?"
"Ya hanya beberapa kali.Bila ia memaksa"sahut Sahan
"Hanya beberapa kali itu berapa?"tanya Dirgan
"Aku lupa karna setiap aku mengatakan putus dia selalu memelukku"jawab Sahan. Dirgantara berdecak, ia semakin memper erat rengkuhan nya kepada Sahan yang memutar tubuh.
Sahan sempontan menyodorkan seragam Dirgantara. Rasa nya tidak nyaman Dirgan memeluknya dalam keadaan telanjang dada.
"Pakaikan"
"Apa?"
"Kamu mendengar nya"
Sahan kaget karna Dirgan sudah menunjukan cara dia akan menghukum Sahan seperti apa. Tatapan tanpa menyiratkan apapun ini,jelas membuat Sahan bila dirinya memang salah dengan apa yang dia lakukan dulu,dan tentu seharusnya ia menuruti Dirgantara saja.
Ia lantas saja membentangkan seragam Dirgantara. Memasang nya gugup sebab ini pertama kalinya Sahan melakukan hal tersebut. Apalagi dengan pemandangan nyata di hadapannya.
__ADS_1
Jelas Dirgantara sedang menguji Sahan.
"Kamu marah?"tanya Sahan
"Menurut mu"sahut Dirgan. Sahan menganggukkan kepala, ia memasukan satu persatu kancing seragam Dirgantara yang terus melangkahkan tungkai Samapi Sahan tersudut di wastafel.
Ia menjauhkan kepalanya takala Dirgan mencondongkan tubuh serta memegangi kedua sisi wastafel agar benar-benar bisa mengunci Sahan dengan wajah yang semakin memerahnya.
"kamu miliki ku Sahan kamu mengerti?"tekannya. Sahan menganggukkan kepala ia memegang erat seragam Dirgantara yang membuat nya merasa mendapatkan serangan dua kali lipat lebih hebat.
Apalagi dia baru setengah nya mengunci tubuh kekar dengan potongan roti sobek yang baru Sahan lihat di tubuh kekasihnya. Padahal dia hanya melihat para peria tampan seperti itu hanya di dalam televisi saja.
"Aku tidak suka berbagi,putus dengan nya"lanjut Dirgan. Sontak Sahan menaikan satu alisnya. Begitupun Dirgantara yang semakin mendekatkan wajah nya dengan Dirgantara.
"Akan aku urus video mu"potong Dirgan
"Tinggal katakan padanya"lanjut Dirgan. Sahan menganggukkan kepala patuh. Napas nya semakin menderu sebab Dirgan terus saja mempersempit jarak hingga,kening Sehan beradu manis dengan dagu Dirgan.
"Berarti kamu sudah menghiyananti aku dua kali Sahan?"
"Tidak A-aku hanya berpacaran dengan Veri"sahut Sahan gugup
"Tentu saja,kita belum membahas nya lebih lanjut. Dan kamu harus di hukum"jelas nya Sahan sontak saja mengengada.
__ADS_1
"Dihukum?"
"Ya hukuman nya kamu harus turuti kemauan aku seharian ini"Sahan mengerinyit napasnya menderu takala wajah Dirgan yang makin dekat dengan nya.
"Sekarang kamu diam"Dirgan memejamkan mata nya. Ia mengecup Sahan yang membeku secara perlahan Sahan pun memegang Wastafel kuat. Napasnya lebih kontras menerpa dirgantara yang membuka mata.
"Bala aku"ucap Dirgantara. Ia menyusupkan jari kepda Surai pendek Sahan yang mengecupnya kaku.
Dirgan menekan kepala Sahan yang belum terbiasa ini,dengan menghisap nya kuat,seakan menuntut sesuatu dari Sahan yang beralih memegang pinggang Dirgantara.
Decakan Seliva yang timbul oleh Dirgan pun telah menjadi pengering,paduan suara siswa lain yang melakukan upacara penghormatan bagi para pahlawan.
Sahan menepuk cepat dada Dirgantara yang tidak memberinya kesempatan untuk bernapas.Sahan akhirnya mengepal erat, memukul dada Dirgantara yang mengaduh dalam kecupannya serta melepaskan Sahan yang terengah.
Dirgan mengusap pipi wanita nya yang memerah. Sahan masih membiasakan diri namun Dirgan sudah menuntut nya banyak.
"Astaga hampir aku tidak bisa berhenti"ucap Dirgan. Hasrat Sahan juga lama-lama bisa terpancing oleh nuansa yang Dirgan ciptakan.
Rasa prustasi nya diganti dengan suasana panas yang membuat Sehan mengusap Surai,serta menggigit bibir bawahnya meski Dirgan mengusap sembari merah muda dengan seduktif.
"Lainkali hukum kamu akan seperti ini Sahan berhati-hati lah"ucap dirgan
"Kesalahan ku akn menjadi kesenangan mu ternyata"cetus Sahan. Dirgantara terkekeh ia mendekap Sahan yang tidak melawan saat Dirgan memeluknya.
__ADS_1