
"Laporkan ke polisi saja"ucap Sahan. sontak saja Citra dan Amelia mengedarkan pandangan ke pada Sahan yang nampak geram sekaligus kecewa dengan jawaban dari guru bimbingan konseling, ia seharusnya memberikan solusi dan saran yang pas, bukan memberikan penekanan pada korban.
Sahan menjulurkan ponselnya kepada Amelia agar ia segera melapor kepada polisi"Jangan, nama sekolah akan buruk, kami sudah kewalahan untuk masalah Intan dan juga penindasan terhadap Putra di tambah lagi, perjuangan kepala sekolah akn sia-sia"jelas citra.
"Lalu anda akan akan membiarkan nya seperti ini? Hanya akan menuntut Rold hanya untuk meminta maaf kemudian semua nya sudah selesai? Tidak akan ada epek jera untuk penindasan seperi dia, ini kedua kalinya Rold membuat onar, apa tidak ada konsekuensi untuk orang seperti itu?"tanya Sahan.
Citra menghela nafas nya, Sahan merupakan siswa yang pandai berdebat. Ia mengutarakan langsung apa yang menggangu pikiran dan juga hatinya tanpa memandang siapapun yang menjadi lawan argumen. Citra tidak takut, hanya saja Sahan tidak akan memahami nya dana Sahan merupakan tipikal orang yang akan terus menimpali jika dirinya tidak puas. Wakil ketua OSIS ini sudah terkenal.
"Biar Ibu yang mengurus ini Sahan, sebaiknya kamu masuk kelas" ucap Citra.
"Saya mendapat izin untuk mengisi kotak UKS dan--"
"Kalau begitu Amelia, kita akan pindah keruangan bimbingan konseling"potong Citra. Ia beranjak berdiri dan lekas mau pergi, begitupun Amelia yang akan menyusul meski Sahan menahan bahunya.
Ia memeriksa sudut bibir Amelia serta pipinya yang memerah, belum lagi kedua lutut yang lecet telah berhasil menarik empati Sahan, citra juga tidak mengobati nya terlebih dahulu sebelum berbicara dengan siswa.
"Kami baik-baik saja? Ayo kita lapor polisi, aku akan memberikan kesaksian juga mengenai Putra agar Rold mendapatkan hukuman"jelas Sahan. Ia menyodorkan ponselnya, meski Amelia langsung menepis benda pipih tersebut sampai ponsel Sahan terlempar ke sudut ruangan UKS.
"Jangan berpura-pura peduli kepada ku Sahan......wakil OSIS yang tidak berguna"lontarnya. Amelia kemudian melangkah kan kakinya pergi meski Sahan menahan lengan nya. Ia tahu bila organisasi tidak begitu berjalan serta hanya mengikuti perogram yang ada saja.
Berian juga pernah mengeluhkan hal tersebut, namun sejauh ini. Meski sudah melakukan yang terbaik dalam menjalankan tugas mereka. Kedua manik Sahan menghangat saat ia memegang penuh harapan lengan Amelia yang memperhatikan dirinya, kebenaran harus di tegakkan.
"Aku minta maaf jika sejauh ini aku tidak pernag memperhatikan mu. Sekarang kamu punya aku, Ayo kita selesaikan ini"pinta Sahan. Jangan sampai Amelia bernasib sama seperti intan, atau Kaka nya Sasa yang akan melakukan hal tersebut.
Amelia pun kembali menepis lengan Sahan yang masih bersihkukuh memegang tangan nya. Dirgan bahkan berdecak sebab Sahan di banding seperti orang yang akan menolong, dia terlihat seperti orang memohon agar lawan bicaranya mau di tolong.
"Ada apa denganmu? jangan bertingkah seperti orang yang merasakan apa yang aku alami, kau tidak cocok seperti ini"jelas Amelia.
"Kakaku pernah seperti mu Amelia, temanku juga. Aku memang tidak tahu rasanya, tapi aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi yang pergi hanya karena luka seperti ini. Aku paham kamu sakit, jadi kamu harus membela diri agar ini tidak menimpa mulagi"lirih Sahan.
Amelia terperangah, ia menyeringai dengan kedua maniknya yang juga memanas sebab selam ini tidak ada yang peduli kepadanya. Kenapa Sahan harus mengajak nya bicara di saat-saat terakhir, padahal mereka mereka tidak saling mengenal.
__ADS_1
Air matanya pun ikut mengalir bebas ketika ia melihat genggaman tangan Sahan yang mencoba untuk meyakinkan dirinya. Bahasa ini semua akan usai hanya dengan sebuah perlawanan. Amelia pernah melakukan hal tersebut, namun yang ada keadaan nya semakin rumit.
"Ini hanya akan memper parah keadaan Sahan, Rold hanya akan semakin mencekik aku"Sahut Amelia. Ia melepaskan genggaman tangan Sahan, lekas berlari keluar meski langkah Amelia terhentikan sebab di depan pintu di hadang oleh Dirgan yang menatap intens Sehan Sebab kekasihnya pun dengan cepat mengusap wajahnya.
Dirgan sebenarnya tidak peduli dengan masalah antara siswa, namun ini mengenai guru bimbingan konseling yang sangat tidak berguna untuk meredakan stres para siswa. Begitupun dengan Sahan yang memiliki trauma dengan penindasan.
Sahan akan terus memikirkan orang-orang yang menjadi korban penindasan karena kakak nya pernah mengalami hal yang sama. Seusai dengan apa yang Jonathan katakan, Sahan mengkin saja bisa gila bila Dirgan tidak ikut campur untuk mencari tahu tentang kematian Intan.
"Kamu membuat aku ferustasi saja"ucap Dirgan. Ia menatap Amelia yang merunduk tidak mengerti meski lontaran tersebut di berikan kepada Sahan yang juga berharap banyak agar Dirgan mau turun tangan untuk mengatasi hal ini.
"Ikut aku Amelia, aku punya cara yang menyenangkan"ucap Dirgan. Dia meletakan kotak obat yang akan di susun nya bersama Sahan kemudian lekas keluar, begitupun Amelia yang mengekori dari belakang.
Sahan yang tidak ingin ketinggalan sesuatu. Ia mengamati gerak gerik Dirgan, sebab peria ini mengirimkan pesan kepada seseorang untuk menemui nya di suatu tempat.
"Kita mau kemana?"tanya Sahan.
"Neraka, kembali lah aku tidak mengajakmu"Sahut Dirgan. Sahan malah menggenggam erat tangan Amelia sebab wanita itu juga panik, wajahnya memucat dan tubuhnya yang gemetar hebat. Namun ia hanya bisa pasrah jika Dirgan yang meminta.
"Sahan sebaiknya kamu pergi, kamu bisa berakhir seperti ku" jelas Amelia, Sahan menggelengkan kepalanya serta mengulas kan senyuman keterangan.
Gedung itu terlihat bersih karena ada penghuninya, Redi kemudian menuntun Dirgan dan dua Siswi tersebut naik ke lantai atas. Amelia terkejut sebab Rold ada di sana bersama dengan teman lain yang tengah membicarakan kegiatan mereka selam pewisataan nanti.
Apalagi anak sosial dan anak Senin akan bercampur nanti, semakin ramah saja suasana yang membuat siswa antusias di pelajaran olahraga ini. Walau Sehan satu-satunya orang yang menentang.
"Hallo bos"sapa mereka serempak. Tentu saja, Rold merasa bingung karena ada Amelia di sini bersama ana dengan kekasih atasan nya. Mereka saling berpegangan tangan, kemudian Rold bisa membaca situasi bahwa kalau Amelia mengadu kepada wakil OSIS.
Sahan tanpa di beri arahan atau aba-aba ini langsung menghampiri Rold dengan berani.
"Minta maaf padanya"ucap Sahan
"Mengenai apa?" tanya Rold bingung. Ia mengulurkan pandangan kepada Dirgan yang menyenangkan tubuhnya pada tembok serta memperhatikan Sahan dan dia beragumen.
__ADS_1
"Penindasan"sahut Sahan.
"Kamu masih melakukan nya?" tanya Redi. Tentu saja Rold bergeleng dengan tenang nya. Selama ini tidak ada yang mempercayai Amelia, termasuk guru bimbingan konseling karena orang tua Rold sering selalu menyumbang makanan di setiap acara anak-anak nya.
"Aku sudah tidak melakukan nya, atas dasar apa kamu menuduhku menindas wanita itu? punya bukti wakil ketua?"ucap Rold. Sahan mengepalkan kedua tangannya erat. Bagaimana, bisa Rold memasang raut wajah yang sangat tidak senang ketika berhadapan dengannya.
"Tentu saja aku punya bukti, kamu pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan padanya di toilet? Aku punya bukti, kutunggu kau di ruang OSIS!' tegas Sahan. Rold langsung menyapa tajam Sahan, meski Taka berapa lama kemudian ia terkekeh dengan apa yang wanita itu katakan.
Ia juga tahu persis, bahawa Dirgan tidak akan ikut campur masalah seperti ini, dulupun ia melihat saja setiap orang yang melakukan penindasan.
"Apa OSIS sekarang punya wewenang untuk memanggil murid?" tanya Rold.
"Tentu, sepertinya kau tidak tahu kalau OSIS di bawah pembina bimbingan konseling. Jika kamu menolak berarti kamu membenarkan tindakan mu terhadap Amelia, dana kau akan melaporkan ke polisi"kelas Sahan.
Rold mengedarkan pandangannya kepada semua teman nya yang juga hanya saling bertukar pandangan. Keadaan nya memang akan serius bila Sahan mempunyai bukti di toilet, kenapa dia tidak berpikir terlebih dahulu sebelumnya mengenai Lisa yang ketahuan ngintip itu tidak merekam kelakuannya
Rold menggeser kerah yang membuatnya gerah, Dirgantara bahakan menyeringai karena geretakan kecil dari Sahan sudah membuat pecundang ini terpojokkan.
"Masih tidak mau meminta maaf?!"tekan Sahan. Tidak ada kegentaran dalam setiap hantaran yang Sahan lakukan untuk Rold.
Pria ini harus mendapatkan pelajaran yang Setimpal, Sahan akan membuatnya minta maaf. Kemudian menyeret dia keruangan bimbingan konseling untuk ditindaklanjuti.
Citra juga juga apsti akan bertindak, sebab sarana dia agar mereka berabaiakn sudah di lakukan, tinggal hukumannya saja.
"Aku minta maaf"Ucap Rold. Redi dan teman-teman nya pun terperangah peraktaan Rold barusan telah membenarkan tuduhan Sahan bila ia melakukan penindasan. Sahan kemudian menggulirkan pandangan kepada Amelia yang memandang nya tidak percaya. Seberapah terpengaruh Sahan sampai membuat Rold menuruti perkataan dirinya.
"Kamu pelicik sekali bila mengatakan Ya"ucap Dirgan. Ia melipatkan tangannya di depan dada serta mematri atensi intens kepada Amelia yang sedari tadi mengepal tangan nya gemetar.
"Kamu yakin semuanya selesai hanya dengan meminta maaf?" tanya Dirgan.
"Apa maksudmu?'tanya Amelia tidak mengerti.
__ADS_1
"Aku memberimu kesempatan balas dendam
lakukan apapun yang kau mau lakukan"