
tiga hari pun sudah berlalu, Sahan tidak sadarkan diri selam satu hari dan untungnya tidak ada luka yang serius selain kaki kanannya yang keseleo dan hanya memerlukan istirahat tiga hari sebelum membuka perban kakinya.
Keningnya pun cidera dengan kedua tangan dan tubuh babak belur setelah beberapa kali terbentur. Dua hari ini pun Sahan terjebak di rumah sampai hari esok karena ada pemeriksaan ulang untuk kesehatan nya.
Selama ia tidak masuk sekolah pun, semua teman-teman nya menginap sampai terasa merepotkan sekali karena mereka berisik Setipa malem dan membuat pasien malah tertawa keras di banding tertidur, Omelan Jonathan pun selalu menjadi penutup malam mereka.
Mereka juga menceritakan perkembangan di sekolah, Rold mendapat sekor selama dua bulan setelah semua pertimbangan sekolah. Ia juga akan mendekap di penjara selama dua Minggu untuk merenungi perbuatannya kepada Putra, Amelia kemudian Sahan, meski itu hanya sebuah kecelakaan.
Tidak ada yang tahu itu di sengaja. Selain Redi yang bersihkukuh bila ia melihat Sahan di dorong keras, walau Rold mengelak, sebab katanya ia mencoba untuk meraih Sahan yang keburu jatuh dengan cepat kebawah.
Mereka juga kesulitan menyelidiki lebih lanjut mengenai Ruli serta Rian yang juga masih menindas tiada kalinya seperti Rold. Sekalinya bajingan memang bajingan. Ari dan Redi lebih memperketat pergerakan teman-teman Sahan biar tidak ada lagi yang terluka.
Namun, parahnya, bahakan anak-anak sains terus berkeliaran di mana pun mereka beraktivitas, Lisa juga ke pergoki Ari sampai ponselnya lagi-lagi terkena sita ketika mereka mencoba untuk berusaha lebih keras supaya tidak ketahuan.
"Ponsel aku juga"ucap Ceristal.
"Oleh, Ari?"tanya Agus.
"Kepergok Dirgan" jawab Ceristal. Teman-teman nya lantas menggulirkan pandangan kepada Sahan yang belum mendapatkan kabar apapun dari Dirgan, tidak ada riwayat panggilan tidak terjawab mau pun pesan singkat masuk menayakan kabar.
Dirgan juga menjenguknya termasuk ketika Sahan masuk rumah sakit. Dirgan hanya memperhatikan dari jauh ketika Sahan masuk mobil ambulance. Begitu cerita yang Sahan dapet adri teman-teman nya.
Sahan juga terus bulak-balik mengecek ponselnya, sampai ia sering tecekat dan buru-buru memeriksa bila ada pesan yang masuk, meski bukan dari pria tersebut.
Dirgan bener-bener tidak ada saat Sahan terluka. Menyebalkan!
Keesokan harinya Sahan akan melepas perban setelah mendapat pemeriksaan bila ia membaik dengan cepat, ia hanya syok aja dan bisa beraktivitas seperti biasa meski doktor menyarankan Sahan agar jangan terlalu banyak penekanan berlebihan agar sembuh Levis cepat dan bisa beraktivitas normal.
"Kenapa terlihat murung?" tanya Jonathan.
"Kenapa Ayah tidak kerja?"tanya Sahan.
"Berangkat siang, sekalian anter dokter nanti pulang"sahut Jonathan. Sahan menyeringis ketika dokter melepas perban di kening bagian kanannya serta mengganti dengan kapas baru. Ia memberi saran agar Sahan menggantinya dua kali sehari sampai lukanya mengering, baru bisa di lepas.
Begitupun dengan sikutnya, Shan harus mengusahakan agar bagian luka tidak terlalu sering terkena basah. Lebih baik jarang mandi, baru setalh pulih ia bisa berlaku seperti biasanya.
"Dirgan tidak terlihat padahal kamu sakit?" tanya Jonathan. Bibir Sahan makin tertekuk saat Ayah mengungkit manusia yang menyebalkan yang belum Sahan mengerti orang nya seperti apa, Dirgan merupakan tipikal orang yang enggaudah di tebak. Padahal, sahen sudah sering berkhayal bahwa Dirgan akan mbawa satu truk coklat mint karena dia sakit.
"Berantem sama dia? itu sebabnya kamu nekat menggulingkan diri di lantai dua?"
"Ih, Ayah kan sudah denger kornologinya!" sahut Sahan tidak terima. Jonathan terkekeh, ia merasa lega sekali karena putrinya tidak mengalami luka yang serius atau hal mengerikan lainnya yang akan membuat anaknya sengsara.
Ia kemudian menyodorkan ponselnya Kepada Sahan yang menaikan satu alis sebab rekaman CCTV rumah memang bisa di lihat dari ponsel Ayah nya.
"Ku mergokin pacar kamu beberapa kali Dateng ke sini"Jelas Jonathas.
"HM? Dirgan? suara motor nya kok engga kedengeran"sahut Sahan. Ia menerima sodoran ponsel Ayah nya serta melihat CCTV halaman depan rumah.
"Oh?" Sahan mempercepat rekaman CCTV rumahnya ketika ia mendapati Dirgan Dateng jam dua belas malam sembari mendorong motor nya sampai depan rumah. Kemudian Dirgan hanya berdiam diri di luar serta memandangi kamar Sahan.
__ADS_1
Sesekali ia memeriksa ponsel dan mengangkat telepon, kemudian kembali melihat kamar Sahan di lantai dua, Sahan mempercepat rekaman tersebut hingga jam tiga pagi Dirgan baru pergi lagi.
"Tahu begini, Ayah tidak perlu pasang CCTV, sudah punya satpam jaga malam"ucap Jonathan.
"Sahan pikir, dia tidak jengguk Sahan"lirihnya.
"Eih!" Jonathan kembali merebut ponselnya yang membuat anaknya hampir menangis seorang pria di depan dia. Sepertinya Jonathan kurang tegas kepada Sahan soal bersikap di depan Ayah nya ketika menyinggung pacar.
"Kalian bertengkar?" tanya Jonathan.
"Diaarah sama Sahan, karena ikut campur urusan orang terus"
"Dia bener" sahut Jonathan.
"Ayah juga ikut campur urusan orang terus"
"Ayah kan sudah kewajiban" Dokter yang baru saja selesai menangani perban di kepala serta sikut Sahan tekekeh melihat percakapan Ayah dan anak tersebut. Sahan benar-benar tidak mau kalah, ia kemudian beralih kepada kaki Sahan yang tercekat.
"Tidak usah Dok, jangan di lepas. Aku harus memberi pelajaran kepada Dirgan"
***********
"Kamu yakin?" tanya Agus. Sahan mengangguk kepala mantap. Ia sekarang punya cara untuk mendapatkan izin Dirgan agar anak buahnya tidak terlalu merepotkan dan menghalangi teman-teman yang lain untuk menyelidiki Ruli dan bukti penindasan lain.
Meski menurut Agus dan lainnya, Sahan cukup berlebih menggunakan tongkat. Kakinya bahkan memakai tambahan give, bukannya lepas perban. Tekad Sahan dalam berekting Ki ini tidak main-main. Harus mendapat izin penguasa sekolah.
"Sayang sekali aku tidak melihat ekspresi orang tua mu"ucap Bayu. Jonathan pastinya menggelengkan kepala, karena tingkah anak nya ada-ada saja. Walau ini salah satu usaha Sahan untuk mendapatkan akses membuat onar di sekolah.
Sontak saja Sahan menjadi sorotan para murid yang lalu lalang.
Begitupun anak buah Ari dan Redi yang langsung berbondong-bondong mengirim pesan kepada pemimpin mereka. Dirgan pun sama terkejutnya, ia kaget saat melihat Poto Sahan yang di bantu temannya ini ternyata mendapat luka yang parah di bagian kaki. Kenapa ia masuk sekolah bila memang belum sembuh total.
"Apa menurut kalian, Dirgan melihat ini?" tanya Sahan. Baru saja ia masuk gedung sosial, namun tubuhnya sudah terasa berkeringat. Kaki nya juga berdenyut sebab give tersebut menambah bebanya.
"Tidak meliah pun, dia akan mendapat kabar" sahut Ceristal. Mereka pun masuk ke gedung sosial untuk memulai pelajaran pertama, tidak ada tanda-tanda Dirgan menghampiri atau sekedar memeriksa keadaan nya. Walau, memang banyak sekali anak Sains yang ketahuanengambil Poto Sahan.
Kemudian istirahat pertama, Sahan makan bersama teman-temannya, serta manusia yang ia nanti, belum juga kunjung terlihat, istirahat kedua sampai jam pulang. Bajingan tersebut tidak ada sampai Sahan mengerut saat ia tiba di rumah.
"Bagaimana ekting anada selebriti Sahan?' tanya Jonathan.
"Jangan ganggu aku Ayah, aku sedang marah" sahut Sahan. Ia menggeram ketika membayangkan wajah Dirgantara, seberapah sibuk bajingan itu sampai tidak menemui dirinya.
"Tidak berhasil Nak? Dirgan tidak peduli padamu?" tanya Jonathan.
"Ahhhhhah!, bajingaaaaan!" teriak Sahan. Jonathan dan Dinda terkekeh sebab anak nya benar-benar terbuka mengenai hubungan nya dengan Dirgan. Setidaknya mereka tidak hawatir bila Sahan akan menyembunyikan pasangannya dan menjalani hubungan gelap di mana orang tuanya tidak anak nya bergaul dengan siapa.
Jika begini kan, sudah pasti dan jelas, mereka harus kemana bila anak nya kenapa-kenapa.
Keesokan harinya, Sahan tetap tidak menyerah masih mengguyur give nya serta berangkat ke sekolah sendirian, Bayu menginap di rumah Celien bersama Lisa dan Dimas jadi mereka akan berangkat dari sana.
__ADS_1
Sahan akhirnya berangkat sendiri, dengan ketingat yang mengucur deras dari punggungnya saat iamenyeret give sendirian. Terlebih, kakinya sedang masa penyembuhan. Selalu berdenyut ketika ia menggerakan yang di balaut gips, meski Sahan bicara tidak merasakan apapun kepada Ayah nya yang mengawasi.
Jangan sampai kakinya bertambah parah. Ia kemudian memilih mengistirahatkan diri dengan duduk di pinggir lapangan upacara karena gedung sosial juga terasa jauh sekali bila tidak ada bantuan teman-temannya.
Sahan menghela nafas sabar, ia menggunakan bantuan tongkat nya untuk kembali berdiri, serta lekas melangkah kan kaki nya, walau sendal rumahan yang ia pasang pada kaki kanannya terlepas. Sahan juga tidak bisa memeluk kaki nya untuk mengambil benda tersebut.
Kemudian ia menggunakan tongkat untuk mengarahkan sendal agar masuk lagi terpasang, kaki lelah Sahan bahkan tidak sengaja mendapatkan tekanan berlebihan hingga sontak Sahan mengaduh, ia kehilangan keseimbangan sebab kaki yang ke seleo dan di pasang gips lebih merepotkan untuk di gerakan.
Shan memejamkan manik kuat lantaran kepalanya akan terbentur kembali pada anak tangga lapangan, walau lengan besar yang menahan nya ini membuat Sahan kembali membuka matanya.
"Oh?"
"Kamu baik?" tanya Degun. Saham pikir itu Dirgan. Ia mengajukan kepala ketika Degun membantu Sahan menegakan kembali badannya, Degun Kemudian berlutut serta memasang sendal pada gips Sahan yang meringis sebab kakinya terasa kejepit.
"Terimakasih" ucap Sahan.
"Tidak masalah biar aku yang mengantar sampai kelas"Sahut Degun. Sahan mengagulan kepala, ia menerima uluran tangan Degun yang membuatnya masuk ke dalam gedung sosial, setidak nya ini lebih baik bagi Sahan mendapatkan bantuan.
"Aku belum mengajak kamu berkeliling, Degun , maaf"ucap Sahan
"Aku sudah hafal kok, jangan hawatir. Mungkin nanti bantu aku mengejar pelajaran bila kamu senggang ya" pintanya. Sahan mengulas senyuman serta menyetujui hal tersebut.
Tidak lama setelah Sahan duduk di kursi pelajar. Temen-temen nya dateng serta memeriksa ke adaan Sahan yang sudah lega ia sudah sampai ke kelas berkat bantuan Degun, pelajaran pertama pun akhirnya di muali.
Setiap guru yang masuk, tentunya menayakan ke adaan Sahan yang memberikan jawaban seadanya, Berian serta jajaran organisasi lain sempat menjenguk Sahan ke kelas dan membawa satu keranjang buah.
Sekarang hari kedua anggota PMR memberi memberi ketuanya juga sekeranjang buah, tentu yang senang adalah Agus dan Bayu yang menyerobot meski mereka tidak menggangu buah pir karena itu kesukaan Sahan.
"Aku mau kekamar mandi sebentar, kalian duluan saja ke kantinya"ucap Sahan.
"Anter engga?" tanya Lisa.
"Engga usah"sahut Sahan. Mereka baru saja melewati gedung UKS, Sahan berbalik ke koridor kanan ketika teman-teman nya lurus untuk sampai ke kantin. Sahan melewati UKS serta melihat isian yang membuatnya tertegun sebab ada Amelia di sana.
Penampilan nya berubah banyak dalam waktu empat hari, ia mengikat rambutnya serta membuka dua kancing seragam sampai belahan dadanya terlihat, Amelia juga terlihat berseri seri karna bergabung dengan kelompok Dirgan.
Manik Sahan tiba-tiba memanas, mungkin saja Amelia benar sudah tidur bersama Dirgan. Mungkin itu juga sebab, mengapa Dirgan juga tidak datang untuk nya karena ia sudah menemukan pendamping lebih gampang untuk di taklukkan.
Sahan sudah menanti Dirgan Selama lima hari lamanya. Namun hati Sahan tiba-tiba berkecamuk setelah melihat Amelia. Sahan mempercepat langkahnya, mungkin memang Dirgan sudah tidak peduli lagi pada dirinya yang tidak fokus masuk ke dalam toilet wanita.
Mata Sahan tiba-tiba mengabur karena ia tenggelam dengan semua pemikiran negatif yang membuat hatinya benar-benar terluka. Sahan tidak fokus melihat tanda peringatan lantai basah.
Tidak lama kemudian, suara benturan hebat berhasil memecahkan Isak tangis Sahan, karena rasa sakit menjalar di seluruh tubuh Sahan, Sahan menelungkup di lantai karena rasanya sesak melihat Amelia.
Seharusnya, ia memang tidak membantu wanita yang malah menikmat nya dengan tidur dan bertemu dengan kekasihnya pada malam hari di sekolah. Sahan menginvasi toilet kosong tersebut dengan tangisan yang memenuhi ruangan.
Kedua bahunya di cengkram lembut untuk tidak menelengkup menyedihkan seperti itu.
"Astaga....kacau sekali"lontar Dirgan. Sahan makin meninggikan suara tangisannya saat Dirgan mengangkat kepala Sahan dalam dekapan. Ia melihat tongkat yang terlempar jauh dari kaki Sahan ketika ia terpeleset dari kamar mandi.
__ADS_1
"Kemana teman-teman mu. Kenapa sendirian, Hem?" Diragan mengusap Surai Sahan yang malah menepuk dada nya lemas, ia meremas baju seragam Dirgan yang memenuhi pikirannya beberapa hari ini.
"Maaf..... meninggalkan kamu waktu itu"