
Suara tepuk tangan dari para murid sosial dua pun terdengar riuh setelah Sahan dan tim nya menjelaskan secara detail sistem perpajakan dan menyampaikan hal tersebut dengan baik.
Time pesaing tidak ada yang berani bertanya, kemudian tim Sehan dengan giat memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada para audiens.
Persaingan menjadi lebih mudah bagi Sahan dan time untuk mendapatkan nilai lebih,inilah mengapa Sahan sangat suka ekonomi. Karna saingan nya sedikit.
Teman-teman lebih antusias pada sosiologi dan juga geografi. Hanya empat siswa yang mengambil lintas minat ekonomi untuk ujian nasional nanti.
Seusai belajar dengan sangat lancar dan memuaskan. Tidak lupa, Sahan menceritakan perkembangan Intan kemudian keikutsertaan Dirgan dalam masalah ini .
Teman-teman Sehan akan menyelidiki tentang penindasan. Karna Sahan merasa bila persoalan intan akan cepat selesai bila Dirgan ikut campur.
Mereka pun akhirnya berpisah serta akan melaksanakan misi dengan tugas masing-masing. Termasuk Sahan yang langsung menghubungi kekasih nya sebab Sahan akan mengajak Dirgan kekantin,lalu perpustakaan.
Hanya saja"Loh, kenapa Gadi angakt"gumam Sahan. Ia pun membuka aplikasi alat pelacak. yang baru tadi pagi ia pasang di ponsel Dirgan.
Sahan membelak karna Dirgan sudah ada di perpustakaan sampai membuat nya mengambil langkah lebar dan berlari cepat menuju tersebut .
"Eis,sudah aku bilang untuk memulainya tanpa melewatkan aku"gerut sahan. Begitupun Dirgantara yang terlalu pokus memperhatikan Rulli tengah bercengkrama dengan seorang siswa.
Ia lupa pada ponsel mode hening yang berada dalam saku,sesuai dengan peraturan tertera bila ingin memasuki perpustakaan,memang harus mematikan ponsel dan jangan mengobrol atau pun berisik.
Namun,lihat lah penjaga perpustakaan yang menerapkan aturannya tidak mencontohkan apa yang para siswa purple winter ini taati. Ia bahkan tertawa dengan bebas sampai membuat Dirgan ingin menghentikan bibirnya.
"Astaga,kamu sungguh ingin menyelidiki Ruli"tanya Ari
"Bos,Sahan memang orang penting bagimu. Tapi masih banyak yang harus kita lakukan"Timpal Redi. Keduanya membisik pada Dirgantara sembari membuka lembaran buku novel besar hanya untuk pormalitas saja dan untuk menutup wajah.
"Ini bukan untuk Sahan. Sekolah seperti yang selama ini kita lakukan.Aku tidak Sudi mengerjakan orang-orang hina seperti itu"jelas Dirgan
"Tapi kita tidak punya bukti dia bersalah"sahut Ari.
"Itu yang sedang kita cari sekarang"kedua teman Dirgan pun menghela nafas sabar, Padahal ada yang paling mendesak di banding kan perihal satu ini,namun Dirgan ingin menyelesaikan nya satu persatu. Urusan kariyawan menjadi bagian penting dari berjalan nya sekolah yang sangat baik.
Keduanya hanya bisa mendukung,serta melakukan apa, yang Dirgan inginkan sebagai bentuk kontribusi mereka terhadap Dirgantara.
Setelah berbicara dengan Ruli,siswa yang bersama nya pun pergi tersipu dengan wajah memerah nya setelah Ruli membisikan sesuatu.
Ruli mengambil kardus berisikan buku-buku Samapi Dirgan dan kedua kawannya pun sempontan mengangkat buku menghalangi wajah mereka. Apalagi,langkah kaki seorang Siswi dengan napas terengah nya pun telah mengalihkan perhatian Ruli terpaut dengan ulasan senyum manis.
"Loh,Sahan? kenapa berlari?"tanya Ruli. Kekasihnya sempontan menoleh kepada Sahan yang mengusap dagu dengan keringat mengucur deras dari Sahan. Ia lupa bila harus menunggu wanita tersebut. Pelajaran ekonomi selalu melenceng apa bila sedang peresentasi. Mereka masih belajar meski bel sudah berbunyi.
"Oh?hai kak Ruli"sapa Sahan. Tentu saja, hanya dalam satu kali tatapan, Sahan sudah bisa menangkap sisi Dirgantara di meja yang tengah di belakangi Ruli sekarang ini, ingin sekali Sahan menjewer Dirgan yang ninggalin.
__ADS_1
Padahal,dia tidak ingin tertinggal apapun.
Ruli lantas menyodok kardus dan menjulurkan sekaleng jus kepada Sahan yang bergerak kaku....sebab kenapa rasanya canggung sekali padahal sudah di bilang. Ruli dan dirinya sudah akrab karna Sahan sering kemari.
"Oh,makasih"ucap Sahan. Ia menerima kaleng jus tersebut dengan sungkan. Ruli mengangguk kan kepala serta menata buku di lemari terdekat takala Sahan haus, serta membuka minuman tersebut dan meneguk lega untuk kemarau yang menerpa tenggorokan.
"Sudah beberapa hari aku tidak melihatmu. Apa gara-gara Intan?"tanya Ruli
"HM,"Sahan sontak saja membeku karna dia tidak menyangka Rulli sudah menduga Sahan datang untuk intan.
"Aku tidak melihatmu,di perpustakaan mungkin Karan intan sering kesini,jadi kamu tidak Dateng. Tapi sekarang kamu,Dateng lagi kemari. Apa karna ingin mengenang intan?"tanyanya.
"Ahhh"Sahan menghela napas lega,ternyata Ruli tidak berpikir bahwa dia akan mengintrogasi dan mengamati diri nya. Sahan kemudian menatap Dirgantara yang mengangguk, kekasihnya itu pun membantu Ruli menata buku novel.
"Bener juga,sudah hampir dua Minggu. Semenjak aku kehilangan dia"sahut Sahan
"Ya, perpustakaan menjadi satu kehilangan pelanggan setia,jangan Samapi kehilangan lagi"sahut Ruli
"Hm?apa intan sering kesini tanpa aku?"tanya Sahan. Ruli menganggukan kepala,ia kemudian menyodorkan buku novel berjudul Untouchable fond kesukaan Sahan dan intan. Merupakan pampir menyerap energi yang jatuh cinta dan memiliki hubungan tumit dengan seorang manusia pendosa besar.
"Itu buku favorit nya. Itu baru sampay setia empat"sahut Rulli
"Tapi kan,buku seris dua. Berarti series empat belum di pajang di etalase bukan?"tanya Sahan.
"Serius!?"Rulli Sinak saja mengacungkan telunjuk nya kepada Sahan yang sempontan merapatkan bibir. Ini perpustakaan,Sahan harus ingat dirinya tidak boleh berteriak atua berbicara terlalu kencang.
"Aku juga penggemar buku ini kenapa tidak memberi tahu aku kali bisa peinjam yang tidak ada di etalase"perotes Sahan. Rulli terkekeh sebab teman intan ini mulai merajuk pada nya.
"Intan tidak meminjam,ia membacanya disini. Itu pun sehabis pulang sekolah,supaya siswa lain tidak mengetahui nya. Dia benar-benar penggemar berat buku ini, waktunya habis cuma untuk menamatkan novel series"jelasnya
Sahan tentu saja menangkap apa yang Ruli katakan. Artinya Intan selalu datang kemari sehabis pulang sekolah untuk membaca novel. Tanpa dirinya.
"Kamu sudah membaca sampai mana?"tanya Ruli.
"Tentu saja setia satu. Buku keduanya baru ada"perotes Sahan. Ia mengacungkan buku yang dirinya nanti,Sahan membuka legenda pertama vampir kuno yang ingin bervolusi menjadi manusia. Baca ini sangat menarik dan tidak membosankan.
"Kamu mau Sahan? membaca semuah setianya?"tanya Ruli. Sahan pun mematri atensi kepada Ruli yang juga menatap nya intens.
"Boleh"tanya Sahan ragu
"Tentu saja,tapi kamu harus merahasiakan nya. Datang seja besok sehabis pulang sekolah. Kamu harus membacanya di sini, aku tidak bisa meminjam kan nya untuk di bawa pulang"lontar Ruli
"Wah?! serius?!"tanya Sahan antusias
__ADS_1
"Yap," Sahan terkekeh senang,ia mendekap buku novel kesukaan semuah siswa Karana ceritanya menarik dan cantik ini akhirnya bisa membaca lebih awal tanpa menunggu lama lagi.
"Terimakasih Kaka Ruli"sahutnya
"Ya, ngomong-ngomong,kamu cantik sekai dengan rambut pendek. Lehermu lebih kelihatan jenjang"
*********
Sahan menjatuhkan buku novel dengan minuman yang belum iya habiskan. Melangkah mundur ketika iya kewalahan dengan kecupan Dirgan yang memburu dirinya dengan ganas.
Sahan menepuk dada kekasih nya yang mengamuk setelah iya mendapatkan gombalan manis yang Sahan terima dengan senyum.
Ia terengah karna tidak bisa lepas dari Dirgantara yang merangkum kuat dirinya. Menekan kepala Sahan serta mengisap semua yang tersisa sampai Sahan merasa kehilangan tenaga.
Baru setelah Dirgan merasa Sahan batuk-batuk,ia melepaskan bibirnya dan membiarkan dia menghirup napas lega,karna Sahan merasa hampir mati. Sahan merasa kehilangan tenaga untuk berdiri,Dirgan menahan nya serta menunggu Sahan bernapas dengan benar.
"Kamu hampir membuat ku mati"sahut Sahan. Ia menyenderkan keningnya pada dada Dirgan serta mencoba untuk menetralkan napas yang terengah hebat .Pipi Sahan memerah dua kali lipat untuk serangan mendebarkan yang membuat nya tidak bisa berkutik.
"Aku hanya menghisap napas kamu,aku jamin kamu gaakan sekarat"jelasnya. Lantas Sahan langsung mendorong dada Dirgan agar menjauh dari nya. Ia mengusap suraia prustasi ketika melihat buku novel pinjaman perpustakaan sekarang basah kuyup ketumpahan jus ini tidak tertolong sebagain.
"Itu bakan salahku,kamu harus ganti rugi"tekan Sehan
"Tidak masalah"sahut Dirgan. Sahan berdecak,ia mengacungkan kepalan kepada Dirgan yang menyeringai karna lipstik Sahan belepotan karna ulahnya.
"Padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun. Kak Ruli yang memuji ku salah?"perotes Sahan. Ia tidak terima,hukuman dalam bentuk apapun,jika dirinya tidak merasa bersalah sama sekali.
"Kamu menerima minuman dari periya yang menggobali kamu. Jelas aku tidak terima,begitupun dengan buku nya"sangkal Dirgan .
"Itu memang buku kesukaan aku! meski Kaka Ruli tidak memberi nya, aku kan tetap meminjam nya"
"Jadi kamu besok akn menemuinya hanay untuk buku?"tanya Dirgan
"Tentu saja,aku menunggu nya lama sekali. Setidaknya Kaka Ruli akan meminjam kan buku series yang belum ada di etalase,ini kesempatan"sahut Sahan. Ia pun memungut kaleng dan buku basah akibat Dirgan.
Memasukan kaleng kedalam tong sampah serta mengedarkan pandangan mencari pelan lantai di ruangan Dirgantara yang berdecak pinggang.
"Tidak boleh"tekannya.
"Jangan melarang ku ini benar-benar buku yang aku incar,kamu tidak bisa membelinya karna buku ini hanya di ekspor ke perpustakaan sekolah,ada di beberapa penerbit,namun sangat mahal sekali harga nya"sahut Sahan santai.
Iya mencabut beberapa tisu untuk mengeringkan lantai sebab jus dapat mengundang semut bila di biarkan terlalu lama.
"Tidak perlu Dateng,biar aku yang mengambil bukunya"tekan Dirgan. Sahan sontak saja mengengada kepala Dirgan yang melipat lengan di dada. Dirgan tidak rela melihat Sahan berbincang dengan Ruli seperti tadi
__ADS_1