
"Mau kekantin?di sini tidak ada makanan"tawar Dirgan.
"Naanti saja pas istirahat pertama"Sahan kembali mengedarkan pandangan dan memperhatikan ruangan kelasik ruangan Dirgantara yang cukup unik.
Dirgan lantas menyodorkan coklat mint yang sempat Sahan berikan untuk bentuk minta maaf,sampai manik Sahan melebar dengan lebar dengan binaran mata yang membuat Dirgan mengulas senyum man.
"Loh belum di makan?"tanya Sahan
"Belum sempat,kemarin aku sebum banget sama pacarku"sahut Dirgan.
"Loh! harus nya di makan ini bentuk tulus permintaan ku Dirgantara. Kamu harus menghargainya!?"bentak Sahan
"Begitu ya, ok aku makan"Dirgan kembali menarik coklat yang membuat Sahan membelak. Iya meremas coklat yang iya berikan untuk Dirgan.
"Anggap saja aku sudah memberikan nya"sahut sahan. Dirgan menggelengkan kepala,sikap Sahan memang aneh sekali bila menyangkut coklat mint.
Sahan lantas menghampiri koleksi Poto Dirgantara mengenai dirinya. Dinding kanan berisi pot-pot cantik yang membuat Sahan kagum. Berniat sekali Dirgan mengkoleksi ini semua.
"Ini Poto aku pas kelas sebelas kenapa ada?"tanya Sahan.
"Anak-anak mengirim nya dan langsung aku cetak. Baru di tempel beberapa hari yang lalu"sahut Dirgan. Keduanya memilih untuk menunggu di ruangan Dirgan setelah upacara selesai. Sahan memakan coklat,sedangkan Dirgan dengan minuman kaleng nya.
"Aku baru sadar,aku cantik sekali"ucap sahan. Bahakan Dirgan terperangah mendengar Sahan memuji dirinya sendiri ketika melihat Poto nya yang tengah mengikat rambut di ruangan olahraga.
"Aku baru sadar,ini semuah Poto mu. Tidak ada kita"lontar Dirgan. Sahan mengangguk setuju.
"Kita Poto nanti. Apa aku terlihat cantik bila rambut panjang atau pendek?"tanya Sahan. Setidak nya dia harus meminta pendapat Seseorang karna ini merupakan gaya baru Sahan hanya untuk menghindari Veri.
"Bagus keduanya. Kapan kamu potong?aku belum mendapat Poto terbaru"sahut Dirgan. Iya menyenderkan tubuh nya ke dinding sembari melipat kedua lengan di depan dada saat memperhatikan Sahan mengunyah coklat sembari melihat poto-poto dirinya.
"Sebelum Veri berangkat keluar kota. Aku berencana bersembunyi darinya dan kamu dengan mengubah gaya rambut. Sudah dapet ijin juga dari Bu Novi,aku akan mulai mengikuti kelas dari bimbingan konseling.uacap Sahan.
"Kamu pikir bisa menghindar dari aku dengan cara potong rambut?"
"Tentu saja bila aku berusaha."sahut Sahan. Dirgantara berdecak iya menjentrikan lengan Sahan yang akn mencabut salah satu Poto jepretan yang menarik perhatian nya.
__ADS_1
"Tidak boleh diambil"jelas Dirgan.
"Loh kenapa?ini kan Poto ku?"perotes Sahan
"Ini miliku,cetak sendiri kalau mau"jelas Dirgan. Sahan berdesis,ia menghentakkan kaki nya perotes manis yang malah membuat Dirgan menyeringai sebab Sahan terlihat manis bila melakukan hal tersebut.
Meski Sahan terpaku pada dirinya yang berbeda di samping wajah Dirgan. Peria ini pun sempontan melihat apa yang membuat Sehan membeku.
Ia tidak sengaja mencetak Poto Sahan yang tengah berada di perpustakaan,kemudian belakang meja yang Sahan tempati merupakan meja Ruli penjaga perpustakaan yang juga sedang mengobrol dengan intan.
Dirgan pun sama kaget nya ketika iya menyadari sesuatu yang menurut dirinya ini cukup membuka kasus intan yang belum mendapat kan petunjuk kembali.
Karena dari sini bisa terlihat. Bagaimana cara Ruli memegang tangan Intan ketika temannya Sahan yang sedang sibuk membaca di depan mereka.
"Intan dan Ruli ..... mereka berpacaran?"
,
************
Jonathan mencoba untuk mempertimbang kan permintaan Dirgan. Pacar anak nya tersebut telah menemukan kecurigaan tertentu pada pekerja yang mengabdi di sekolah.
Dirgan ingin supaya Jonathan menarik dahulu polisi penanggung jawab untuk kasus intan agar dia leluasa menangani masalah tersebut,tanpa membuat pelaku curiga. Lagi pula,polisi memiliki banyak keterbatasan untuk terus melakukan penyelidikan yang hanya bisa di lakukan saat mereka pulang sekolah.
"Kamu sudah punya bukti saat menyelidiki seseorang?"tanya Jonathan. Jangan sampai ia mengulur waktu percuma ketika orang tua intan terus mendesak.
"Itu sebabnya aku minta izin Ayah. Ini gaya perdugaan dan aku hanaya punya bukti kecil saja. Meskipun aku tidak menginginkan nya,polisi kecil mu kaya nya tidak akan tinggal diam dan membahayakan diri sendiri dengan menyelidikinya modal nekat"jelas Dirgan.
Sahan mengangguk antusias saya mendengar itu,memang bila dirinya akn bereaksi sendiri bila sampai Dirgan tidak ingin ikut campur atau pun Ayah nya tidak mengizinkan.
***Meski kali ini ,Dirgan katanya mau ikut Karana ini berurusan dengan kariyawan sekolah yang merupakan tanggung jawab dirinya. Mengenai penindasan sesama siswa. Iya tidak mau ikut campur. Namun bila memang urusan kariyawan,Dirgan harus menanganinya.
Sahan pun akan mendukung penuh kekasih nya yang telah ikut berpartisipasi untuk memecahkan kasus intan. Ia mengobati penuh kasih sayang dan lembut,luka di pipi Dirgantara seraya mendengarkan iya berbicara dengan Ayah nya.
"Mungkin ini berbahaya bagi pelajar,tetapi berhati-hati. Aku akan memberi mu waktu satu Minggu,bila tidak berhasil. Aku akn melepaskan kembali penanggung jawabku untuk menyelidiki lebih dalam.ucap Jonathan.
__ADS_1
Setidak nya iya sudah mendengar beberapa hal mengenai dirgan ketika iya menangani kasus Putra dan juga Hera. Memang Dirgan berkontribusi besar untuk keterlibatan sekolah tersebut. Semuanya kacau ketika Dirgan hilang dan juga tak terkendali seperti sekarang.
"Baik Ayah terima kasih"keduanya pun mengakhiri panggilan. Dirgan menghela napas nya berat,serta melihat kearah Sahan yang senyum seusai menutup luka Dirgan. Banyak sekali tugas yang harus ia kerjakan.
"kendalikan wajahmu.Aku lagi kesal sekarang"Sahan malah terkekeh Karana Dirgantara pastinya kesal karna Sahan memasang alat pelacak di ponsel Dirgan.
Ia akan mencari peria ini jika dirinya lagi senggang. Dirgan tidak boleh melewatkan Sahan serta harus membawanya kapan saja setiap Dirgan menyelidiki kasus intan. Sahan akan mengekor dirgan dengan suka rela.
"Aku akn mengunjungi mu setelah pelajaran ekonomi selesai,kamu jangan kemana-mana ya harus dengan aku"jelas Sahan. Dirgantara tidak menanggapi Sahan yang kembali mengoleskan salep nya.
"Bilang iya Dirgan"
"Iya"jawab Dirgan malas. Sahan lantas menyerahkan salep beserta beberapa pelestar kepada Dirgan.
"Luka nya udah mulai kering,jadi gak usah pake anti septik lagi. Cukup oles siang dan malam saja,ganti pelestar kalau wajahmu basah"ucap Saha. Iya menyodorkan kembali salep yang belum Dirgan terima menyelidiki matanya yang intens.
"Kenapa di berikan padaku?"tanya Dirgan
"Lah?kan ini luka kamu,harusnya di obati secara rutin dan teratur biar cepat sembuh"
"Kalau gitu obati sama kamu,secara rutin dan teratur,memangnya ini ulah siapa?kenapa aku yang harus repot"ucap Dirgan. Sahan berkedip takala dirgan menampik salep tersebut.
"kalau malam gimana?"
"Ya obati"
"Tapi kan,aku gak mungkin setiap malem kerumah kamu?"
"Aku kerumah kamu"sahut Dirgan. Sahan terperangah,ia memejamkan matanya sabar serta beranjak dari ruangan Dirgantara sebab upacara sudah selesai. Tidak ada gunanya berdebat dengan Dirgan.
"Padahal lebih mudah kamu sendiri yang merawat nya saat malam. Aku heran dengan manusia yang satu ini. gerut Sahan. Ia melewati Dirgantara yang baru saja menelepon rekan nya.
Dirgan sebenarnya tidak peduli dengan diskarim nasi atau apapun yang bersangkut paut dengan kekuasaan dan perbudakan.
Namun saja,ini menyangkut pegawai yang sudah diberi hak kekayaan intelektual dari sekolah. Jelas Dirgantara tidak bisa menerima nya.
__ADS_1
Dirgantara sudah bekerja keras membangun sekolah menjadi sarana siswa dan ingin membuat nya menjadi yang terbaik. Ia merasa tersinggung ketika ada kariyawan yang tidak bisa bekerja dengan benar***.