
"Dirgan!"
"Tidak"
"Dirgan dengarkan dulu"
"Tidak, tidak, tidak"
"Kamu harus-"
"Tidak,tidak"Sahan terengah ketika ia mengejar Dirgan serta sekarang berusaha keras untuk menahan peria yang berjalan di koridor ini agar tidak pergi ke gedung Sains dan belajar.
"Dirgan plis"
"No, no, no"Langkah Dirgan melambat karna Sahan. Ia menahan dada bidang tersebut agar tidak keluar dari kantin sampai tubuh Sahan pun malah terseret perlahan sebab Dirgan tidak bisa di hilangi dengan mudah.
"Jangan menjadikan nya senjata Sahan,ini perose berbeda"ucap Dirgan
"AW"serang Sahan.Dirgan sepontan berhenti mencoba untuk menerobos ketika Sahan mengaduh.
Meski wanita itu terkekeh serta dengan langsung cergas mengunci pintu keluar gedung.Dirgan berdecak seba dia terbuay dengan mudah nyah oleh Sahan.
"Kepala ku masih sakit tahu gara-gara kamu"perotes Sahan
"Kenapa membahasnya"
"Karna kamu harus menebus nya.Untuk itu,katakan gedung yang ada di sayap kiri,baru aku akan memaafkan benjolan yang kamu perbuat di wajah cantik minta ampun untukku"ucap Sahan
Dirgantara terpengarah. Ia tidak menyangka Sahan akn seantusias ini ikut campur masalah orang lain. Walaupun Lisa juga tidak sengaja melihat apa yang seharusnya dia lihat. Lisa tetap salah Karan menginjakan kaki di gedung sayap kiri.
"Kamu tidak mengerti arti konsekuensi Sahan?"
"Aku penasaran Dirgan"
"Rasa penasaran itu yang akan membahayakan kamu. Jangan cari mati,belajar yang benar"ucap Dirgan. Ia meraih kunci sepontan Sahan sembunyikan di belakang punggung nya.
Dirgan tentunya tidak berhenti disana, sampai Sahan melangkah mundur sampai berakhir dengan diri nya yang tersudutkan di bingkai pintu sedangkan Dirgan mengungkung nya.
Sahan dengan berani mengengada meski ia merasakan napas Dirgan di pucuk kepalanya hanya untuk membujuk peria tersebut. Sahan tidak boleh menyiapkan perihal ini untuk mencari tahu tentang intan.
"Kamu sungguh mencintaiku Dirgan?"
"Pertanyaan macam apa itu?" tanya Dirgan
"Kalau begitu kamu mau mendengarkan aku "sahut Sahan.
"Aku bisa memilih mana yang harus aku dengar atau tidak,meski aku menyayangi mu"timpal Dirgan. peria ini benar-benar sulit untuk di ajak bekerja sama. Mengatasi hal-hal yang harus di tindak lanjuti.
Kepala sekolah terlalu abai kepada tugasnya, ia tidak memeriksa area yang menjadi tanggung jawab dan hanya dateng sesekali kesekolah yang membuat Sahan yang menjadi wakil ketua OSIS ini merasa punya tugas,bila iya yang harus memeriksanya.
"Kalau begitu aku akn cari tahu sendiri.Aku tidak butuh kamu.Aku akn ke sayap kiri sendirian"cetus Sahan. Ia lalu mendorong dada Dirgan serta melempar kunci pintu gedung kantin tersebut sembarangan.
Berharap Dirgan akn mengikuti Sahan,meski peria malah memungut kunci serta memilih untuk mengerjakan tugas di banding menghalangi nya ke gedung sayap kiri.
__ADS_1
Ia harus mencari tahu apa yang Lisa lihat di dalam gedung tersebut hingga iya banyak melamun sampai sekarang.
Sahan hanya butuh tekat yang kuat saja. Ia bisa pergi sendiri yan,Sahan melangkah kan tungkai pasti memasuki area yang di jauhi para siswa.
Namun,nyata nya dia melihat lima siswa yang tengah mengobrol ini sontak saja berdiri. Saat menyadari kedatangan Sahan di pintu masuk gedung sayap kiri.
"Bukan nya siswa tidak ada yang berkerumun disini. Kenpa kalian ada di sini?" Tanya Sahan heran.
"Kamu juga kenapa kemari?" Sahut Rio. Terlihat dari tag miring yang di pakai asal.
"Aku akn masuk untuk mengecek keadaan,aku wakil ketua OSIS"jelas Sahan
"Ya,tapi baru saja bos Dirgan memberi tahu bahwa kami harus menghadang perempuan untuk masuk kedalam gedung" Sahutnya
"Itu bukan aku"
"Jelas, nama Sahan yang ia pinta untuk tidak masuk"timpal Rio. ia menunjukan nama tag Sahan yang memejamkan mata dan mengusap suraynya prustasi.
Lupa Dirgan yang menguasai tempat yang seharusnya menjadi area belajar mengajar saja disini. Pantas dia tidak repot-repot mencegah Sahan. Karna ia perlu mengeluarkan perintah saja.
"Kembalilah,kami di suruh menyeret anda keluar area bila masih berada di sini"jelas nya. Sahan melihat lengan di depan dada. ia menatap bergantian lima siswa yang sungguh baru masuk sekolah menengah tapi sudah berkecimpung di dunia Dirgantara.
"Harus nya kalian belajar di banding mendengar perintah orang gila" cetus Sahan. Ia memilih untuk pergi dengan emosi yang semakin menumpuk sebab Dirgan memupuk nya dengan baik.
Sahan mengepal tangan nya dengan erat. Ia masuk kedalam Kedung sains hanya untuk mengamuk kepada Dirgan yang tengah anteng mencatat pelajaran yang tertinggal.
Brak! Dentuman keras yang membuat banyak murid di kelas ini terperanjat sebab Sahan memukul meja kuat di depan Dirgan yang juga menghela napas nya berat.
Ia kemudian menarik Sahan yang menepis lengan nya,sampai membuat Dirgan pun berjalan terlebih dahulu menuju ruang lab penyimpanan kelas yang berada di belakang ruangan.
Tentu saja Sahan mengikuti karna memang target nya mengamuk kepada Dirgantara.
"Kenapa gabiarkan,berjalan dengan sebenar nya Sahan?" Sahut Dirgan. Ia menutup pintu Setelah Sehan masuk dengan tatapan nyalang nya terhadap Dirgan.
Ia juga sudah mendengar sekap Sehan ini dari Bayu. Wanita yang keras kepala yang tidak akan pernah Patang menyerah untuk menggapai apa yang iya mau.
"Ini menyangkut teman-teman ku Dirgan!. Aku tidak mau kehilangan siapa pun lagi"tekan nya
"Lisa tidak akan mati ********seperti Intan Sahan. Aku jamin itu"ucap Dirgan
"Tapi intan juga teman aku Dirgan! Aku berhak tahu apa yang terjadi padanya!" bentak Sahan.
"Kendalikan emosimu"
"Aku perlu tahu Dirgan! Aku perlu tahu"tekan nya kembali. Dirgan menggaruk kepala belakang nya pusing. Bisa satu abad berdebat terus dengan Sahan yang tidak akan pernah menyerah dengan mudah.
"Apa yang kau inginkan Sahan"
"Kebenaran" timpalnya. Dirgan menyeringa untuk ambisi Sahan yang akn membuat nya sangat repot akan membiarkan kekasih nya sendiri yang menangani masalah ini.
Dilarang beberapa kali pun,Sahan akn tetap mencari nya.
"Baiklah, aku akn mengijinkan. Apa yang akn kau beri"ucap Dirgan
__ADS_1
"Apa yang kamu"tantang Sahan
"Bibir mu"
********
"Lisa aku ingin bicara dengan mu"ucap Sahan. Keempat temannya pun bertukar pandangan saat wajah bersemu merah Sahan ini mengundang banyak tanya di masing-masing benak mereka.
"Kenapa harus dengan nya?aku juga mau dengar" ucap Agus
"Maaf,aku tidak yakin Lisa akan menjawab pertanyaan aku,bila bersama-sama." sahut sahan.ketiga temanya nya pun memusatkan atensi kepada Lisa yang merasa tidak. Menyembunyikan apapun hingga harus mengobrol berdua.
"Katakan,saja di sini tidak apa" ucap Lisa. Sahan lantas mendudukkan diri serta menatap tajam Lisa yang mulai merasa gugup. Sahan tidak akan seperti ini jika bukan hal serius.
"Kamu banyak melamun hari ini,kamu baik?"ucap Sahan. Lisa menunjuk diri sendiri Karana pertanyaan Sahan ini sedikit aneh bagi nya. Begitupun dengan ketiga teman nya yang menyelidik Lisa penuh arti.
"Aku tidak melamun" Sahut Lisa.
"Ya, aku melihat nya beberapa kali"timpal Bayu
"iya" jawab Ceristal dan Agus
"Kamu masuk ke gedung sayap kiri? Apa yang kamu lihat di sana?"ucap Sahan. Lisa sepontan menoleh ke arah meja kosong Degun yang menyelamat kan dirinya.
Bila saja jika tidak ada dia,mungkin Lisa akn ketahuan melihat apa yang seharusnya yang ia tidak lihat. Lisa kemudian melintas kan atensi kepada Sahan yang mengetahui semuanya.
"Kamu tahu dari siapa,Degun?"tanya Lisa
"Degun juga tahu kamu masuk gedung sayap kiri,? aku tahu dari Dirgan" jawab Sahan. Lisa menghela napasnya gusar . Ia mengedarkan untuk ruang kelas yang masih kosong sebab yang lain masih di kantin.
Dirinya melihat kan teman-teman nya yang . menunggu jawaban dari diri nya.
"Kamu tahu Amel?siswa MIPA Satu yang satu kelas dengan Dirgan.Ia ditindas oleh dua orang siswa tapi aku tida kenal sama mereka,namun putra juga menjadi korban .Aku melihat Amel terpaksa membuka pakayan nya serta dua penindas itu merekam Amel.
Kemudian,Degun memergoki aku,dia menarik ku untuk sembunyi di tempat lain sebab dua siswa siswa lain pun ada yang masuk kesana. Seusai merekam,mereka kemudian mengancam akan menyebarkan video tersebut,bila lusa tidak membawa mereka uang"jelas Lisa
"Astaga serius penindasan?"tanya Agus. Lisa sempontan mengacungkan dua jari telunjuk nya supaya Agus mempelan kan volume nya
"Kamu yakin tidak mengenal keempat nya"tanya Agus
"Seperti nya mereka dari sains. Aku tidak mengenal semuanya"jawab Lisa
"Apa mungkin intan juga korban penindasan?"tanya Ceristal .Sahan menarik napas berat . ia beranjak bangkit untuk satu singel mengenai siapa ayah dari anak yang intan kandung pun memberikan harapan untuk Sahan agar ini cepat usai.
Intan memang menemuinya dalam keadaan babak belur. Mungkin saja Intan mengalami penindasan dan pelecehan sampai ia memilih untuk*********karna tidak jelas siapa yang harus bertanggung jawab.
"Tunggu sebentar nanti aku kembali"ucap Sahan. Ia ber api-api hari ini,Sahan menggebu untuk menuntut Ayah untuk anak yang di kandung intan supaya bertanggung jawab atas kematian dirinya.
Sahan tidak ragu melangkah kan kaki nya, dimana dirinya kembali dengan sosok Dirgantara yang satunya orang yang bisa membantu Sahan.
Jaringan serta orang yang kuat yang tidak perlu Sahan ragu kan ini tengah menunggu keputusan dirinya di area belakang gedung sayap kanan yang menjadi markas anggota timnya
"Baik Dirgan aku setuju,cium aku"
__ADS_1