
"Ini gila"
"Ini kesempatan emas"sahut Dirgan. Ia terkekeh sendiri menatap atap rumah Sahan sebab habis melamar Sehan kepada Ayah nya. Jonathan tidak mengatakan apapun kecuali"menginap,saja sudah malem"
Jonathan beranjak bangkit pergi,padahal Sahan saat itu terperangah kala itu. Sekarang pun,ia tidak percaya kepada bajingan yang menerima selimut dari nya.
Dirgan senang bukan main,karna melihat reaksi Jonathan menandakan keterkejutan Ayah Sahan, Karan ada yang melamar Putrinya padahal dia masih sekolah SMA.
Ada kamar tamu juga sebenarnya,hanya saja....... Jonathan melarang Dirgan masuk dan mempersilahkan dia tidur di sofa saja.
"Kupikir akan,ada tes militer dari Ayah mu,dia lebih baik dari dugaan selama ini"ucap Dirgan
"Kau bodoh? menginap artinya mati. Jangan salahkan aku, atau besok merupakan hari Minggu. Mulut mu harus di beri pelajaran"sahut Sahan. Tentu saja Dirgan akan melewatkan penderitaan nya esok.
Harus nya iya panik sekarang. Akan tetapi, Dirgantara malah kembali terkekeh menyebalkan saat melihat wajah Sahan yang memanas. Ia menarik lengan Sahan untuk kembali duduk sebab wanita itu akan kabur ke kamarnya.
"Beristirahat lah hari ini,besok ajak teman-teman mu Dateng"ucap dirgan
"Kemana?"tanya Sahan. Ia celingukan ketika Dirgan menyodorkan kembali selimut yang Sahan berikan. Dirgan lantas merentangkan tubuh nya di sofa serta memeluk guling sesuai permintaan Dirgan kepada Sahan untuk membawa benda yang bisa iya dekap.
"Kemana?"tanya Sahan
"Kemari,bukannya mereka juga sedang menyelidiki kasus ini kan? semakin saja biar ga pusing . Ari dan Redi pun sudah ku undang kesini "lontar nya
"Apa? kamu pikir ini rumah kamu Dirgan"celetuk Sahan.
" mau bagai mana lagi. Mungkin besok aku sudah sekarat,tanpa bisa pulang. Kita bicarakan rencana selanjutnya di sini saja. Udah gih tidur, selimuti dulu"pinta Dirgan
Ia memejamkan matanya,Sahan malah menghela napas nya,gerak gerik Diragan memang kadang tidak bisa di tebak dengan mudah. Dia menyebalkan sekaligus menghawatirkan dan mampu menerik perhatian Sahan.
"Anak manja sekali si kamu"
"Percayalah,kamu akan menyesal setelah mengatakan itu. Teraktir seminggu"ucap Dirgan.
"Pakai sendiri"cetus nya. Ia melepas selimut tipis tersebut ke wajah Dirgantara yang tercekat,bisa ia maklum kalu Sahan marah. Dirgan hanay bisa mendesis untuk menghadapi tingkah Sahan yang sudah beranjak naik kelantai atas untuk beristirahat.
Begitu pun dengan langkah nya yang ketika terhentikan ketika Jonathan ada di depan pintu kamar Sahan dan lekas masuk kedalam kamar Putrinya untuk berbincang-bincang sebentar.
__ADS_1
"Aku heran ibu selalu menghindar kalau ada Dirgan. Tapi Ayah malah mepet-mepet"ucap Sahan. Ia naik keatas kasur serta membungkus tubuh nya dengan selimut tebal ketika Jonathan malah duduk di kursi meja belajar Sahan sambil menatap putrinya.
"Astaga,putri ayah yang kedua sudah mau di ambil orang"ucap Jonathan
"Ayah jangan macam-macam sama Dirgan. Calon suwami kak Sasa juga waktu itu sampai masuk UGD, Ayah tidak kapok?"tanya sahan
Jonathan terkekeh ketika ia pun melakukan seleksi ketat kepada calon suami anak sulung nya.
Begitupun dengan anak tengah dan bungsu nanti,walupun Sirena masih lama membawa calon suami nya datang kerumah,dan menghadapi ujian nyata dari calon mertua komandan polisi.
"Sebenarnya ini ucapan dari orang tua kuno,namun.......Ayah mau,sebelum kamu benar-benar ingin bersama nya,kamu harus mematikan orang tua Dirgan. Agar hidup kalian tenang"jelas Jonathan
" Kenapa dengan orang tua Dirgan? Oka Yohan baik ko,meski jarang bertemu di sekolah"jelas Sahan. Jawaban nya bukan berarti iya ingin mendapatkan dirgan. Hanya saja kenapa hubungan asmara dirinya,harus sangkut paut orang tua. Yang menjalani ini kelak dia dan Dirgan.
"Kamu mengenal keluarga nya?"tanya Jonathan
"Tidak,Dirgan tidak pernah membawa aku kerumah. Kami benar-benar merasa berpacaran,hanya sekarang ini"sahut Sahan
Jonathan mengagunkan kepala nya,iya menggaruk bagian kepal nya serta mematri atensi kepada anak nya yang mulai penasaran dengan kelakuan Ayah nya.
"Apa yang Ayah tahu?"tanya Sahan
"Kenap harus pake obat tidur Dirgan?"tanya Sahan
"Oh, jadi bener yang pegang sekolah itu adalah Dirgan? masa iya sama siswa?"tanya Sahan.
"Itu sekolah Suastawa nak tentu saja bisa. Nama yang tertera tetap Pak Yohan"jelas Jonathan.
"Terus ibu nya sakit apa?"
"Entahlah, itu di rahasiakan. Tapi dulu, Dirgan kecelakaan memang di sengaja. Dia menjatuhkan motor nya agar berhenti mengurus sekolah dan mengurus ibu nya, itu masih rumor,karna rem motor dia tidak ada,alias blong"jelas Jonathan
"Apa!?"
"Pak Yohan tidak mengurus istrinya iya malah menikah lagi Sahan. Sebenarnya,ayah tidak ingin berpikiran negatif. Namun sebaiknya kamu pikirkan dulu,kali ingin bersama Dirgan."jelas Jonathan
"Kenapa begitu?karna ayah Naya bajingan,anak nya pun sama?"tanya Sahan.
__ADS_1
"Buah jatuh,tidak jauh dari pohonnya"ucap Jonathan.
"Ayah tahu,kali Sahan pintar. Jangan khawatir soal itu lagi pula,Sahan tidak menginginkan Dirgan dalam waktu dekat. Sahan masih ingin sekolah dan kuliah. Baru itu memikirkan Dirgan,sudah lah Sahan mengantuk"jelas Sahan.
Ia menarik selimutnya dan meluruskan badan dan memejamkan mata,meski manik nya membuka kembali ketika Jonathan memutar kenop untuk keluar kamar serta tidak lagi mengganggu putrinya yang lagi kesal.
"Kalu Ayah hawatir sama Dirgan, kenapa Ayah dekat dengan nya?"tanya Sahan
"Dia tidak punya siyapapun kecuali Bi Surti meski orang tua nya masih hidup tapi mengapa Dirgan tidak ada. Ayah sedikit berempati padanya. Namun itu nomor urut ke sekian. Karna Ayah yang pertama harus dekat dengan pacar anak ayah,harus berjaga-jaga"jelas nya
Sahan bingung saat angin renik tiba-tiba menerpanya,ia ingat apa yang dirinya lakukan pada Dirgan pada beberapa menit lalu.
"Nak kenapa?"tanya Jonathan
"Aku menyebut nya anak manja ketik minta di selimuti. Eish Seharus nya Ayah bilang dari dulu kali dia kurang kasih sayang"gerut Sahan. Ia membuka selimut nya,lekas beranjak untuk menghampiri Dirgantara yang tengah menonton televisi.
"Loh,***kok belum tidur?"tanya Sahan. Dirgantara mengalihkan pandangan nya kepada Sahan yang turun.
"Kamu ngapain?"tanya Dirgan. Sahan menarik selimut Dirgantara yang hanya di peluk dengan menyedihkan. Sahan membentangkan selimuti tersebut,serta menyelimuti Dirgantara yang terpaku diam.
"tidur lah,selamat tidur"ucap Sahan
"Sahan tunggu sebentar!"pinta Dirgan. Sahan sontak saja terpaku diam,ketika Dirgan beranjak untuk bisa menahannya supaya tidak pergi.
"Ada apa?"tanya Sahan
"Bisa tunggu sebentar?aku lupa bawa obat karna terburu-buru"ungkap nya suka,Dirgan menggaruk belakang kepalanya,jelas Sahan akan menolak permintaan Dirgantara yang banyak mau nya
"Tentu,aku juga sedang ingin menonton"Sahut Sahan. Dirgantara mematri atensi kepada Sahan yang kembali lekas duduk di sampingnya.
Sahan mengambil alih remote dan memindahkan nya kepada filem derama yang iya sukai. Sembari menunggu Dirgan yang tidak bisa tidur setiap malam.
"Beneran?"tanya Dirgan
"Cokelat min satu bungkus yang ukuran besar"sahut Sahan,Dirgan mengulas senyuman. Ia membenarkan diri dan menjadikan paha Sahan sebagai bantal untuk nya.
"Aku takut seseorang selalu teriak ataupun menangis dan selalu membentak setiap aku memejamkan mata"jelasnya
__ADS_1
"Sejak kapan?"
"Sejak aku masuk neraka.Namun sudah lah semua nya membaik setelah aku melihat mu***"