
"Den baik-baik saja?"tanya bi supri. Dirgan menganggukkan kepala nya seraya tersenyum manis. Satu-satunya orang yang akan menyusul Dirgan apa bila ada suatu masalah, adalah dia.
Ayah nya mungkin enggan dateng. Atau malu berpapasan dengan orang,karna anak nya terlibat masalah.
"Sakit bi,baru setengah hari pacaran sudah putus"ucap Dirgan. Sahan mempermainkan aku.Hera sudah memberikan kesaksian nya bahwa yang melakukan hal tersebut adalah dua penindas yang tidak ia kenali namanya.
Hera dan kepolisian lain pun sedang menyelidiki penindas yang seharusnya mereka tangkap juga selain Rold dan Rian. Ari dan Redi juga tidak tahu apa-apa mereka menunggu di bawah serta hanya mendengarkan keterangan putra saja.
Dirga juga tidak memerintahkan mereka untuk melakukan hal tersebut kepada Hera. Bahkan,sebelum pergi. Dirgan meminta supaya Hera keluar dai gedung.
Namun,Hera tidak bisa meninggalkan Putra sampai dirinya juga terkena imbas. Karna kedua orang lain itu muncul dari koridor lain nya serta melakukan hal tersebut kepada Hera takala Dirgan dan anak buah nya gaada.
Sahan juga sudah mendapatkan ganjaran yang sangat setimpal dengan satu toyoran kepala dari Jonatan.Karna Sahan melukai orang yang tidak bersalah.
"Ma-maaf"ucap Sahan
"Seperti bom waktu"ucap Dirgan. Sahan semakin menunduk bagaikan toge layu, Ia terlalu emosi ketika melihat Putra dan Hera teraniaya seperti itu.
"Halo pak Jonathan" sapa bi Surti. Jonathan menyapa sapaan dari bibi yang sering mengantarkan makanan jika Dirgan ada di rumah nya.
"Lama tidak bertemu bi"Sahut Jonathan. tentu sja Jonathan sudah mendengar kisruh Dirgan yang sakit karna kecelakaan sampai satu tahun tidak sekolah.
Namun Sahan dan istri nya melarang untuk menengok. Sahan juga sering marah ketika menyinggung nama Dirgan beberapa bulan yang lalau. Mereka hampir melupakan kekasih anaknya tersebut.
__ADS_1
"Nak tolong ambilkan tas ayah"pintak Jonathan atau Johan. Sahan menganggukkan kepala, ia beranjak bangkit dan mengambilkan apa yang ayah nya minta di banding dengan bersamaan Dirgan yang sudah iaya hajar hingga melukai wajah tampan nya.
"Aya akan mengambilkan baju dulu buat ketua, den"pamit bibi. Dirgan mengangguk karna bi Surti datang untuk Ayah nya yang kebetulan sekali ada dan berkunjung ke sekolah hari ini. Walaupun hanya sebentar.
Kini hanya ada Dirgan dan Jonathan yang memeriksa pipi Dirgantara.
"Eih cukup dalem juga "ucap Jonathan
"Ya aku sekarang harus berhati-hati pada Sahan. Pukulan putri seorang polisi memang tidak main-main"sahut Dirgan.
"Ugh! kacau sekali bukan"ucap Jonathan. Ia menundukkan diri lelah di samping Dirgantara yang mengedarkan pandangan nya. Jonathan tahu mengenai dirgan karna ia kurang akrab bersama dengan orang tuanya.
Tentu saja Jonathan juga sudah pernah menyelidiki Dirgan karna dia merupakan kekasih dari putri nya meski secara diam-diam.
"Aku bisa,maklum karena dulu kalanya pernah mengalami penindasan"jelas Jonathan. Sontak saja Dirgan menggulirkan pandangan kepada kapten polisi yang telah mengedarkan pandangan nya. Sekolah tempat putrinya belajar ternyata sangat luas juga.
"Ka Sasa"tanya Dirgan. Jonathan membenarkan hal tersebut.
"Sasa juga pernah mencoba******** *****Sahan yang menangis paling kuat karna ia juga menyaksikan Kaka nya di lecehkan. Sirena baru SD waktu itu. Sahan juga baru masuk SMP"
"Lalu bagaimana penindasan nya Ayah?apah Ka Sasa hamil?"
"Sudah, ku kurung. Setiap kali aku mengunjungi selnya. Aku ingat dengan penderita anak-anak ku. Dan aku juga sibuk kejar jabatan,saat itu Sasa hamil,punya ank satu, dan itu hanya mengingatkan aku dan Dinda saat dia hadir kegagalan ku sebagai orang tua.
__ADS_1
Tapi,yang begitu sekarang menjadi pereman semuah,kelas dua SMP Sahan memukuli siswa kapten basket karna dia menarikan rok nya. Eih mereka malah makin menyeramkan" keluh Jonathan.
Dirgan terkekeh cerita Ayah Sahan. Mungkin,kejadian Hera,intan mengingat kan Sahan kepada kakaknya sasa yang berada di luar kota. Andai saja Dirgan tahu dari awal.
"Kami akan pindah"ungkap Jonathan
"Apa!"Sahut Dirgan lantang.
"Kemana?Sahan gimana?aku gimana?"ucap Dirgan sewot. Jonathan mengulas senyum man. Ia mengusap pucuk kepala Dirgan. Serta kembali mengedarkan pandangan.
"Masih belum jelas antara kota tempat aku dinas,atau tempat Sasa tinggal. Dia sekarang punya sepasang anak sekarang,perlu di jaga juga,karna dia dan suaminya kerja. Aku tidak mengijinkan dia untuk mengerjakan pengurus bayi,jadi nenek dan aku yang kan menjaga mereka."
"Sahan ikut pindah?"
"Tidak,lagi pula hanya tinggal beberapa bulan lagi. Keputusannya bisa di tumbangkan setelah ia lulus,ikut pindah atau pun mau tetap tinggal di sini. Sirena akn menemaninya setahun ini,di ikut melanjutkan SMA bersama kami"jelasnya
"Oh, astaga aku pikir aku akn punya pacar di luar kota"ungkap Dirgan . Ia mengusap dada nya tenang. Hanya Jonathan yang cocok di ajak berbincang sebagai pacar orang tua yang mendukung kedua nya.
Dirgan juga sudah merasa sangat nyaman sekali dengan Jonathan,akan lebih baik mereka tidak akan pindah.
"Oleh karna itu jagad ia........dengan baik selama aku tidak ada di dekatnya"ucap Jonathan
"Tentu, Ayah sampai menikah,dan punya anak . Pokoknya Sahan yang utama yang dukung aku"sahut Dirgan
__ADS_1
Jonathan mengulurkan kepala kepada Dirgan yang melakukan hal sama . keduanya beradu tinju sebagai kesepakatan untuk menjaga tuan putri.