
"Eih, mereka tidak ada kapoknya"sahut Dirgan.
"Rio juga terlibat, ia menghiyananti kita dan memberi informasi" jelas Ari.
"Argh, sial. Pekerjaan ku banyak sekali"keluh Dirgan. Ia melempar dokumen tersebut ke atas meja serta memijat keningnya pusing.
"Bagaimana dengan tugas-tugas kelas sebelas mu?"tanya Redi.
"Bagaimana apanya, terbengkalai semu"sahut Dirgan.
"Kamu harus mengulang kelas sebelas bila sampai ujian semester satu belum mengerjakan semuanya" jelas Ari.
"Ya, andai aku punya banyak waktu. Bagaimana dengan sisa pekerjaan aku?" tanya Dirgan.
"Tidak ada sisa, semuanya masih baru dan yang lama pun masih terbengkalai, rancangan pembagian devisi, misi dan tujuan kita masih belum terarah. Perekrutan karyawan serta kualifikasi yang kita cari pun belum dapat, kita juga belum mencari gedung baru, semuanya harus selesai bulan ini" jelas Ari.
__ADS_1
"Kenapa harus cepat-cepat?" perotes Dirgan.
"Karena ada hal lain yang harus kau lakukan setelah ini beres, aku pun sama banyaknya. Tidak usah berbagi, terimakasih" jelas Ari. Hampir gila rasanya Sahan mendengar aktivitas Dirgan. Tugas menjadi kepala sekolah pun masih belum usai.
Pertanyaan Sahan hanya kemana pak Yohan yang harusnya mengerjakan hal itu. Dari GPS Dirgan pun, pria ini sering menginap di sekolah, Sahan dan Ayah nya pun merasa bingung. Seharusnya Dirgan pulang kerumah , apa orang tuanya tidak mencari?.
Memang banyak sekali ternyata yang harus Dirgan kerjakan, pantesan ia menolak keras untuk membantu Sahan untuk mencari tahu tentang Intan dan juga penindasan, karena Dirgan memang sangat kewalahan.
Ia juga tidak terlalu peduli dengan perogram baru yang sekolah luncurkan karena komite tidak mengajukan peroposal kepada Diragan, jelas yang akan bertanggung jawab mengenai hal ini adalah orang yang mendatangani nya saja.
Selama itu tidak membuat Dirgan repot, ia terlalu masabodo dengan yang di lakukan orang lain karena ia pun sudah muali sibuk sekali. Terlebih Dirgan harus mengelolah tim yang tidak jelas tujuannya apa atau memang belum Sahan ketahui, magsud di bentuknya untuk apa.
"Astaga....."ucap Dirgan. Tentu saja hal ini ada sangkut-pautnya dengan Sahan. Ia berani mendekat kepada Dirgan serta melihat pria yang ada di layar ponsel anak buah Dirgan.
"HM,? Jason ada apa dengannya?" tanya Sahan.
__ADS_1
"Kamu kenal dengan dia?" tanya Dirgan. Padahal wajah ini merupakan anak buah Redi yang sangat membantu Dirgan sekali dahulu saat mencari informasi tentang Sahan. Kekasih Dirgan ini lantas mengambil ponsel anak buah Redi serta melihatnya secara sesama untuk memastikan bila pria ini benar-benar pria yang ia kenal.
"Dia sahabat Aldi sejak SD, aku bertemu dengannya sejak SMP. Sekarang di ada di sosial tiga, dia juga ikut menjadi anggota OSIS, tapi semenjak kita udah tidak dekat lagi" jelas Sahan.
"Udahan?" tanya Dirgan.
"Aku dan Aldi berpacaran, Jason yang sering mendukung kami"ucap Sahan. Ia mengusap tekuknya meringis melihat reaksi Dirgan dengan menilik atensinya dengan sesama.
"Beritahu aku wajahnya biar aku beri pelajaran"ucap Dirgan.
"Dih, orang udah lama juga, sebelum kenal kamu" sahut Sahan.
"Sekolah di sini? Jangan sampai kalian bertemu kembali atau aku menghukum mu" ancam Dirgan.
"Aldi engga sekolah di sini kok, Aldi sekolah di Righnt, kami juga engga pernah ketemu semenjak lulus"sahut Sahan. Sontak saja hal tersebut membuat manik Dirgan nanar termasuk semua orang yang mendengar nya.
__ADS_1
Sahan sebagi satu-satunya orang yang merasa polos ini pun mengedarkan pandangannya, meski Dirgan mencengkram dagu Sahan biar fokus kepada nya.
"Kak ada sekolah rilight menyerang!!"