
"Tidak bisa, kau sebaiknya mati saja"ucap Dirgan. Tentu saja ia marah dengan ide Ari. Sehabis pulang sekolah akhirnya mereka bersepakat akan berkumpul dengan teman-teman Dirgan dan Sahan di markas miliknya.
Mereka membicarakan perihal intan dan penindasan, namun Dirgan dan Ari maupun Redi lebih Fokus pada Ruli. Mereka akan menjebak nya sebagai bukti tambahan, kemudian Ari mengusulkan Sahan sebagi umpan, karena Ruli mengajak Sahan untuk membaca buku eksklusif sepulang sekolah.
Tentu saja hal tersebut membuat Dirgan mengamuk, ia tidak mau menerima usulan apapun yang akan melibatkan Sahan dalam situasi di mana ia harus berdekatan dengan Pria lain.
"Ayo lah bro, ini kesempatan bagus"ucap Ruli
"Bener juga, tapi kita harus mendapatkan penjelasan dari Sahan"timpal Agus. Ia sebenarnya juga merasa bila Sahan mampu melakukan hal tersebut, Karena kesempatan untuk dia lebih besar di banding kan yang lain. Namun, mereka harus mempertimbangkan kesiapan Sahan yang kan menjalankan nya.
"Akan aku coba"ucap Sahan
"Tidak bisa, Tidak boleh"kukuh Dirgan
"Ini bisa menjadi kesempatan Dirgan"timpal Sahan
"Kubilang tidak, atau akan aku batalkan operasi nya"semua orang terpaku diam, wewenang memang ada pada Dirgantara dan mereka tidak bisa melakukan apapun tanpa seizin Dirgan, namun.......Sahan berbeda. Begitu pun dengan teman-teman nya. Mereka tidak terpaku dengan keputusan Dirgan maupun kuasa nya.
"Aku tidak meminta izinmu Dirgan. Ini mengenai kesepakatan bersama Dirgan"jelas Sahan. Cara ia dan teman-temannya tidak terkait pada suatu perintah. Mereka berdiskusi hingga akhir Final sebuah keputusan dan jalan keluar yang paling terbaik.
"Angkat tangan yang setuju dengan rencana ini?"ucap Sahan. Keempat teman nya mengangkat tangan, meski Ari yang mengusulkan serta Redi tidak berani untuk mengambil suara karena keputusan Dirgan yang paling penting.
"Meski aku tidak angkat tangan, kamu masih menang karena banyak Suara"jelas Ari. Sahan menghela nafas nya karena ia terlalu menatap intens Ari yang tidak teguh dengan omongannya sendiri. Begitu pun orangan yang merasa komando nya di abaikan dalam diskusi kali ini.
"Kalian tidak menghawatirkan Sahan? teman macam apa kalian ini, mengumpankan nya"tegas Dirgan
"Ini bukan mengumpankan, tapi ini kesepakatan bersama. Jika memang Sahan merasa bisa, kami mendukung dan hanay perlu memastikan dia baik-baik saja, itu Fungsi nya teman dan tim"ucap Bayu
Dirgantara menyeringai, baru kali ini ia mendapatkan sanggahan untuk setiap keputusan nya, padahal Dirgan tidak pernah salah dan tidak pernah membuat orang rugi dalam keputusan nya.
"Benarkah? kamu bisa jamin dia aman?"tantang Dirgan.
"Menurutmu, selama ini yang menjaga Sahan dari banyak hal semisal Veri selama ini siapa?"saut Bayu tidak mau kalah
__ADS_1
"Tidak hanya Sahan, Ceristal dan juga Lisa. Meski aku dan Agus tidak memiliki kekuasaan, tapi kami tahu cara menjaga mereka, kau pikir akau tidak bisa menjauhkan kamu dengan Sahan bila kau menyakiti nya"lanjut Bayu
Ini time, dan menurut teman-teman Sahan, cara Dirgan membuat keputusan sendiri adalah hal yang menyebalkan. Ari menyeringai saat mendengarnya, karena baru pertama kali, ada orang yang berani menantang Dirgan di depan matanya.
Dirgan bahakan tidak berkutik selain mengeraskan rahang Karan ia terpojok oleh teman-teman sahan. Ia sudah beberapa kali membujuk Bayu dan Agus untuk ikut menjadi anak buahnya sewaktu kelas sepuluh dahulu. Namun mereka menolak keras hal itu.
"Mulai sekarang, operasi ini hanya milikku. Dan kau Ari akan mendapatkan kartu kuning sampai waktu yang belum di tentukan"jelas Dirgan. Ia bangkit meninggalkan time yang akan ia bentuk untuk mendekatkan diri dengan teman-teman Sahan namun berakhir tidak menyenangkan.
Bahakan mereka tercekat ketika Dirgan menutup pintu keras serta menyalakan motor untuk menjauh dari area yang membuatnya emosional.
"Yah begitulah, pertemuan ini sia-sia, kamu sekarang pengangguran"ucap Redi. Ia menepuk bahu Ari yang berdecak.
"Kartu kuning itu apa?" tanya Lisa
"Aku berhenti bertugas, memang seharusnya aku memikirkan ini sebelum mengutarakan nya"Ari menggosok hidung sebab ia baru memikirkan nya, seberapah besar efek yang ia terima bila mengumpan kan Sahan pada pria lain.
"Tapi kamu kan hanya mengutarakan pendapat?" sahut Ceristal
"Suara ku dan Redi berbeda dengan kalian, kami bukan hanya teman. Tapi juga rekan kerja, tentu saja keputusan kami tergantung padanya"jelas Ari
"Entahlah, aku juga tidak bisa membenarkan yang ini, Dirgan masih muda. Serta masih banyak hal yang harus ia tanggung. Aku pun bisa menjadi gila kalau ada di posisi dia. Bisa kupahami kenapa dia emosional, jamuan intinya, diskusi ini bukan hanya mencari tahu tentang intan, Dirgan tentunya bisa melakukan ini tanpa kalian.
Namun, dia tetap mempertimbangkan keadaan kalian yang juga sedang menguak hal ini. Karena ia ingin dekat dengan temen-temen Sahan"jelas Ari
"Yap, bener sekali, Dirgan tidak pernah mempertimbangkan siapapun terkecuali jika dia memang ingin bersama orang tersebut"tambah Redi. Sebagai orang yang selalu dengan Dirgan, mereka bisa tahu gerak gerik manusia yang terkadang mengambil keputusan aneh dan berbelit hanya untuk menutupi keinginan dirinya sendiri.
"Bagai manapun, diskusi nya sudah di batalkan, terimakasih sudah menyempatkan datang" ucap Redi. Ia pun akhirnya beranjak bangkit serta akan mulai diskusi dengan wakil dari time Ari karena temannya akan menjadi pengangguran untuk sementara waktu.
Begitupun Ari yang memperlihatkan teman-teman Sahan secara bergantian, mereka hanya membawa masing-masing satu motor.
"Mau aku anter pulang Sahan?"tawar Ari
"Aku ingin ketemu dengan Dirgan, namun aku mau bicara dulu sama teman-teman aku" ucap Sahan. Ari mengangguk kemudian ia beranjak bangkit serta akan menunggu Sahan di luar dan memberikan waktu mereka berbicara.
__ADS_1
Temen-teman Sahan, tidak ada yang bicara, mereka langsung menyanggah Dirgan karena mereka tidak menyukai sikap pria tersebut tanpa mempertimbangkan atau mencoba untuk mendengar kan lebih lanjut.
"Terimakasih untuk yang tadi"ucap Sahan
"Aku menyesali nya"sahut Bayu
"Kita kan engga tahu Dirgan mempunyai magsud lain"Sahut Agus tidak pernah berpikir olehnya, Dirgan ingin mendekati mereka ingin menjadi jauh lebih akrab.
"Tapi, mungkin ini akan menjadi sulit bila Dirgan melarangnya. Dia bisa saja menutup perpustakaan supaya Sahan tidak Deket dengan Ruli"lontar Ceristal
"Em, temen-temen...... sebenarnya, ada satu orang lagi yang perlu kita ajak untuk menyelidiki ini"timpal Lisa. Setidaknya, Degun tidak boleh menyelidiki ini sendirian, Lisa juga tidak paham dengan motif Degun tiba-tiba ingin ikut campur masalah sekolah. Mereka harus mengawasi ank baru tersebut.
"Dia anak baru? tapi kenapa mau terlibat dalam masalah?" tanya Bayu
"Itu mungkin yang perlu kita cari tahu, ***sikap nya juga membuat aku sedikit hawatir"ungkap Lisa. Degun pun terlalu intens ikut berkecimpung karna ia pun tidak Fokus dengan pelajaran yang harus ia kejar
"Kita bagi dua saja, satu tim mendekati Degun secara terang-terangan untuk pa yang akan di rencanakan menguak ke jahatn di sekolah, kemudian sisanya mengawasi di dari jauh, dan cari tahu motif ia itu apa"jelas Bayu.
Mereka pun mengangguk setuju, setidaknya mereka harus mencoba terlebih dahulu meskipun sulit, Jika memang tidak mampu melewati nya tanpa Dirgan, maka mereka harus tunduk sama keputusan pria tersebut.
Diskusi akhirnya membuahkan hasil meski hanya untuk teman-teman Sahan. Mereka membubarkan diri tempat jam tujuh malem, begitupun dengan Ari yang masih menunggu Sahan di luar. Pria ini tidak bisa menghubungi Dirgan serta tidak tahu Dirgan ada di mana.
"Dirgan tidak bisa di hubungi, lebih baik aku antar pulang kamu aja ya?" tawar Ari
"Aku tahu Dirgan di mana"Sahut Sahan. Untung saja ia sudah menghidupkan GPS aplikasi pelacak di henpon Diragan tadi siang. Pria ini mematikan nya Karan tidak ingin tahu Diragan pergi kemana saja.
Sahan kemudian membuka aplikasi nya kembali, menyerahkan ponselnya kepada Ari yang memeriksa titik keberadaan Dirgan sampai dirinya menghela nafas berat dan memberikan kembali henpon nya kepada Sahan.
"HM, tidak mau pake GPS?" tanya Sahan
"Aku tahu dia di mana" sahut Ari. Ia kemudian menyerahkan helem kepada Sahan yang melakukan tangan sebab teman-teman nya pergi terlebih dahulu
"Kemana?" tanya Sahan
__ADS_1
"keleb***"