
...🖤♥️🖤...
Aurora pulang sekolah,Amelia langsung menggiringnya masuk keruang makan untuk menunaikan makan siang bersama sama.Bocah perempuan itu menyalami Kakek dan Nenek buyutnya,kemudian duduk ditengah tengah antara mereka berdua.
"Bagaimana harimu disekolah tadi?"Tanya Domani.
"Hari ini menyebalkan sekali,Bu guru meminta kami untuk menghapal.Padahal aku paling tidak bisa menghapal,"ucap Aurora sambil memonyongkan bibirnya.
"Kamu sama seperti Papamu,dia juga paling tidak bisa menghapal.Selalu mendapat rangking dibawah sepuluh besar,tapi Kakek bersyukur dia masih bisa menjadi orang sukses,"kisah Domani.
Pria tua itu melirik kearah anaknya,wajah Megan merunduk karena menahan malu.Untuk apa dia menceritakan kekurangan putranya kepada anaknya sendiri?Tidak ada manfaatnya bukan?
"Dia itu Papaku yang keren,bukan cuma aku yang bangga memilikinya,negara ini juga bangga padanya,"celoteh Aurora.
"Jangan berlebihan memuji Papamu itu,nanti dia bisa melayang tinggi ke angkasa,"
"Kakek ini ada ada saja,Papa kan bukan pesawat.Mana bisa dia terbang melayang."Protes Aurora.
Seluruh orang yang mendengar hal itu tertawa,betapa lucunya kepolosan anak TK itu.Selain bisa menghibur orang lain,Aurora memang berbakat dalam menarik simpati dan perhatian orang lain.
Makan siang keluarga itu berlangsung dengan khidmat dan hangat.Obrolan obrolan kecil antara Domani dan Aurora mengiringi kegiatan itu sampai selesai.
*****
Domani menemani cucu perempuannya bermain boneka didepan tv,sementara Megan dan Neneknya hanya memantau dari jauh sambil meminum secangkir teh.
"Istrimu itu selain pandai mengurus rumah,ternyata juga pandai memasak ya!"Ucap rose.
"Iya.Masakannya enak lagi,teh dan kopi buatannya juga enak,"Sahut Megan.
"Apa dia juga pandai meladeni kamu?"Tanya Rose.
"Emhmmm...Soal itu,dia lebih pandai dariku,"celetuk Megan.Dia terpaksa harus menyembunyikan kenyataan yang terjadi agar sang nenek tidak khawatir padanya.
__ADS_1
"Ha...Ha...Ha...Kamu memang pandai memilih calon istri,"
"Aku tidak memilihnya,takdir saja yang mempertemukan kami."
Megan dan Rose tertawa bersama.Mereka terlihat bahagia,sama dengan Aurora dan Domani saat ini.
Waktu menunjukan pukul 13.00 WIB,sudah waktunya bagi Aurora untuk tidur siang.Amelia menghampiri Aurora dan memintanya masuk kedalam kamar.Gadis itu menolak,kecuali Kakeknya ikut tidur bersamanya.
"Kakek akan menemanimu,ayo kita pergi ke kamar,"ajak Domani.
"Tapi Papa juga harus ikut,"rengek Aurora.
"Baiklah,ajak dia juga,"
Aurora mengajak Papanya tidur siang bersama,mereka tiga benar benar terlihat kompak dan serasi.Pasangan anak,Papa dan Kakek itu masuk kedalam kamar Aurora bersama sama.
"Anakmu itu manja sekali ya,"Rose berjalan menghampiri Amelia pelan.
"Tentu saja dia mirip dengan Papanya,"
"Ah,iya.Nenek mungkin benar."
*****
Aurora tertidur,Megan dan Domani mengendap endap keluar dari kamar.Mereka kembali keruang tengah untuk berbincang ringan sambil menonton televisi.
Amelia menyuguhkan potongan buah dan keripik pisang diatas meja.Untuk camilan suami dan Ayah mertuanya.
"Amelia,apa kegiatanmu sehari hari setelah anakmu pergi ke sekolah?"Nyonya Rose membuka pembicaraan.
"Aku pergi ke laundry,membantu pegawai pegawai ku mengerjakan beberapa pekerjaan disana,"
"Kamu punya usaha laundry?"Rose sedikit terkejut.Begitu juga dengan Domani.
__ADS_1
"Iya,sudah ada beberapa cabang.Aku pernah mengajak Megan kesana,"
"Oh...Kamu ini memang benar paket komplit.Pintar memasak,Mengurus rumah,mengurus anak dan suami,juga pandai mencari uang,"puji Nenek rose.
Domani sedikit terkesan pada wanita yang pernah dia anggap remeh.Dibandingkan dengan wanita wanita yang mencoba mendekati Megan,Amelia memang terlihat lebih mandiri dan tulus.
"Amel,apa aku boleh mengajak Aurora pergi berlibur ke luar negri?Kamu juga boleh ikut kalau kamu mau,"tanya Domani.
"Dia sekolah,"
"Perginya nanti kalau dia libur sekolah,"
Amelia melirik kearah Megan,seolah sedang meminta persetujuan dari Papa anaknya itu.Mengan mengangguk,dengan berat hati Amelia harus memenuhi permintaan Domani.
"Baiklah,Ayah boleh mengajaknya pergi berlibur.Tapi jangan lama lama,"
"Iya,kamu tenang saja."Domani tertawa senang.
Pada pertemuan kali ini,Amelia merasa sikap dari Ayah Domani sedikit berbeda padanya.Tidak lagi kaku dan dingin seperti waktu itu.Mungkinkah hatinya yang beku seperti es batu itu telah mencair oleh tingkah menggemaskan cucunya?
Mungkin jika Amelia bisa melahirkan banyak cucu untuk Domani,pria tua itu akan mau menerimanya dan sayang padanya seperti anak kandung sendiri.
Tunggu dulu,kenapa Amelia tiba tiba terpikirkan untuk menambah jumlah anak?Sedangkan tidur satu ranjang dengan Megan saja dia merasa enggan.Jangan jangan dia sudah mulai tertarik pada Megan?
Amelia menggeleng gelengkan kepalanya,dia berusaha untuk menepis pikiran konyol yang menggelikan dan mulai bersarang di kepalanya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?Kenapa wajahmu terlihat merona seperti itu?"Goda Megan.
"Merona?"Amelia menyentuh kedua pipinya.Dia nampak panik dan terkejut.
"Aku hanya sedang bercanda saja kok,"Megan meringis.Amelia mencubit pinggang Megan karena kesal.
Bersambung...
__ADS_1