
...🖤♥️🖤...
Intan datang bersama calon suaminya,mereka berdua melempar senyum yang menyilaukan pandangan mata seorang Amelia.Tatapan mata sepasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara memang berbeda.
Amelia mempersilahkan kedua tamunya masuk kedalam rumah.Kemudian dia pergi ke dapur untuk mengambil makanan dan minuman ringan.
"Jadi ini calon suami kamu?"Tanya Amelia sambil menaruh makanan dan minuman diatas meja.
"Iya.Namanya Radit.Dia bekerja sebagai pegawai Bank di kota sebelah,"cerita Intan.
"Oh..Ya?Bagaimana caranya kalian bisa bertemu dan saling jatuh cinta?"Tanya Amelia.Dia terlihat begitu sangat penasaran.
"Kami bertemu di mall,dia sedang mencari hadiah ulangtahun untuk Ibunya,"
Begitu sederhana cara Tuhan mempertemukan hambanya dengan jodohnya.Terkadang manusianya sendiri yang membuat hal sederhana itu menjadi rumit dan sulit.
Seperti terlalu menuntut ini dan itu,ingin yang begini dan ingin yang begitu.Tapi dia tidak berkaca pada dirinya sendiri,layak kah dirinya untuk mendapatkan mahluk sempurna seperti yang sangat dia idam idamkan?
Amelia tiba tiba teringat pada mantan kekasihnya dulu,pria yang dia cintai dan ternyata menjadi selingkuhan dari Bibinya sendiri.Amelia begitu sangat memujanya,tidak mau kehilangan dia.Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain,hingga akhirnya dia bertemu dengan Megan pria asing yang menjadi suaminya kini.
"Setelah menikah,kamu masih mau menjadi tangan kananku di laundry bukan?"Amelia sedikit khawatir.
"Maaf,tapi sepertinya aku akan keluar dari pekerjaanku.Aku ingin fokus merawat rumah dan suamiku,"ucap intan dengan penuh kehati hatian.
Jujur saja,hati Amelia merasa hancur karena hal itu,bagaimanapun Intan telah menemaninya dari nol.Usahanya tanpa kehadiran Intan itu sama saja dengan kehilangan satu pondasi penting.Tapi,apa yang bisa Amelia lakukan?Dia tidak berhak mengatur hidup pegawai kesayangannya itu.
"Baiklah,aku akan terima semua keputusanmu itu.Semoga hidupmu dan suami untuk kedepannya sejahtera selalu,"dia Amelia.
"Amin,terimakasih ya!"
"Iya."
Amelia meminta intan dan calon suaminya untuk menunggu sebentar,dia pergi ke kamar untuk mengambil sejumlah uang dan memasukannya kedalam sebuah amplop berwarna coklat.Itu adalah uang terimakasih karena selama ini Intan sudah mau membantunya mengelola usahanya tanpa pamrih.
__ADS_1
Amelia menyodorkan amplop berisi uang kepada intan.
"Apa itu?"Intan bingung.
"Ini uang saku untuk kamu.Tidak banyak,tapi semoga bermanfaat,ambillah!"
"Ah,kamu tidak perlu melakukan itu,"Intan sedikit menolak.
"Aku akan marah jika kamu tidak mau menerimanya,"ancam Amelia.
Intan menatap calon suaminya,dia hanya mengangkat kedua alisnya ke atas tanpa bisa berbicara.
"Baiklah,aku akan menerimanya.Terimakasih banyak,"ucap Intan sambil menerima uang pemberian Amelia.Amelia menyunggingkan senyum senang.
*****
Amelia murung,dia terus memikirkan keadaan Laundry miliknya jika tidak ada Intan.Wanita itu sangat cekatan dan gesit dalam segala jenis pekerjaan,tidak ada yang bisa menggantikan posisinya di laundry itu.
"Kamu kenapa?Apa sedang ada masalah yang cukup serius?"Tanya Megan.
"Tadi intan dan calon suaminya ke sini,dia bilang dia mau keluar dari tempat kerja setelah menikah.Kepalaku pusing sekali,"tutur Amelia.
"Lepaskan saja Intan,kamu masih punya banyak pegawai lainya bukan?"
"Iya,tapi tidak ada yang cekatan seperti Intan,"
"Pasti ada.Kamu hanya perlu melatihnya saja,"
"Tapi,itu akan banyak menyita waktuku untuk bersama anakku,"Amel mengeluh.
"Kamu tenang saja,kan ada aku.Aku akan menjaga Aurora untuk sementara waktu agar kamu bisa melatih pegawai baru,"
Amel terdiam,Megan begitu perhatian padanya.Tapi dia masih saja sering menzalimi pria itu baik secara tidak sengaja atau tidak sengaja.
__ADS_1
Amelia,nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dusta kan?
Amelia menganggukkan kepalanya,tanda dia setuju dengan ide dari Megan.
Saat sedang serius seriusnya mengobrol,tiba tiba terdengar suara kaca pecah dihalaman rumah.
Pyakk....
Seseorang tak dikenal melempar batu berukuran lumayan besar hingga membuat kaca teras rumah Amelia dan Megan pecah berantakan.
Amelia dan Megan keluar rumah,mereka mencari sumber keributan itu.
"Ya...Tuhan!"Amelia kaget saat melihat puing puing kaca berserakan di teras rumahnya.
Tubuh Amelia sedikit gemetaran,dia ketakutan.Seseorang telah meneror tempat tinggalnya dan bisa mengancam keselamatan anggota keluarganya.
"Sial! Siapa manusia kurang ajar yang sudah berani meneror keluargaku?"Megan mendengus kesal.
"Apa kamu punya musuh?"Tanya Amelia.
"Tidak,"sahut Megan.
"Sebaiknya mulai besok kita pasang cctv,sekaligus memperkerjakan seorang petugas keamanan dirumah ini.Aku akan lapor polisi,"Amelia beranjak pergi dari teras tapi Megan menahannya.
"Tahan dulu,jangan buru buru lapor polisi!"Larang Megan.
"Loh,kenapa memangnya?Ini sudah masuk kategori tindakan kriminal,"
"Biar aku yang menyelidikinya sendiri,"
"Ya sudah kalau begitu,terserah kamu saja!"Amelia mendengus pasrah.
Bersambung...
__ADS_1