My Baby Aurora

My Baby Aurora
Setitik Kenangan Lama


__ADS_3

Pukul 06.15 menit mobil Ruben sudah terparkir dihalaman rumah Amelia.Hari ini dia ingin mengantar Aurora ke sekolahnya,sekalian minta dikenalkan dengan guru TK yang kata keponakannya sangat cantik itu.


Aurora terlihat senang melihat sang Om,dia langsung menghampiri pria itu dan menyapanya dengan senyuman hangat.


"Aku pikir Om tidak akan datang,"


"Kalau sudah berkaitan dengan wanita cantik,Om harus datang dong,"Ruben meringis.


"Dasar Om genit!"


Ruben membawa mobilnya membelah jalanan Ibu kota,pagi itu jalanan sangat macet.Wajar saja,karena bertepatan dengan jam orang orang masuk kerja.Tapi Ruben tidak merasa jenuh,karena Aurora terus mengoceh sepanjang jalan.


Setengah jam kemudian,mereka tiba didepan gerbang sekolah.Aurora turun dari mobil dan berlari menghampiri seorang perempuan.


"Bu Guru,ikut aku sebentar,"Aurora menarik tangan perempuan itu.


"Kita mau kemana?"Tanya wanita itu bingung.


Ruben turun dari mobilnya,dia berjalan menghampiri Aurora dan Guru kesayangannya.


"Bella,kamu Bella kan?"Tanya Ruben sambil memperhatikan wanita itu dari atas sampai bawah.


"Ruben?"


"Iya,aku Ruben.Kamu masih ingat dengan aku?"


"Tentu saja ingat,kamu murid paling nakal dikelas kita."


Rupanya,Ruben dan Bella saling kenal.Mereka teman satu kelas saat masih duduk di SMP.Keduanya pernah berpacaran,tapi terpaksa harus putus karena Bella harus ikut pindah orangtuanya ke luar kota.


Tidak disangka,setelah sekian lama mereka dipertemukan kembali.Bella kini jadi lebih langsing,putih dan cantik.Begitu juga dengan Ruben.Pria itu jadi jauh lebih tampan dan stylish.

__ADS_1


"Aku ingin mengobrol banyak denganmu,"ucap Ruben.


"Nanti saja pulang sekolah.Ngmong ngomong Aurora itu siapa kamu?"Tanya Bella.


"Dia keponakanku,"


"Aku pikir anakmu,kalian lumayan mirip.Boro boro anak,nikah saja belum,"


"Sama,aku juga menikah."


Bella menundukkan wajah malunya,sementara Ruben terus memandangi wajah cantik perempuan itu dengan tatapan terpesona.


"Nanti siang aku jemput Aurora lagi,kita makan siang bersama yuk.Mau tidak?"Ajak Ruben.


"Mau,"sahut Bella malu malu.


"Aku juga mau Om,"sambung Aurora.


*****


Sesuatu apa itu?Amelia mencoba menerka nerka didalam hatinya.


Domani memberikan Radja kepada Amelia,bayi kecil itu sudah tertidur pulas dalam dekapan sang Kakek.Pelukan orang tua memang selalu hangat,wajar kalau Radja merasa nyaman pada Kakeknya.


"Tadi Ruben kemari?Tumben sekali,"ucap Domani.


"Iya,aku saja bingung,"


"Apa guru Aurora ada yang masih lajang?Jangan jangan dia minta dikenalkan dengan salah satu guru disana,"tebak Domani asal.


"Memang Ruben belum punya pacar?"

__ADS_1


"Belum,dia tidak punya nyali untuk mendekati wanita.Badan saja besar,mentalnya mlempem,"


"Berbeda sekali dengan Megan."Celetuk Amelia lirih.


Domani tertawa mendengar Amelia membandingkan Megan dengan Ruben.Mereka jelas berbeda,yang satu tidak tau malu,yang satu lagi pemalu.Yang satu tidak tau diri,yang satu lagi kurang percaya diri.


"Kenapa ayah tertawa?Apa ada yang lucu?"Amelia menatap Ayah mertuanya lekat lekat.


"Tidak ada yang lucu kok,Ayah hanya sedang ingin tertawa saja,"


"Kenapa dia?Aneh sekali!"Gerutu amelia didalam hati.


*****


Siang hari,Ruben menjemput Aurora dan Bella.Mereka pergi makan siang ke sebuah restoran bintang lima.


"Kalian berdua sudah saling kenal,jadi aku tidak perlu mengenalkan lagi deh,"ucap Aurora.


"Memangnya siapa yang minta dikenalkan?"


"Om Ruben minta dikenalkan dengan guru muda dan cantik disekolah Aurora Bu.Tadinya aku mau mengenalkannya pada Ibu,"Aurora meringis.


"Sayang,jangan jujur jujur kalau bicara.Om jadi malu,"ucap Ruben lirih.


"Kenapa harus malu?Memang Om melakukan kesalahan?Meminta dicarikan jodoh oleh saudara sendiri kan hal yang wajar,"ceplos Aurora.


Pipi Ruben memerah,melihat hal itu Bella tidak bisa menahan tawa gelinya.


"Maaf ya,keponakanku memang lemes mulutnya,"ucap Ruben sambil menggaruk garuk kepalanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2