
...🖤♥️🖤...
Megan menepati janjinya,dia datang kerumah Amelia membawa serta perwakilan dari keluarganya.Yaitu Ayah,Nenek dan adik laki lakinya.Meski canggung,Amelia menyambut kedatangan mereka dengan baik dan ramah.Amel sangat ingin memberikan kesan pertama yang baik dimata mereka.
Rose Nenek dari Megan,mengamati Amelia dari bawan sampai atas.Tiap detil tubuh Amel tidak luput dari pandangan matanya.
"Kamu terlihat masih sangat muda dan cantik,"puji Nenek Megan.Amel hanya membalasnya dengan senyum kecil.
"Bagaimana ceritanya kalian bisa saling kenal?"Tanya Ruben adik laki laki Megan yang umurnya terpaut beberapa tahun saja dari Megan.
"Kami bertemu di pulau Bali beberapa tahun lalu,"sahut Amelia grogi.
"Meski sudah berumur,Megan masih bujang.Sebenarnya saya kurang setuju kalau Megan mendapatkan janda beranak satu seperti kamu,diluar sana perawan saja masih banyak!"Domani menunjukan sikap tidak sukanya kepada Amelia.
"Maaf Pak,tapi saya bukan janda beranak satu.Aku seorang wanita singgel yang ditiduri secara paksa oleh putra Bapak hingga aku hamil dan melahirkan seorang anak,"tegas Amel.Dia merasa tersinggung dengan ucapan Ayah Megan.
"Maksudnya,Kakakku memp*rkosa kamu?"Ruben menatap Amelia penuh selidik.Dia seolah tidak percaya dengan pengakuan wanita yang tengah duduk di hadapannya.
"Mana mungkin putraku yang berpendidikan melakukan tindakan tidak bermoral seperti itu! Jangan fitnah kamu!"Domani naik darah.Dia tidak terima putranya disebut sebagai seorang p*merkosa.
"Aurora,cepat kemari nak,"teriak Amelia memanggil putrinya yang sedang asyik bermain dengan Intan.
Anak perempuan itu langsung menghampiri Amelia,dia memeluk Amel dan bergelayut manja di lengan Mamanya itu.
Rambut pirang,mata biru,kulit kuning langsat.Mata lebar,hidung mancung dan bibir tipis itu benar benar mirip dengan Megan.Aurora dan Megan seperti pinang dibelah oleh kapak,tidak ada beda antara keduanya kecuali jenis kelamin dan usia mereka.
"Di...Dia..."Domani terbata bata.
__ADS_1
"Lihat kesamaan anak ini dan anak anda Pak?Bukankah dia sudah cukup menjadi bukti kalau omongan saya itu benar?"Desak Amelia.
Nenek Megan menangis,dia terkenang pada putrinya alias Ibu dari Megan yang sudah meninggal.
"Ikatan darah memang tidak bisa berbohong,selain mirip dengan Megan,anak itu juga sangat mirip dengan mendiang Ibu Megan,"celoteh Rose sambil menyeka air matanya.
"Nenek benar,anak itu benar benar mirip dengan mendiang Ibu,"sambung Ruben.
"Sudahlah,jangan berdebat lagi.Lima tahun lalu seseorang menjebak ku dengan obat p*rangsang,aku secara fisik sadar telah m*mperkosa Amelia hingga akhirnya hamil.Aurora adalah putriku,"Megan membuka suara dan mengakui kesalahannya.
"Ayah,dia cucu kandungmu.Terimalah dia dengan baik,biarkan Kakak menikah dengan wanita itu,"pinta Ruben.
"Baiklah,aku akan menikahkan mereka berdua minggu depan."Ucap Domani lantang.
Aurora mendekati Domani,anak itu menatap sang Kakek dengan tatapan polos.
Mendengar hal itu,Megan,Ruben dan rose tertawa terbahak bahak.Selama ini Domani memang hanya memperhatikan kesehatan kulit dan tubuhnya saja,dia tidak terlalu peduli dengan uban dan rambutnya yang sedikit panjang juga acak acakan.
"Aku sudah pernah bilang padamu,rawatlah rambutmu juga dengan baik.Meskipun kulitmu dirawat agar tidak keriput,uban di rambutmu itu tetap bisa berbicara,"sindir Rose.
*****
Megan dan keluarganya pulang dari rumah Amelia.Intan keluar dari dalam,dia kepo ingin tau keputusan dari pertemuan Amelia dan keluarga calon suaminya.
"Jadi,bagaimana hasilnya?"Tanya Intan.
"Kami akan menikah minggu depan,"kisah Amelia.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu.Apa tempat acaranya sudah ditentukan?Siapa saja yang ingin kalian undang?"Tanya Intan bertubi tubi.
"Besok Megan akan datang kesini lagi untuk membahas masalah itu denganku.Lain kali jika keluarga mereka datang,keluar dan temani aku mengobrol dengan mereka,"pinta Amel pada temannya itu.
"Tidak mau,aku malu!"Intan meringis.Dia menunjukan deretan gigi giginya yang dipagar.
"Ngomong ngomong setelah menikah apa kamu akan tinggal dengan mereka?"Lanjut Intan.
"Bisa jadi begitu,"Amel menaikan kedua bahunya ke atas.
"Lalu rumah ini?"
"Kan ada kamu,"Amelia tersenyum.
Aurora berlari menghampiri Mama dan Tante Intan yang sedang asyik mengobrol diruang tv.
"Mama dan Om Megan akan menikah,jadi mulai besok aku harus memanggilnya dengan sebutan Papa?"Tanya Aurora dengan gaya bicaranya yang khas.
"Iya,panggil dia Papa,"
"Aku senang punya Papa baik dan perhatian seperti Om Megan,terlebih dia tampan dan mapan.Aku bisa membanggakan dia pada teman temanku di sekolah,"celetuk bocah itu tanpa ekspresi rasa bersalah.
Amelia dan Intan dibuat terkaget kaget olehnya.
"Astaga anakmu itu,mirip siapa sifatnya?"Celoteh Intan.
"Sifatnya sangat mirip dengan Kakeknya,benar benar membuatku pusing kepala!"Gerutu Amel lirih.
__ADS_1
Bersambung...